Bab 1 - Nama yang Bergema
Keesokan harinya, balairung Istana Takamine dipenuhi cahaya pucat pagi yang menyusup di sela-sela pilar kayu. Angin gugur melintas ringan, menggerakkan daun-daun kering di halaman luar hingga terdengar seperti bisikan yang saling menyampaikan kabar. Tidak ada lonceng dibunyikan, namun sejak fajar merekah, aku tahu—hari itu akan meninggalkan jejak.
Nama Bhiksu Renkō diucapkan lantang di hadapan para pejabat.
Dan seketika, udara di balairung berubah.
Seorang juru baca melangkah ke tengah ruang, membuka gulungan dengan tangan yang terlatih. Suaranya tenang, terlalu tenang untuk kata-kata yang akan dilepaskannya.
“Bhiksu Renkō diangkat menjadi Hōō—penuntun dharma bagi seluruh negeri.”
Aku melihat bahu para bangsawan menegang hampir bersamaan, seolah tali tak terlihat ditarik serentak. Kipas-kipas yang semula bergerak malas kini berhenti. Bahkan burung-burung di atap seakan menahan sayapnya.
Bhiksu Renkō berdiri beberapa langkah di depan mereka—jubahnya sederhana, wajahnya tenang seperti permukaan kolam yang tidak terusik angin. Jika ada kegelisahan di hatinya, ia menyimpannya dengan baik. Nama suci itu kini membungkus tubuhnya seperti lapisan kain baru, dan aku bertanya-tanya: apakah kain itu akan melindungi, atau justru mencekik?
Di antara barisan bangsawan, Fujiwara no Momokawa menutup kipasnya rapat-rapat. Gerakan itu singkat, namun cukup untuk mengkhianati perasaannya. Wajahnya muram, seolah mendung pagi menjelma di dahi seorang manusia. Aku pernah melihat wajah itu sebelumnya—wajah yang muncul ketika sesuatu bergerak di luar kendali.
Para bangsawan mulai berbisik.
Bukan bisikan ringan seperti angin di tirai bambu, melainkan suara rendah yang dipenuhi perhitungan. Aku berdiri cukup dekat untuk menangkap serpihan kata-kata mereka, meski mereka mengira tidak ada telinga yang berani mendengar.
“Sekarang ia memberi kekasih gelapnya jubah Hōō,” gumam seseorang, nyaris tanpa membuka bibir. “Dan menjadikannya senjata.”
“Jika suaranya dianggap titah suci,” sahut yang lain, “bukankah itu berarti suara Permaisuri akan bergema di baliknya?”