Prolog —
Malam Kinmokusei
Malam ketika semuanya bermula adalah malam ketika aku seharusnya tidak melihat apa pun.
Namun di istana, ada hal-hal yang justru memilih memperlihatkan diri kepada orang yang paling tidak seharusnya menyaksikannya.
Langit malam turun perlahan di atas Istana Takamine, seolah seseorang menebarkan kain gelap yang ditenun dari napas musim gugur. Dari taman sebelah timur menguar harum kinmokusei; kelopaknya yang kuning jatuh di atas papan jembatan seperti butir mutiara yang terlepas dari ikatan benang. Angin menggoyang tirai bambu, membuat cahaya pelita di serambi bergeser bagai gelombang tipis pada sutra.
Di balik tirai pucat berwarna bulan, Permaisuri Jōka duduk tanpa bergerak. Lengan uchigi-nya bertumpuk dalam warna ungu muda dan hijau lumut—paduan yang hanya dikenakan pada malam ketika hati ingin disembunyikan. Wajah beliau terpantul samar pada cermin perunggu; bukan wajah seorang penguasa, melainkan seorang perempuan yang sedang menimbang sesuatu yang tak sanggup diucapkan bahkan kepada bayangannya sendiri.
Tahun itu adalah Chōwa kedua, bulan kedelapan—saat jangkrik mulai mengalah kepada dingin, dan para dayang sibuk menukar tirai musim panas dengan kain lebih tebal. Orang-orang istana menyebut masa itu tenang, namun ketenangan sering kali hanyalah nama lain bagi rahasia yang belum menemukan waktunya untuk retak.
Aku—yang hanya diperkenankan mengamati dari sudut gelap—kembali melihat Bhiksu Renkō melangkah melewati gerbang kediaman dalam. Jubahnya berwarna tanah basah, langkahnya ringan seperti seseorang yang sudah hafal jalan menuju mimpi orang lain. Para pengawal tidak menanyakan apa pun; mereka menunduk sebagaimana biasa, seolah kedatangannya telah menjadi bagian dari napas istana.
Tak seorang menteri pun mengetahui bahwa, setiap kali lonceng malam dipukul dan seluruh Takamine terlelap di bawah kabut tipis, bhiksu itu dipanggil diam-diam ke ruang terdalam. Di sana, jauh dari catatan resmi dan telinga para pejabat, keputusan yang lebih berat dari gunung sering kali dibisikkan.
Aku sering berpikir: di istana ini banyak lelaki berani mengangkat pedang, namun hanya sedikit yang berani mengangkat kebenaran. Dan di antara yang sedikit itu, hanya beliau—Bhiksu Renkō—yang sanggup melangkah sejauh itu, menembus lapis tirai sutra, menuju jantung kegelisahan Permaisuri.