Kembang di Atas Kain Sutra

Akana.T
Chapter #5

Jejak Darah di Musim Bunga





Bab 4 - Jejak Darah DI Musim Bunga




Tiada jasad.

Tiada pula ratap yang berani terlepas.

Hanya darah—masih hangat, berbau samar kayu cendana—meresap ke serat lantai, seolah dupa yang dipersembahkan pada sesuatu yang tak lagi berwujud. Malam menahannya tanpa suara, dan aku berpikir: barangkali alam telah lebih dulu tahu bahwa seseorang telah pergi.

Bukan hanya dari istana ini, melainkan dari dunia yang masih mengikat napas.


Permaisuri Jōka berlutut di atasnya. Ujung jemarinya, yang biasa menggerakkan nasib negeri, menyentuh darah yang mulai mendingin—perlahan, ragu—seolah hendak menanyai keheningan tentang sesuatu yang tak ingin dijawab.

“Renkō…”

Nama itu jatuh nyaris tanpa bunyi.

Seperti daun terakhir yang terlepas sebelum fajar.


Orang-orang mengolok cinta mereka. Menyebutnya noda dalam catatan kekaisaran, bisik-bisik yang tak layak dibawa ke balairung. Mereka mengatakan bhiksu muda itu ular dalam cawan emas, doa yang menyusup ke jantung kekuasaan.


Namun hanya aku yang tahu—

Renkō mencintai Permaisuri Jōka bukan karena mahkota yang berkilau di kepalanya, bukan pula karena singgasana yang memantulkan cahaya pelita. Ia mencintainya karena kesunyian yang menetap di dalam dirinya—sunyi yang tak bisa dipeluk oleh siapa pun, bahkan oleh negeri yang ia pimpin.

Dan malam ini, kain yang dahulu menyelimuti tubuh suci itu—kain yang pernah menghangatkan doa dan napas—ternoda oleh darah.

Ia menjadi potongan terakhir dari cinta yang tak boleh hidup.

Kini, bahkan mati pun tanpa doa.


Dalam gelap, aku hanya bisa menyaksikan perempuan yang disebut ratu negeri ini—wanita terkuat di antara para lelaki berjubah emas—runtuh oleh satu kehilangan.

Bukan takhta.

Bukan pula negara.

Melainkan sesuatu yang tak pernah dicatat dalam titah resmi: cinta.


Aku meninggalkan kamar itu dengan dada yang menahan tangis. Langkahku ringan, seolah lantai takut berbunyi. Sang Bhiksu tak pernah memohon umur panjang dalam doanya—aku tahu itu.

Namun, di hadapan darah yang belum sepenuhnya dingin, aku bertanya pada diriku sendiri:

Apakah ia memilih mati demi cinta?

Ataukah cinta sendirilah yang memilihnya untuk pergi?


Malam tidak menjawab.

Ia hanya menutup tirai perlahan, seperti seseorang yang tahu—ada kesedihan yang tidak boleh disaksikan terlalu lama.


---



Hari Setelah Sunyi


Keesokan paginya, istana tidak lagi sama.

Bukan karena dindingnya berubah, bukan pula karena gerbangnya dipindahkan.

Melainkan karena udara yang mengalir di antara lorong-lorong itu kini membawa lidah bercabang—angin yang berbisik dengan dua makna, dan tak satu pun jujur.


Desas-desus berputar seperti dedaunan kering di halaman dalam.


“Bhiksu Renkō… telah terbukti menghasut Permaisuri.”

“Mereka bilang… ia berniat menjadi kaisar.”

“Pantas saja ia selalu terlihat di taman—menyihir dengan doa-doanya.”


Aku mendengarnya dari mulut yang berbeda, wajah yang berganti-ganti, namun isinya sama. Seolah ada satu lidah besar yang berbicara melalui banyak tubuh. Aku menunduk dan berjalan, seperti biasa—sebab di istana, mereka yang bertahan adalah mereka yang tahu kapan harus tuli.


Tak lama kemudian, pengumuman resmi datang.

Ia dibacakan tanpa jeda, tanpa ruang bagi pertanyaan, seolah kebenaran adalah sesuatu yang tak perlu ditunggu. Suaranya datar, rapi, dan kejam dengan caranya sendiri:


> Demi menjaga ketertiban langit dan bumi,


Bhiksu Renkō—yang selama ini menipu hati mulia Permaisuri Jōka dengan dalih kebajikan—telah terbukti berniat mengkudeta.


Ia berusaha mengambil alih singgasana kekaisaran.


Atas nama keadilan dan keamanan negeri,

ia akan segera diasingkan ke Pulau Tōshima, tanpa pengadilan,

demi mencegah pemberontakan lebih lanjut.



Lihat selengkapnya