Kembang Asa

tehdanjahe
Chapter #1

Bagian 1

Rani tidak menyangka dia akan ikut ke rumah tua ibunya.

Mereka berangkat pagi sekali dari Denpasar ke bagian utara pulau. Dikemudikan oleh ibunya, mobil mereka melaju melewati ruko yang berjejer sepanjang bypass, berganti menjadi area persawahan begitu mereka memasuki daerah utara Tabanan, kemudian berganti lagi menjadi lautan begitu mereka sampai di daerah pesisir pantai. Tidak sering Rani berjalan-jalan ke daerah barat Bali, biasanya dia hanya berputar-putar di Badung atau mentok, kalau ingin pemandangan hijau, pergi ke daerah sekitar Gunung Batur. Jadi, perempuan itu memutuskan untuk tidak menghabiskan seluruh perjalanan dengan tidur melainkan menikmati pemandangan. Truk-truk angkutan menuju pelabuhan disalip ibunya seperti sedang balapan, tidak apa, jalan itu juga tidak sepadat Jalan di kota. Begitu matahari terbit sepenuhnya, mereka sudah sampai di pesisir pantai dan melihat air laut mulai berubah biru dari yang tadinya gelap.

Mobil mereka berhenti di tugu perbatasan sebelum melaju ke timur, ke jalan lebih kecil yang menanjak ke daerah perbukitan. Pemandangan pun kembali berubah, dari restoran atau warung makan besar yang biasanya ramai oleh rombongan transit menjadi warung pinggir jalan kecil, toserba, atau warung penjual ayam potong atau sayur-sayuran. Rani mengamati bagaimana orang-orang mulai beraktivitas: anak SD dengan seragam rapi dan rambut dikepang dua naik ke motor yang dikendarai ibunya, kumpulan anak SMP berjalan di pinggir jalan, ibu-ibu yang meladeni pembeli di warung mereka, hingga kakek yang hendak pergi ke ladang untuk memberi makan babi. 

Letak rumah-rumah mulai merenggang begitu mereka melewati ucapan selamat datang Desa Marpuhan. Dibacanya Marpuan. Desa itu terletak di punggung Bukit Marpuhan yang dinamakan berdasarkan pohon yang menjadi ladang uang mayoritas masyarakatnya. Pohon Marpuhan menghasilkan serat yang dipanen dan biasanya diolah menjadi hasil akhir berupa kapas reusable yang dipakai oleh influencer peduli lingkungan.

Rani dijelaskan oleh ibunya tentang bagaimana desa masa kecilnya itu sudah banyak berubah seiring bergantinya zaman. “Dulu, Ra. Di sini hanya hutan belantara, belum ada pabrik-pabrik seperti ini. Biasanya, anak-anak SD akan bermain di sungai sepulang sekolah sambil menangkap ikan lalu ikan-ikannya dibawa pulang untuk digoreng oleh ibu mereka. Tapi, itu dulu, sekarang jangankan ikan,” kata ibunya sambil menyetir mobil mereka menanjak jalan curam perbukitan.

Sudah dua pabrik serat marpuhan mereka lewati, keduanya sama-sama terbangun di lereng bukit dan bertingkat hingga ke bagian paling dasar jurang. Truk angkutan terparkir di depan pabrik, yang tidak terparkir berarti merupakan truk yang mengikuti mereka dari belakang dengan jalan yang sangat lambat karena mengangkut berkilo-kilo serat marpuhan mentah, belum diolah.

Hanya ladang-ladang di bawah yang dijadikan budidaya pohon marpuhan; setelah menanjak ke atas, letak rumah mulai jarang-jarang dan mereka mulai dikelilingi oleh kebun-kebun warga. Udara pun semakin dingin yang membuat mereka mematikan AC dan menurunkan kaca mobil untuk menikmati udara segar minim polusi.

Butuh waktu sekitar 20 menit menaiki jalan bukit yang curam hingga mereka melewati kantor desa yang sepi dan sunyi; di depan plang kantor desa tersebut ada satu motor jadul bergigi yang terparkir dengan kunci motor yang masih berada di lubang kunci. Sementara itu, di samping kanan mereka adalah jurang tinggi yang membuat adrenalin pengendara saat berbelok di tikungan curam mencuat. Kecepatan membelokkan setir dan menginjak rem adalah antara hidup dan mati, ditambah lagi belum ada pembatas antara tebing dengan jurang yang dalam itu.

Di antara pepohonan di sepanjang jalan, kalau mata kalian jeli untuk melihat, ada kubu yang dibangun oleh pemilik kebun untuk beristirahat sambil minum kopi dan makan buah-buahan hasil panen.

Semakin mereka menanjak, semakin Rani merasa terpencil …. Rumah semakin jarang, kebun-kebun sudah berganti menjadi hutan belantara. Tidak ada lagi motor yang nangkring di badan jalan sementara pemiliknya turun ke kebun ataupun sekadar keberadaan seorang kakek tua dengan arit berjalan sambil memerhatikan mereka lamat-lamat, hingga kepalanya ikut berputar seiring mobil berjalan.

Semakin sepi … semakin ngeri ….

Namun, tidak lama kemudian, akhirnya mereka sampai juga di tempat tujuan. Setelah berbelok dari jalan utama yang seharusnya mengarahkan mereka ke sebuah pura luhur yang berada di puncak bukit, mereka dibawa masuk melalui jalan kecil ke dalam hutan hingga tiba di depan gerbang merah tua. Mobil pun berhenti dan ibunya turun.

Udara dingin langsung menyambut Rani begitu ia ikut turun dari mobil, berbeda sekali dengan panas yang menyengat di Denpasar. Ia pun langsung mengenakan jaket tebal yang disimpannya di kursi belakang mobil lalu mengikuti ibunya ke depan gerbang merah tua. Di sebelah gerbang merah tua tersebut, ada pagar yang dijalari tumbuhan menjalar hingga mustahil untuk melihat pekarangan rumah.

Ibunya memanggil-manggil nama seseorang: Ibu Jero. 

 

Tidak lama, muncul suara besi beradu dengan besi lain sebelum gerbang merah tua itu terbuka dan menampakkan seorang perempuan berumur 70 tahunan yang dipanggil ibunya dengan sebutan Ibu Jero tadi. Perempuan tersebut menggunakan celana pendek selutut yang longgar dan baju motif burung yang necis.

“Candra,” sapa perempuan tua itu nyaris tanpa antusiasme. Kemudian, ia melihat Rani sekilas. Rani langsung tersenyum yang tidak dibalas oleh perempuan tua itu.

“Bu,” sapa Candra dengan semangat yang sama.

Gelambir kulit lengannya terlihat ketika ia mendorong gerbang lebih lebar agar mobil mereka dapat masuk ke dalam; perempuan itu melihat Rani yang tidak sigap untuk membantunya membuka gerbang, melainkan hanya berdiri saja menyaksikan perempuan tua itu seperti patung. 

“Eh, kok diam saja?” tanya perempuan yang bernama kelahiran Ratna itu.“Ayo, bantu dorong. Eh! Sampai harus disuruh dulu, ya?” katanya penuh sinisme.

Jengkel perempuan tua itu bercampur dengan kecewa, seolah-olah dari interaksi singkat mereka itu ia dapat langsung menyimpulkan bahwa Rani, cucu yang bukan cucu sambungnya, adalah seorang pemalas yang tidak punya inisiatif. Tidak ada yang lebih jelek dan merusak pemandangan daripada seorang gadis yang pemalas, bisanya hanya berdiri seperti patung dan tidak akan bergerak sampai menerima arahan. Ratna tidak menyukai gadis seperti itu, dan begitulah Ratna memandang Rani pertama kali mereka bertemu. Bagaikan cermin, Rani pun tidak menyukai perempuan tua itu. 

Tidak ramah, pikir Rani dengan wajah masam.

Lihat selengkapnya