Bab 3 - Malam yang Tak Mengenal Tidur
Catatan ke Dua Puluh Lima
dari seorang dayang muda yang diam-diam menyaksikan sejarah dikoyak di bawah bayang malam
Tak ada jeda bagi napas.
Pedang-pedang bayangan berdesing bagai angin yang hendak merobek malam—tajam, tergesa, dan tanpa wajah. Suara baja itu tidak datang dari satu arah, melainkan dari segala sisi, seolah kegelapan sendiri telah belajar mengangkat senjata.
Jinsei menghindar dengan satu lompatan panjang, tubuhnya melayang di udara malam sambil tetap mendekap bungkusan ungu di dadanya. Selimut itu terikat rapi, warnanya gelap namun berwibawa—warna yang tak pernah disentuh sembarang tangan.
Begitu kakinya menapak bumi, pedangnya menyambar bagai kilat.
Namun lawannya telah lebih dahulu mundur.
Mereka bukan bayangan yang lahir dari malam, melainkan manusia yang telah belajar bergerak seperti bayangan.
Satu jatuh, dua lainnya segera menggantikannya. Mereka datang dari sela-sela pilar dan pagar, menyerang tanpa suara lebih dahulu, lalu mundur sebelum bilah sempat mengejar. Gerakan mereka begitu cepat dan teratur sehingga tiga ksatria itu nyaris tidak pernah benar-benar berhadapan dengan satu lawan.
Reigen menangkis sebuah bilah, namun serangan lain segera datang dari sisinya. Kuze memutar tubuh, menghindari tebasan yang hampir menyentuh bahunya, sementara Jinsei terus mundur dengan bungkusan ungu tetap erat di dadanya.
Mereka bertiga masih berdiri.
Di tengah malam yang digelayuti asap dan bau besi, Kuze melangkah maju.
Ia merendahkan pedangnya hingga sejajar dengan pinggang.
Lalu ia menutup mata.
Entah mengapa, justru pada saat itulah gerakannya berubah.
Tidak ada lagi hentakan. Tidak ada ayunan lebar yang membuang tenaga. Tubuhnya bergerak tanpa suara, bukan ringan seperti kain, melainkan seperti bayangan yang telah menemukan bentuknya sendiri.
Seorang penyerang menerjang.
Kuze bergeser—hanya setengah langkah.
Bilah mereka bersentuhan, lalu pedang lawannya tersingkir ke samping. Kuze menggeser kakinya dengan satu hentakan pendek. Tubuhnya berputar setengah lingkaran, cepat dan teguh, tanpa sedikit pun gerakan yang sia-sia. Kemudian bilahnya melintas dari belakang bahu.
Cepat.
Begitu cepat hingga mataku terlambat mengikutinya.
Penyerang itu jatuh sebelum aku sempat melihat dari mana tebasan datang.
Kuze tidak membuka mata.
Penyerang berikutnya datang.
Dan sekali lagi tubuhnya bergerak—ringan dan tenang bagai angin.
Aku pernah mendengar tentang gerakan seperti itu dari seorang pengawal tua di kediaman dalam. Ia pernah menyebutnya dengan suara pelan, seolah nama itu sendiri tidak patut diucapkan sembarangan.
Kage-gakure.
Bersembunyi di dalam bayangan.
Aku dahulu mengira itu hanya nama yang dibesar-besarkan oleh orang-orang tua ketika mengenang masa mudanya. Mereka selalu berkata bahwa Kage-gakure bukanlah gerakan yang dapat dipelajari hanya dengan mengulangnya berkali-kali; tingkat kesulitannya begitu tinggi hingga hanya segelintir orang di antara para ahli pedang yang konon sanggup menguasainya.
Malam itu aku tahu, mereka tidak mengarangnya.
Sebab pada saat mata Kuze tertutup, justru seolah-olah seluruh malam terbuka di hadapannya.
Catatan ke dua puluh lima, masih dengan tangan yang gemetar
Aratame berdiri di bawah langit yang terbelah cahaya.
Tatapan yang biasanya memanggil kegelapan kini goyah—bukan karena takut, melainkan karena malam itu sendiri seakan enggan lagi mematuhinya. Cahaya bulan jatuh di antara asap, sementara lentera bergoyang dan bilah-bilah mereka menangkap sinarnya. Untuk sesaat, jubah Reigen, Kuze, dan Jinsei tampak berpendar pucat, seolah cahaya malam sendiri memilih berdiam di antara lipatan kain mereka, menekan bayangan seperti fajar yang dipaksa hadir sebelum waktunya.
Bayangan gelap yang tadi merajalela kini seolah terikat, bergerak gelisah di antara cahaya bulan dan kilatan bilah. Aku merasakan perubahan itu bahkan dari tempatku berdiri: udara menjadi berat, seolah malam dipaksa mengingat sebuah janji yang ingin dilupakannya.
Aratame mengangkat tangannya.
Entah sejak kapan, beberapa sosok telah berdiri di sekeliling mereka.
Mereka tidak bersuara. Hanya bayang-bayang gelap di antara tiang-tiang kayu dan cahaya lentera yang bergoyang. Aku baru menyadari keberadaan mereka ketika salah seorang mengangkat kedua tangannya.
Sesuatu berkilat melintas di udara.
Rantai besi.
Ujungnya melingkar dan berat, dilempar dari satu sisi halaman, lalu disusul dari sisi lainnya. Reigen menangkis yang pertama dengan pedangnya, tetapi rantai kedua telah melilit pergelangan tangannya. Kuze berusaha memotongnya, namun dua orang telah menarik ujung rantai dari arah berlawanan. Jinsei memutar tubuh untuk melindungi bungkusan di dadanya, dan pada saat itulah rantai lain melingkari tubuhnya.
Mereka bertiga terhenti.