Begitu sore tiba, rumah yang tadinya sepi itu dipenuhi oleh sanak saudara yang berdatangan.
Seorang perempuan dengan kebaya putih dan kamben cokelat adalah orang pertama yang datang ke rumah mereka, ia ditemani oleh seorang laki-laki berkumis dan jenggot putih. Mereka membawa sok yang langsung diletakkan oleh si perempuan di antara sok milik Ratna dan ibunya. Sok itu berisi buah-buahan tropis seperti pisang, jeruk, dan mangga, dan makanan ringan yang bisa dibeli di warung pinggir jalan.
Mereka duduk di kursi panjang yang terletak di depan kamar Ibu Rani sambil mengobrol dengan perempuan itu. Satu kata ditahan-tahan keluar dari mulut mereka: tumben. Tidak seperti Ibu Rani, mereka rutin datang saat ada odalan di rumah tua mereka, lebih tepatnya rumah tua si perempuan karena perempuan itulah yang merupakan bagian inti pohon keluarga.
Sementara mereka bicara, Rani masih mandi di dalam kamarnya. Ia membasuh dan menggosok badannya secepat mungkin. Sambil merutuki diri karena sempat-sempatnya tidur siang, ia menggosok badannya dengan handuk lalu duduk ke depan jendela sambil mengeluarkan alat-alat makeup-nya. Ia tidak menggunakan banyak makeup, hanya blush on dan lip matte.
Ratna berada di dapur dengan Bu Ming untuk menyiapkan alat-alat sembahyang untuk semua orang. Bu Ming tidak memasak hari itu karena mereka sudah memesan ayam betutu yang dibawakan oleh salah satu saudara mereka, perempuan itu hanya dipanggil ke rumah untuk membantu Ratna menggelar odalan sekaligus menjemput mangku. Maka, setelah alat-alat disiapkan, Bu Ming pamit untuk menjemput mangku bersamaan dengan tiga orang memasuki rumah mereka dan disambut oleh Ratna.
Tiga orang itu adalah ayah, ibu, dan anak laki-lakinya yang sekiranya baru SD. Anak laki-laki menempel kepada ibunya, hanya menjawab sekadarnya saja saat disapa oleh Ratna.
“Sudah kelas berapa ini?”
“Sudah kelas berapa? Ditanya itu. Jawab, dong. Agus.”
Anak itu menjawab malu-malu, “kelas dua.”
Kemudian, suaminya menyapa suami lain lalu mereka menepi dari istri-istri ke dalam obrolan mereka sendiri. Satu keluarga lagi datang disusul keluarga lainnya hingga rumah yang sepi itu menjadi ramai. Di saat itu, Rani keluar dari kandangnya dengan pakaian rapi dan wajah yang sudah dipoles makeup. Perhatian langsung tertuju kepadanya untuk sesaat sebelum seseorang menyapanya dengan heboh: “Itu anakmu? Rani! Waduh, sudah besar, sudah cantik sekarang!”
Rani langsung menuju ke suara itu. Seorang perempuan yang duduk di sebelah ibunya. Perempuan itu memegang lengan Rani dan memerhatikan wajah anak itu beberapa saat, “mirip ayahnya ini. Hahaha! Maaf, ya, Can. Tapi, anak pertama ‘kan memang mirip ayahnya.”
Perempuan itu pun memperkenalkan dirinya sebagai bibinya Ibu Rani, bisa dipanggil Bu De, Ibu Gede, Gede panggilan untuk anak pertama. Ia menyuruh Rani duduk di sebelahnya dan mereka melalui sesi wawancara ringan (untuk Rani): lulusan mana, sekarang kerja apa, dan apakah sudah punya pacar. Begitu mengetahui Rani belum mempunyai pacar, perempuan itu hendak mengenalkan Rani dengan anaknya yang akan datang sebentar lagi.
Kemudian, mereka pergi ke dapur untuk membantu menyiapkan minuman. Rani tinggal di sana dengan seorang anak kecil yang sengaja ditinggalkan oleh ibunya agar di-empu oleh Rani. Anak kecil SD bernama Agus itu memanggilnya Kak Rani.
“Kamu main gim apa? Main sama Kakak, yuk.”
Agus terlihat masih malu-malu. Ia menunjukkan layar HP-nya lalu menariknya kembali. Melihat itu, Rani hanya tertawa dan terus membujuknya hingga akhirnya mereka bermain bersama (Rani harus men-download gimnya terlebih dahulu).
Sambil dia mengurus anak kecil itu, Rani melihat kumpulan bapak-bapak yang sudah duduk di halaman belakang rumah, di meja dan kursi bundar dari batu, biasa dipakai di outdoor kafe. Ada empat orang dan beberapa sudah menyalakan rokok atau pod masing-masing, membuat kepulan asap di atas mereka lalu diterbangkan angin ke arah barat. Nampak satu orang di antara mereka yang Rani tidak tahu datangnya dari mana, orang itu menyimak perkataan orang di sebelahnya lalu matanya menangkap mata Rani.
Di saat yang bersamaan, seorang laki-laki, anak Bu De, baru datang dan langsung disuruh menghampiri Rani. Laki-laki dengan kacamata berlensa cokelat itu menyapa Rani dengan hangat. Agus memanggilnya Kak Diva.
Ketika Rani kembali melihat ke arah bapak-bapak itu, Kala yang dilihatnya tadi sudah hilang.
Minuman es gula hijau dengan nata de coco dan biji selasih disiapkan di dalam wadah besi besar. Ratna menyendoknya ke gelas-gelas plastik yang diletakkan di atas nampan kayu. Bu De sudah mem-booking pekerjaan membagikan gelas-gelas plastik itu ke semua orang, dia melihat nampan itu seolah-olah bayinya yang tidak bisa dilepaskan dari perhatian.
Tidak lama, Bu De benar-benar datang kepada semua orang dan membagikan minuman. Rani mengambilnya lalu berterimakasih. Diva tidak mengatakan apa-apa kepada ibunya yang memberikan mereka tatapan penuh makna. Diva menghela napas.
“Maaf, Mbok, memang biasa begitu dia.”
“Aman. Namanya juga ibu-ibu.”
Diva tertawa. Lalu, mereka mengobrol dari A sampai Z. Diva banyak omong, sifat yang menurun dari ibunya. Semuanya diawali dari pertukaran Instagram yang membuat Diva bercerita tentang pertukaran pelajarnya ke Malaysia pada semester tiga (karena Rani menunjuk fotonya saat di Malaysia).
“Wow. Hebat,” kata Rani.
Diva hanya tertawa. Tangannya lalu ditarik oleh Agus yang sudah memaksanya bermain bola sejak tadi.
“Nanti, ya, Agus. Kalau sudah selesai sembahyang,” kata Rani.
“Tuh. Dengar, kata Kak Rani.”
Agus dibuat cemberut. Ia merengek-rengek yang membuatnya terpaksa dikembalikan ke ibunya. Namun, bersamaan dengan itu, Bu Ming sudah datang membawa mangku dan asistennya. Mereka semua langsung bersiap-siap untuk melakukan persembahyangan.
Nyatanya, merajan itu cukup untuk menampung mereka semua walaupun harus sedikit berdesak-desakan. Struktur duduk mereka dibagi berdasarkan gender. Diva dan Agus duduk di depan bersama bapak-bapak sementara perempuan-perempuan duduk di belakang. Rani duduk di sebelah Ratna yang menyuruh Rani duduk di sebelahnya. Dari belakang sana, Rani bisa melihat laki-laki yang mendapatkan perhatiannya sejak tadi, Kala. Ia duduk di sebelah ayah Diva dan Diva, punggungnya tegak dan kerah kemejanya rapi.
Setelah mangku selesai mengucapkan mantra dan melakukan ritualnya, mereka disuruh mulai bersembahyang dengan bunga dan dupa. Rani ikut mengusap tangannya dengan asap dupa lalu mereka mulai berkumandang.
Setelah selesai bersembahyang, mereka dijamu dengan ayam betutu dan babi serta kue-kue basah yang sudah disiapkan. Yang seumuran, segenerasi, berkumpul dengan yang satu generasi. Hal itu membuat Rani dan Diva kembali disatukan. Sementara Kala mengobrol dengan bapak-bapak, sesekali ikut tertawa. Mata Rani tidak bisa lepas darinya, tawa Kala seakan-akan palsu, seakan-akan formalitas belaka. Namun, orang-orang tidak sadar. Tidakkah bisa mereka melihat apa yang ia lihat? Sambil melihat Kala dari ujung matanya, perempuan itu dihadapkan dengan Diva yang mulai bertingkah seperti ia tertarik dengannya.
Ia tidak tertarik dengan Diva, laki-laki itu begitu mudah ditebak. Laki-laki itu membuatnya kebosanan. Bekerja sebagai PNS di Kemenlu, wah, sangat disegani. Ia ikut rapat dinas, naik mobil dinas, bisa melihat pejabat-pejabat sehari-hari sambil duduk bersama teman-temannya yang sama disegani juga. Bicara pakai bahasa Inggris, Jepang, Arab … lalu berkesempatan dikirim bertugas di luar negeri! Memang, hidup bersamanya menawarkan stabilitas. Namun, Rani tidak suka stabilitas, ia menyukai misteri. Di mata Diva, tidak ada misteri, seluruh hidupnya sudah terbentang untuk semua orang lihat. Hidupnya lurus-lurus saja, mengikuti alur, tetap di jalur, orang tuanya bangga dan anak tetangga tertekan.
Nampaknya, laki-laki itu pun menyadari hidupnya yang sukses. Walaupun awalnya ia sungkan, tetapi lama-lama Diva mengumbar pencapaiannya, nyaris tanpa disadari, kepada Rani yang dibuat hanya berkata “wow”, “keren”, seperti penonton bayaran. Bukan congkak, tetapi seperti merak, Diva mengembangkan sayapnya untuk menarik lawan jenis.
“Tapi, kalau aku menikah denganmu, aku harus tinggal di Jakarta,” celetuk Rani membuat Diva gelagapan. Celetukannya membuat orang-orang yang mendengar langsung menatapnya lalu tertawa cekikikan. Termasuk Kala. Dari sudut matanya, ia bisa melihat wajah Kala terlihat terkejut lalu ia ikut tertawa.
“Aduh, Rani!”
Diva hanya senyum-senyum.
Laki-laki tidak suka membicarakan komitmen, apalagi saat masih mencoba memantik api untuk dilihat kobarannya. Rani tidak membiarkannya melihat kobaran api, langsung membicarakan komitmen sebagai bentuk penolakan mentah-mentah tanpa menyakiti hati merak jantan.
“Kalau tinggal di Jepang mau, Rani? Diva ‘kan mau ke Jepang.”
Tapi, hanya sementara. Perempuan itu tidak senang bagaimana Bu De melebihkan kapabilitas anaknya, menaik-naikkan pencapaiannya. Namun, tidak juga perempuan itu memiliki hati untuk menuangkan kejujuran pahit ke gelas. “Kalau Jepang, boleh juga.”
Gelak tawa kembali memenuhi. Itu, ‘kan, yang ingin kalian dengar?
Setelah merasa ia kehabisan pembicaraan dengan Diva, perempuan itu duduk di sebelah ibu-ibu yang sedang mengobrol sambil makan dan berbagi lungsuran masing-masing. Rani kerap ditawari makanan kemudian ia menerimanya, perutnya kekenyangan tetapi ia tidak ingin menolak tawaran dari ibu-ibu yang memaksa. Ia duduk, matanya mencari-cari Kala yang sempat ia lupakan sejenak, lalu sudah hilang saja. Ke mana orang itu?
Sedari tadi, ia ingin masuk ke obrolan bapak-bapak itu, berharap ia bisa mendengar satu dua hal tentang Kala. Laki-laki bukan jenis manusia yang biasanya suka membicarakan manusia lain kalau tidak perlu-perlu sekali, mereka membicarakan pabrik marpuhan, jalan yang baru dibangun, peluang bisnis menjadi b besar, Bos, kapas berulang kali pakai. Sementara itu, ibu-ibu membicarakan tentang kerabat mereka yang lain, resep makanan dan tips agar nasi tidak bau saat dikukus, kuncinya adalah menggunakan cuka dan daun pandan. Ia belum ibu-ibu, dan tidak akan pernah menjadi bapak-bapak.
Setelah Rani duduk di sebelah Ratna, memainkan HP-nya. Diva sudah ditarik ke lingkaran bapak-bapak dan mereka mulai membicarakan seputar PNS, hidup di Kemenlu, laki-laki itu menjadi informan bapak-bapak yang sebagian besar pegawai swasta atau bekerja di pemerintahan daerah.