Kembang Asa

tehdanjahe
Chapter #3

Bagian 3

Seseorang berjalan dari belakang rumah ke arah selatan. Ia terlihat tak bersemangat dalam setiap langkahnya, segan memang, tetapi kucing-kucingnya perlu diberi makan. Kala sudah diberitahukan mengenai kedatangan satu sanak saudaranya ke rumah selama beberapa hari untuk menghadiri upacara piodalan di merajan mereka. Piodalan itu dilakukan enam bulan sekali, artinya dua kali setahun, dan baru kali ini sepupunya itu datang, tiada angin tiada hujan, ke rumah mereka dengan kedok menghadiri upacara yang sudah ia lewatkan tanpa kabar bertahun-tahun. Kala dibuat skeptis, tetapi bukannya ia bisa melakukan apa-apa, bukanlah haknya untuk melarang sepupunya itu pulang ke rumah tuanya sendiri.

Ketika melihat dua sosok tidak familiar duduk di meja dapur, Kala dibuat memelankan langkahnya sambil bertanya-tanya: siapakah perempuan muda yang ia tidak kenali itu? Ibunya tidak memberitahukan tentang kehadiran orang lain selain Candra. Ia menajamkan matanya untuk melihat lebih jelas, kemudian ia sadari bahwa wajah perempuan itu mirip dengan wajah Candra. Ingatan tentang seorang bayi yang tidur lelap di dalam crib melintas di kepalanya, tetapi ia tidak bisa mengingat nama bayi yang pernah ia kunjungi upacara tiga bulanannya itu. Bayi perempuan, anak Candra, pikir Kala.

Ia tidak berprasangka macam-macam kepada perempuan itu. Malahan, Kala merasa diberikan sedikit harapan untuk mengisi kesepian yang ia rasakan di hidupnya akhir-akhir ini. Anak sepupunya itu bisa menjadi sekadar teman bicaranya kalau terbukti buah jatuh jauh dari pohon, kalau ternyata anak itu sama saja dengan induknya maka dia lebih memilih menghindari mereka berdua.

Suara kucing mengeong mengalihkan perhatiannya. Kucing putih bernama Putih. Putih itu duduk di depan pintu kamar yang terbuka, memperlihatkan baju berserakan di atas kasur dan beberapa digantung di punggung kursi rias. Melihat pintu kamar itu terbuka lagi membuat napas Kala tercekat.

Ia berjalan mendekati tiga orang yang menikmati kudapan siang kemudian disapa oleh Ibu Rani dengan ramah. 

Kala melirik tiga perempuan itu dengan wajah datar. Perhatiannya tertuju pada Rani yang melayangkan senyuman dengan ragu-ragu. Tatapan perempuan itu menyatakan ‘oh, ini ia orangnya’ sementara wajah Kala hanya masam.

“Ini Kala. Kamu baru pertama kali bertemu, ya? Kala. Ini Rani, anak Ayu Candra.”

Melihat kepolosan di mata Rani membuat Kala mengurungkan niatnya untuk memulai interaksi dengan drama yang tidak perlu. Laki-laki itu akhirnya membalas senyuman Rani walaupun hanya secepat jarum metronom berganti. “Nah ini, pemilik dari kucing-kucing yang kamu tanyai tadi!”

“Ah,” Rani tersenyum lebih lebar. “Halo.”

Kala hanya membalas dengan anggukan singkat lalu mengambil enam piring plastik yang disenderkan ke tiang balai. Setelah itu, ia memasak enam ikan layang dan meletakkannya satu-satu di atas piring plastik. Minyak panas mendidih begitu Kala memasukkan enam ikan layang ke dalam wajan; mencium bau ikan goreng membuat empat kucing lain bermunculan dari segala penjuru.

Sementara itu, Ratna meminta Rani untuk tidak menghiraukan Kala: “dia memang begitu, tidak ramah dengan orang yang baru dikenal.” Rani tidak mengindahkan perkataan Ratna, matanya tertuju ke arah kucing-kucing yang duduk dengan sabar di depan pintu dapur. Melihat paman bukan sambungnya pertama kali membuat Rani terpukau. Di balik matanya yang menatap jengkel, ada kesenduan yang membuat Rani terpikat. Sebuah tragedi atau kesepian yang bisa membuat seseorang memiliki tatapan seperti segan hidup itu, ada apa? Namun, di bawah kenestapaan itu, pamannya masih memiliki kekuatan untuk marah, amarah yang besar hingga bicara saja rasanya memuakkan kepada dua perempuan di sebelahnya. Orang seperti itu cintanya paling besar! Ia bisa mencintai seseorang lebih dibandingkan dirinya sendiri, hingga ia tidak bisa membedakan antara dirinya dengan orang tersebut, seolah-olah mereka melebur menjadi satu. Ah, Rani ingin mengenalnya!

Sementara itu, Candra menolak memberikan laki-laki itu perhatian lebih. Ia menyuruh Ratna kembali membahas acara ngaben seorang warga desa yang tadi terpotong karena kehadiran Kala. 

“Masak kamu tidak ingat? Pak De yang dulu sering ke sini membawa makanan burung itu, kalau ia datang kamu biasanya dipanggil ‘Gek Cantik’. Teman dekat dengan ayahmu dulu, sering main kartu kalau ada acara apa,”

“Kenapa bisa meninggal?”

“Penyakit gula. Yah, kasihan memang. Padahal, dulu ia aktif kalau ada acara apa ia akan ikut, tapi sejak kena penyakit gula itu ia menjadi diam terus di rumah—tidak bisa ke mana-mana, dirawat istrinya saja karena semua anaknya sudah pergi merantau ,” Ratna menggelengkan kepala, “tapi, memang sejak dulu ia punya riwayat penyakit gula. Terakhir, saat ada pengecekan gula gratis untuk lansia di bale banjar, ia gulanya paling tinggi, tetapi bengkung memang, katanya, (tetap saja makan yang manis-manis).”

“Eh. Kasihan sekali,” Candra mengatakan sambil berusaha membawa ke permukaan wajah Pak De yang sudah ia lupakan, bahkan tidak ingat seseorang pernah memanggilnya ‘Gek Cantik’ dulu. “Kapan ngaben-nya?”

“Belum tahu. Baru saja meninggal. Masih dicari tanggal baiknya.”

“Memang, gula itu buruk untuk kesehatan. Ibu sudah jarang makan gula?”

“Sudah, sudah. Saya sudah suruh si Koming agar kalau membuatkan teh itu jangan diisi gula. Biasanya orang itu isi gula sesendok dua sendok, ingin saya cepat mati mungkin dia–”

Ketika Kala keluar dari dapur dan meletakkan piring-piring di depan dapur, semua perhatian kembali tertuju kepadanya. Laki-laki itu seperti rahasia umum, semua orang tahu tetapi tidak untuk disebutkan keras-keras. Kehadiran si Rahasia Umum membuat ruang yang tadinya dipenuhi gelak tawa menjadi canggung. Namun, si Rahasia Umum tidak peduli, ia asyik dengan urusannya sendiri.

Candra tidak ingin hanyut oleh kecanggungan. Ia pun berbasa-basi, “sejak kapan kamu suka memelihara kucing?” tanyanya dengan campuran bahasa Bali dan bahasa Indonesia.

“Sejak lama,” jawabnya cepat, penuh kesal.

“Siapa namanya yang manis ini?” tanya Candra, berusaha mengusap kepala seekor kucing jingga yang langsung menunjukkan taringnya, menegakkan ekornya, dan mendesis. Ibu Rani langsung menarik tangannya.

“Ah. Galak sekali—”

Ketika kucing itu sudah kembali tenang, Ibu Rani mencoba sekali lagi yang disambut dengan reaksi yang sama.

Lihat selengkapnya