Kembali Tuk Balas Dendam

Sequoia Tom
Chapter #10

Pria dengan Jas Hujan Hitam

  Saham perusahaan milik Rendi jatuh drastis. Berita yang menggemparkan itu membuat ia segera melakukan rapat dadakan.

  Para pemegang saham tentu meminta penjelasan kepada Rendi dan solusi atas masalah ini. Mereka pastinya tidak mau rugi.

  "Pak Rendi, kami butuh penjelasan yang masuk akal," ucap Andra, wajahnya begitu masam.

  "Masalah ini sudah diketahui publik. Harga saham terus turun. Kalau begini terus, kami bisa rugi," lanjut Baskara, wajahnya juga tidak kalah masamnya.

  Rendi berusaha tenang. Ia mendengarkan semua keluhan para pemegang saham, meskipun rasanya ia ingin menghancurkan ruang rapat untuk melampiaskan amarahnya.

  "Sebelumnya, Anda menjamin tidak akan ada masalah dengan proyek ini. Lihat ... mereka berani menggelapkan uang perusahaan," teriak Reza, suaranya sedikit tertahan.

  Setiap keluhan dari pemegang saham, Rendi tidak membantah. Ia tidak mau berdebat dan membuat masalah semakin parah.

  Hal pertama yang ia lakukan adalah menenangkan mereka, menjanjikan bahwa mereka tidak akan mengalami kerugian sedikit pun.

  "Masalah sedang saya usut," jawab Rendi. "Setelah semua selesai, saya akan memberikan penjelasan yang masuk akal."

  Para pemegang saham itu segera bubar, meninggalkan Rendi bersama asisten pribadinya, Vano Anggara.

  Rendi memijat pelipisnya, kepalanya terus berdenyut sejak ia mendapat berita yang menghebohkan itu.

  "Vano," suaranya pelan. "Sudah tahu siapa yang menyebarkan berita itu?"

  "Ma-maaf, Pak," jawab Vano gugup, ia menyeka keringat di keningnya yang mulai basah.

  Jawaban Vano sukses membuat amarah Rendi meledak. Ia berdiri dan langsung saja meraih kerah Vano, matanya berkilat tajam.

  "Kamu pikir, maafmu itu bisa menyelesaikan masalah ini, begitu? Bodoh!" umpat Rendi dengan rahang yang mengeras.

  Vano tidak menjawab. Tubuhnya mulai gemetaran saat melihat wajah atasannya begitu menakutkan.

  Dengan kasar, Rendi melepaskan kerah kemeja Vano membuat asistennya itu terhuyung ke samping.

  Matanya menatap bengis Vano yang tertunduk, diam tanpa berani menyahut atau menyela.

  Dalam sekali pukul, Vano langsung jatuh ke lantai. Punggungnya terbentur sudut meja yang tajam. Darah keluar dari sudut bibirnya. Buru-buru, ia menyekanya sambil meringis menahan sakit dan perih.

  "Temukan keparat itu secepatnya," desis Rendi.

Lihat selengkapnya