Kembang di Atas Kain Sutra

Akana.T
Chapter #8

Tsukimi no Koe

Bab 7- Tsukimi no Koe



Malam turun sepenuhnya setelah perjamuan itu, seperti tirai kedua yang ditarik tanpa suara oleh tangan yang tak terlihat. Aula Hakushinden yang tadi dipenuhi cahaya kini tinggal menyisakan bau kayu hangat, sisa dupa, dan gema percakapan yang tak lagi dapat dibedakan apakah sungguh pernah terjadi atau hanya bayang-bayang ingatan.


Putri Aya kembali ke kediamannya tanpa diiringi kata.


Langkahnya pelan, namun bukan karena anggun—melainkan karena tubuhnya seakan lupa bagaimana harus bergerak setelah menahan diri terlalu lama di hadapan banyak mata.


Begitu pintu geser ditutup, dunia yang tadi ia hadapi runtuh seperti lukisan yang digulung.


Putri Aya berhenti sejenak di ambang ruangnya, seolah belum sepenuhnya kembali ke dirinya sendiri. Ia bersandar ringan pada tiang kayu. Lantai yang dingin terasa lebih jujur daripada senyum-senyum yang baru saja ditinggalkannya.


Belum sempat ia menarik napas panjang, terdengar suara lirih dari balik dinding kertas.


Hiks… hiks…


Bukan tangis yang dilepaskan, melainkan yang berusaha ditahan.

Suara itu datang terputus-putus, seperti embun yang jatuh satu demi satu dari ujung daun bambu.


Aya mengangkat wajah.


Di istana, tangisan seperti itu seharusnya tidak ada.

Dan justru karena itulah, ia begitu mudah dikenali.

Noe.


Dayang muda yang sejak kecil menemaninya—gadis yang langkahnya selalu ringan seperti belum sepenuhnya menginjak dunia istana.


Beberapa saat Aya hanya diam, mendengarkan. Tangisan itu tidak mencari perhatian—ia bersembunyi, namun tak cukup jauh untuk menghilang. Setelahnya terdengar suara pelan, seperti seseorang yang mencoba menenangkan dirinya sendiri, lalu disusul bisikan lain yang lebih rendah.

Percakapan itu merayap melalui sekat kertas tipis, seperti angin malam yang menemukan celah tanpa diminta.

Aya tidak bergerak.

Ia tahu, membuka pintu pada saat seperti itu justru akan melukai harga diri orang yang sedang berusaha menyembunyikan perasaannya. Maka ia tetap di tempatnya, membiarkan sekat kertas menjadi batas yang penuh belas kasihan.

Tangisan itu perlahan mereda.

Lalu terdengar suara langkah kecil—tergesa namun tertahan, seperti seseorang yang takut membuat dunia ikut mendengar.


“Noe-dono…”

Suara laki-laki itu rendah, berhati-hati.


Eji.


Pengawal yang selama ini lebih sering berdiri seperti bayangan daripada manusia. Bahkan ketika berbicara, ia seolah memilih kata-kata sebagaimana seorang prajurit memilih pijakan di jembatan sempit.


Lampu minyak di ruang sebelah berkerjap pelan. Cahaya kekuningannya menipis, lalu kembali menguat—seakan ikut mendengarkan.


Ia hanya mendengar.


“Kenapa harus beliau… mencari Tsukimi no Koe…?”

Suara Noe bergetar, bukan karena takut, melainkan karena kebingungan yang tak menemukan tempat bertanya.

“Tak ada seorang pun tahu siapa dia… bahkan pendeta tua di Kuil Hiei pun menolak menyebut namanya.”


Pertanyaan itu menggantung.


Tidak ada yang segera menjawab.


Hanya bunyi dupa gaharu yang terbakar perlahan, mengeluarkan aroma tenang yang justru membuat malam terasa semakin dalam. Di istana, wangi seperti itu sering dipilih bukan untuk menenangkan hati—melainkan untuk membantu orang menelan kata-kata yang sulit diucapkan.


Ada jeda panjang, sebagaimana orang yang hendak membuka kenangan lama biasanya membutuhkan waktu untuk menata keberanian.

Eji akhirnya menarik napas.


“Noe-dono…” katanya pelan.

“Hamba hendak menyampaikan sesuatu yang dahulu tak sempat terucap.”


Lampu minyak berkerjap.

Cahaya kecilnya tampak seperti mata yang ikut menunggu. Aya, dari balik ruangannya, menundukkan kepala sedikit—seolah ia sendiri ikut duduk di antara mereka.


---


“Tahun Harimau Logam,” Eji mulai,


“saat hamba masih muda dan belum memahami bahwa tidak semua perjalanan dimaksudkan untuk kembali dengan jawaban.”


“Kami mengiringi Yang Mulia Putri Yukari menuju Kuil Seiryū-in.”


Nada suaranya berubah—bukan menceritakan, melainkan seperti berjalan kembali ke tempat itu.


“Tapi malam itu kabut turun terlalu cepat. Pelita padam satu per satu. Jalan yang tadi kami lalui… seakan tidak pernah ada.”


Suara malam terasa ikut menipis, memberi ruang pada kenangan itu. Dalam keheningan itu, Aya yang mendengarkan dari balik kamar merasa seolah kabut merayap masuk bersama dengan hawa dingin ke dalam ruangnya.


“Di tengah kebingungan,” lanjut Eji,“ kami melihat sebuah paviliun kecil di antara cemara tua. Tidak besar. Tidak indah. Namun diamnya… seperti seseorang yang telah menunggu sangat lama.”


“Tak ada penjaga. Tak ada nama. Namun di dalamnya terbentang lembar demi lembar sutra—memancarkan cahaya samar, seakan tinta di atasnya menolak menjadi tua.”


Noe menahan napas.


“Dari balik tirai,” Eji melanjutkan, suaranya kini hampir seperti bisikan,

“kami mendengar suara kuas.

Bukan menulis huruf.

Bukan pula melukis gambar.

Shaaa… shaaa…

Seperti angin… yang belajar berbicara.

Lihat selengkapnya