Bab 5 - Musim Semi di Hakushinden
Pintu geser Hakushinden terbuka perlahan, seolah enggan mengusik malam yang telah rapi menata dirinya. Lentera di kiri dan kanan pintu bergoyang halus, cahaya mereka bergetar seperti napas yang ditahan. Angin musim semi menyelip, membawa harum plum yang baru gugur—aroma yang manis, namun menyimpan kepedihan singkat, sebagaimana segala hal yang indah di dunia ini.
Pangeran Kagetoki melangkah masuk.
Ia bergerak bagaikan bayangan bulan menyeberangi permukaan kolam: sunyi, tak tergesa, namun mustahil diabaikan. Seperti embun yang jatuh ke atas bara, gemuruh percakapan padam tanpa perlu diperintah. Semua suara menyingkir dengan sendirinya, memberi ruang pada kehadiran yang tak biasa itu.
“Semoga malam ini menjadi musim semi yang tak lekas berlalu.”
Ucapannya ringan, hampir seperti sapaan pada angin. Namun kata-kata itu jatuh dan tinggal, sebagaimana doa-doa kecil yang diucapkan dengan harapan penuh.
Pangeran Kagetoki, putra ketiga Kaisar Kōrin, dipersilakan menempati kamiza—posisi kehormatan di sisi timur aula. Ia duduk berhadapan dengan tirai sudare yang digantung rapi. Di balik helaian bambu tipis itu, tiga putri menunggu dalam diam, seperti bunga yang belum dipilih oleh pagi.
Hidangan musim semi tersaji dengan tata krama yang tak bercela: ikan segar dari Sungai Kamo, sisiknya masih menyimpan kilau air; sup bening dengan bunga nanohana yang mengapung bagai matahari kecil; sake manis dalam piala perak yang dinginnya menenangkan. Seorang dayang berlutut rendah, menyajikan cawan dengan gerakan yang telah dilatih sejak kanak-kanak—gerakan yang mengajarkan bahwa keindahan sejati adalah ketepatan.
Malam terasa panjang, seakan cahaya lentera sengaja diperlambat agar wajah-wajah yang setengah tersembunyi dapat dikenang lebih lama. Di istana, apa yang tidak terlihat sering kali lebih berbahaya daripada yang tampak jelas.
Sesuai adat, kata-kata manis tidak boleh dibiarkan berjalan sendiri. Ia harus diuji—dilipat dan dibuka kembali—dalam bentuk puisi. Pangeran Kagetoki mengangkat cawannya. Matanya tenang dan dalam, menyapu tirai sudare.
“Kiranya— dalam musim di mana sakura bertaburan, bunga manakah yang rela tetap tinggal, meski angin berlalu?”
Puisi itu sederhana, namun menyimpan pertanyaan yang tidak kecil. Angin apa yang dimaksud? Musim apa yang hendak diuji kesetiaannya? Hening sejenak mengendap di aula, seperti debu emas yang jatuh perlahan.
Di balik tirai, Putri Aya menggenggam lengan jūnihitoe-nya. Kain berlapis itu terasa lebih berat dari biasanya, seolah menyimpan beban yang tak kasatmata. Dengan suara pelan—namun jernih, sebagaimana air yang mengalir di batu licin—ia menjawab:
“Bila angin kencang, izinkan aku menjadi ranting, yang menahan gugurnya kelopak, agar keindahan tetap menemani pandangan Tuan.”
Nada ucapannya rendah hati, namun di sanalah keberanian berdiam: bukan menawarkan diri sebagai bunga, melainkan sebagai penopang. Di istana, mereka yang memilih menjadi ranting sering kali patah lebih dulu.
Belum sempat gema puisi itu benar-benar reda, Putri Reika menyusul. Suaranya bening dan mantap, seperti petikan koto yang tidak ragu pada senarnya sendiri.
“Meski bunga gugur, cahaya bulan tak sirna— yang sejati tak lekang. Meski musim silih berganti, keindahan tetap abadi.”
Kata-kata itu jatuh dengan keyakinan yang nyaris menantang. Bukan tentang bertahan, melainkan tentang layak untuk dipilih. Ia bahkan melanjutkan, dengan penekanan yang halus namun disengaja, seolah isyarat hanya bagi satu pendengar:
“Bila musim semi berkenan tinggal lebih lama, biarlah kelopak yang gugur tak dianggap layu— melainkan tanda bahwa angin pun enggan berpisah.”
Dan di sanalah, untuk sesaat, Pangeran Kagetoki terhenyak.
Irama kata itu…
Pernah kudengar—di tempat yang lebih sunyi.
Nama itu muncul di batinnya tanpa dipanggil.
Reika?
Bukan kata-katanya yang ia ingat. Melainkan jeda kecil—cara ia menahan napas sebelum mengucapkan baris terakhir. Dahulu, di ruang penyimpanan naskah istana, di antara rak-rak gulungan yang berbau tua dan sunyi, gadis itu pernah berdiri terlalu dekat, menjinjit mengambil kitab. Ia tak berani menyampaikan puisinya kala itu. Namun diamnya memiliki irama yang sama seperti ucapannya malam ini.
Ia selalu takut rasa yang jujur terdengar terlalu terang.