Kembang di Atas Kain Sutra

Akana.T
Chapter #3

Kata-kata Tak Bermalam

Bab 2 — Kata-kata Tak Bermalam


Catatan ke-24 dari seorang dayang muda yang tidak bertanya, namun mendengar terlalu banyak.


Malam itu lebih dingin daripada malam-malam sebelumnya, meskipun musim gugur belum sepenuhnya mengambil tempatnya. Angin dari utara melewati celah-celah papan dan kisi-kisi jendela, membawa serta bau tanah yang basah oleh embun. Di taman, bunga-bunga musim panas telah lama kehilangan kesegarannya; hanya beberapa tangkai susuki yang masih bergerak di bawah cahaya bulan, saling bergesekan dengan bunyi yang begitu halus hingga menyerupai bisikan para perempuan yang sedang menyembunyikan sesuatu.


Aku tidak bermaksud mendengar percakapan apa pun.


Namun pintu geser dari kayu cemara itu tidak tertutup rapat. Di antara kedua daun pintu terdapat celah yang begitu sempit sehingga seorang dayang yang lebih patuh mungkin tidak akan memperhatikannya. Dari sana, cahaya pelita menyusup ke lorong, tipis dan keemasan, seperti warna madu yang dituang perlahan di atas kain putih.


Lalu kudengar suara beliau.


Aku belum pernah mendengar Permaisuri Jōka berbicara dengan nada seperti itu.


Tirai misu diturunkan setengah. Bayangannya tampak pada permukaan sutra yang diterangi pelita. Beliau berdiri di dekat tiang utama, sementara lapisan uchigi yang dikenakannya jatuh tenang sampai ke lantai. Warnanya pucat—ungu yang telah lama disentuh cahaya bulan, dengan hijau lembut di antara lapisan dalamnya. Warna yang begitu indah biasanya membuat seseorang teringat pada taman setelah hujan.


Malam itu, entah mengapa, warna tersebut membuatku merasa sedih.


“Pergilah.”


Suara beliau rendah.


“Pergilah, sebelum mereka menyentuhmu bukan sebagai bhiksu, melainkan sebagai ancaman.”


Hening menyusul—hening yang tidak kosong, melainkan penuh oleh segala yang tidak terucap. Bhiksu Renkō berdiri di hadapannya dengan jubah linen kasar, sederhana sebagaimana biasa. Tak ada aroma dupa yang menempel di kainnya; ia membawa bau angin malam dan kayu tua, bau yang selalu mengingatkanku pada jalan panjang yang tak berujung.


“Jika aku pergi,” jawabnya perlahan, “bukan karena takut mati. Tetapi karena kau mengusirku. Bila bukan karena itu, maka bahkan angin pun tak akan mampu mendorong langkahku.”


Permaisuri Jōka adalah perempuan yang tidak pernah menangis di hadapan siapa pun. Aku telah melihat beliau dalam kemarahan para bangsawan, dalam sunyi doa, dalam hari-hari panjang tanpa kabar baik. Namun malam itu, udara di sekelilingnya bergetar—seolah menahan tangis yang tak berwujud, tangis yang memilih tinggal di dada.


“Aku telah memohon pada langit agar membencimu,” ujar beliau. “Namun langit tetap diam. Itu lebih menakutkan daripada kutukan mana pun.”


Kata-kata itu jatuh perlahan, seperti kelopak yang tahu ia tak akan dipungut kembali. Cahaya pelita bergetar, memantulkan bayangan mereka berdua di dinding—bayangan yang hampir bersentuhan, namun tak pernah benar-benar menyatu.


“Aku telah menyerahkan segalanya pada Dharma,” kata Bhiksu Renkō. “Namun jika jalan yang benar membawaku menjauh darimu—”


Ia berhenti sejenak, seolah menimbang beban kata berikutnya.


“—maka aku memilih tersesat.”


Aku menyandarkan punggungku pada daun shōji kamar Permaisuri. Kayu tipis itu dingin, dan dari sana aku merasakan getaran suara, seperti denyut kecil yang menjalar ke tulang. Aku menahan napas, bukan karena takut ketahuan, melainkan karena tak ingin mengganggu apa yang sedang rapuh.


Ada kata-kata yang tak bermalam. Begitu diucapkan, ia tinggal di udara seperti dupa—menyusup ke pori-pori hari berikutnya, mengendap dalam ingatan tanpa meminta izin. Namun aku tahu, malam ini akan tinggal bersamaku. Lama sekali. Lebih lama daripada harum pelita, lebih lama daripada langkah kaki yang kelak menjauh di lorong istana.


Dan ketika angin kembali bertiup, aku merasa ia membawa pergi sesuatu yang tak akan pernah benar-benar kembali ke tempatnya semula. Di luar, angin menggoyangkan susuki.


Dan entah mengapa, malam yang semula terasa terlalu dingin tiba-tiba terasa lebih dingin lagi.


---


Catatan ke-25, ditulis dengan tangan yang masih gemetar.


Beberapa malam berlalu sejak kata-kata itu jatuh seperti abu dupa.


Namun keheningan yang datang setelahnya bukanlah ketenangan—melainkan jeda, seolah dunia menahan napas sebelum sesuatu pecah.


Aku terbangun oleh suara.

Bukan suara manusia yang biasa menghuni malam istana—bukan langkah penjaga, bukan gesekan tirai, bukan pula batuk tertahan para pelayan. Yang membangunkanku adalah bunyi yang membuat jantung segera sadar sebelum pikiran sempat menolak: denting, benturan, teriakan yang dipatahkan sebelum selesai.

Lihat selengkapnya