Rani tidak mengerti kenapa ibunya menginginkannya tidur di kamar tamu yang lebih mirip gudang dibandingkan salah satu dari banyak kamar lama yang rasanya lebih layak.
Sayangnya, Rani juga tidak mempunyai hak bicara dalam penentuan kamar tidur karena ia hanya duduk menyimak sambil minum teh dan biskuit yang disuguhkan oleh Bu Ming saat ibunya mewakilkan dirinya terlebih dahulu. “Nanti, kasih Rara tidur di kamar tamu saja.”
Bu Ming hanya menganggukkan kepala sementara Ratna terlihat skeptis. Perempuan itulah yang mengetahui segala sudut rumah dan ia tahu kalau kamar tamu itu lebih pantas disebut gudang karena selama ini lebih banyak digunakan menyimpan perabotan tidak terpakai dibandingkan menampung tamu. “Yakin, mau di sana?”
“Ya,” jawab Candra, mewakili Rani yang kemudian mengangguk saja.
“Coba kamu lihat dulu,” kata Ratna kepada Rani. Perempuan itu menyerahkan beberapa kunci yang diikat menjadi satu dan menunjukkan kunci untuk membuka kamar tamu. “Suruh Koming antar. Sana, Ming.”
Setelah pintu reot termakan lapuk pembawa kecurigaan itu terbuka, Rani langsung mengerutkan dahinya. Kamar sempit, tidak ada seluas 3x3, itu diisi oleh dipan reot dengan sprei bunga-bunga berlapis debu setebal ruas jari. Lemari besar memenuhi sisa ruang di kamar itu, di dalamnya ada segala jenis perabotan, mulai dari piring hingga buku. Rani langsung mengeluh kepada Bu Ming yang awalnya masih berusaha membersihkan ruangan itu, tetapi menyerah begitu tangannya mengelap permukaan meja yang debunya juga setebal ruas jari.