Cicak cicak di dinding, diam-diam … buang kotoran di gelasnya.
Pagi itu terasa lebih dingin dari sebelumnya. Rani bangun dengan keadaan menggigil, ia terbiasa dengan panas di kota dan AC yang paling dingin ia setel ke 29 derajat celcius. Suhu di Marpuhan pagi itu bisa sampai 18 derajat celcius. Rani pun mengeratkan selimut yang membungkus badannya lalu mengambil gelas keramik yang ia letakkan di atas meja. Matanya tertutup, ia menguap. Selain terbiasa dengan panas, Rani juga terbiasa meminum air begitu bangun tidur. Tanpa curiga, perempuan itu meneguk air di dalam gelas hingga ia merasakan sesuatu yang aneh.
Rani merasa ia meneguk sesuatu yang keras. Perempuan itu langsung melihat bulat-bulat hitam dengan ujung putih di dalam gelasnya. Hoek! Rani meletakkan gelas di atas meja lagi lalu berjalan ke arah kamar mandi yang berada di luar kamar, di belakang rumah.
Hoek!
Ia berusaha memuntahkan tahi cicak yang sudah tertelan. Hasilnya, sia-sia. Perempuan itu akhirnya berhenti di depan wastafel dan mencuci menggosok mulutnya dengan air. Sialan! Rani mengumpat dalam hati. Tidak tanggung-tanggung, ia melihat hampir 5 butir tahi cicak di dalam gelasnya, belum termasuk beberapa yang sudah tertelan. Rani merinding!
“Kenapa itu, Ning?” tanya Ratna dari luar kamarnya. Perempuan itu baru saja selesai melakukan persembahyangan pagi ketika ia melihat Rani berlari keluar dari kamar sambil mual-mual.
“Gak apa, gak apa!”
Dengan mata merah berkaca-kaca, Rani melihat ke cermin di depannya. Melalui pantulan cermin, ia melihat jalan setapak yang mengarah ke dua bangunan yang menghadap ke utara hingga seseorang yang berdiri dari tempatnya hanya dapat melihat dua tembok krem dengan genteng merah di belakang tanaman pisang hias. Rani menduga di sanalah Kala tidur, di dua bangunan itu.
Perempuan itu menghapus jejak air matanya lalu menoleh ke belakang. Satu bangunan ternyata menghadap ke timur, terasnya dapat terlihat. Bangunan biasa, ternyata. Dua anak tangga menghubungkan lantai dengan tanah, di temboknya menempel meja panjang yang kosong dan nampak berdebu. Rani kemarin ingin ke sana, tetapi ia mengurungkan niatnya karena merasa tempat itu terpisah dari bagian rumah lain … seperti menyimpan rahasia. Rani segan, apalagi kalau ternyata Kala tidak ingin seseorang datang ke sana seenaknya.
Setelah selesai menggosok mulutnya dengan sia-sia, Rani pergi ke kamarnya lagi. Cicak-cicak itu tidak terlihat, mungkin bersembunyi. Rani melihat ke langit-langit kamar yang mengerucut. Apakah atap di atas meja tidurnya dianggap toilet bagi kumpulan cicak-cicak yang menghuni kamarnya? Rani masih tidak menyangka. Perempuan itu membuang air dengan tahi cicak ke sebuah pot bunga lalu ke dapur untuk mengambil air baru.
Setelah interaksi yang memantik api di dalam hatinya, ia menjadi semakin dekat dengan Kala. Laki-laki itu terlihat tidak masalah, malah ikut memanggil Rani agar menemaninya sekadar duduk-duduk di gazebo lalu mereka akan mengobrol atau hanya diam dan merasakan sepoi angin membawa aroma daun-daunan kering. Rani suka berada di sebelahnya, berlindung dari sinar matahari; Kala senang memakai kacamata hitam ketika ia rasa menutup mata tidak cukup untuk menghalau sinar terik matahari.
Rani dengan kikuknya masih tidak tahu panggilan yang tepat untuk Kala, hingga akhirnya ia memutuskan memanggilnya dengan nama saja, “Kala”, karena ia tidak ingin merasa segan memanggil laki-laki itu dengan embel-embel “Bli” atau “Pak”, atau “Om”. Dengan kikuknya, ia menghindari menyebut nama laki-laki itu, berputar-putar menyusun kalimat tanpa menggunakan kata pengganti atau yang mengharuskan menyebut nama.