Bab 6 - Penghakiman Teratai
Malam merayap perlahan di antara kisi-kisi jendela Hakushinden. Udara membawa wangi damar yang dibakar sejak senja, bercampur harum kelopak plum yang luruh tanpa suara. Segala yang sempat bersinar pada siang hari kini tenggelam dalam senyap, seolah menanti giliran untuk dihakimi oleh takdir yang tak pernah tergesa.
Di sepanjang hisashi, seorang dayang berlutut, menyesuaikan nyala sebuah andon.
Cahaya lentera itu bergetar di sela jarinya—api kecil yang menelan udara malam, seakan berusaha menunda gelap yang kian menua. Dalam goyahnya cahaya itu, waktu terasa berjalan lebih lambat, seperti menunggu sesuatu yang tak kunjung tiba.
Setiap malam menjelang ujian baru, langit selalu tampak lebih tenang daripada hati manusia.
Angin musim semi mengangkat sedikit tirai sudare yang tergantung dari balok nageshi. Bilah-bilah bambu berdesir halus, memperlihatkan dunia hanya sekejap, lalu menutupnya kembali—seperti istana yang tidak pernah benar-benar memperlihatkan isi hatinya.
---
Pangeran Kagetoki duduk anggun di antara para undangan.
Sikapnya sempurna, sebagaimana dituntut darah kekaisaran: punggung tegak, tangan terlipat tenang, wajah tanpa gelombang perasaan.
Namun tatapannya hanya menuju satu arah.
Di antara bunga-bunga yang telah mekar sempurna—
ia justru memandangi yang belum sempat mekar seluruhnya.
Tak ada kata keluar dari bibirnya.
Namun mata itu… menjerat bayang Aya yang duduk di balik sudare, meski nyaris tiada yang tampak, selain ujung lengan jūnihitoe dan rambut panjang yang jatuh seperti tinta malam, seolah waktu pun enggan bergulir.
---
Namun pandangan yang terlalu lama tertambat jarang luput dari perhatian siapa pun di dalam aula. Bagi Reika, diam yang terlalu lama justru mulai menyakitkan.
Cinta yang dijaga tanpa suara, yang dahulu terasa anggun, kini perlahan berubah menjadi beban yang tak tertahankan.
Ketika ia menyadari bahwa matanya bukan lagi cermin bagi pangeran itu— hatinya retak seperti kaca musim dingin.
‘Mengapa… mata itu bukan padaku? Padahal aku yang lebih dahulu hadir. Lebih dahulu mencintai…’
Ia tetap duduk tegak.
Di istana, bahkan hati yang hancur pun harus tahu cara menjaga punggungnya.
---
Tak jauh dari sana, Lady Tsukiko mengamati.
Ia tidak perlu bertanya.
Ia mengenali kegelisahan putrinya sebagaimana seseorang mengenali luka pada tubuhnya sendiri.
Sepasang mata Reika hanya tertuju kepada seorang pria.
Namun pria itu justru memandang perempuan lain.
“Reika… anakku,” bisiknya dalam hati.
Kipas hiōgi di tangannya terbuka perlahan.
Dalam batinnya, kata-kata yang tak pernah diucapkan mulai mengalir:
‘Apakah salah bila seorang ibu lebih mencintai darah dagingnya sendiri?’
‘Apakah dosa bila aku rela mengotori tangan demi senyum satu-satunya putriku?’
‘Apa yang dilakukan Yukari?’
‘Ia menyerah. Ia lenyap dari dunia ini.’
‘Dan kini anaknya… berani berdiri di tempat yang seharusnya kusiapkan untukmu, Reika.’
Sesaat ia terdiam, membiarkan napasnya turun perlahan, menahan gemuruh yang tak boleh menjelma menjadi wajah.
‘Kalau jalan itu kotor— biarlah aku yang merangkak di atas lumpurnya.’
‘Asal kau dapat berjalan di atas batu giok yang bersih.’
---
Seakan menjawab dari ruang batin yang lain, hati Reika pun berbisik:
‘Aku tahu semua yang Ibu lakukan.’
‘Aku tak pernah bertanya dari mana datangnya semua itu.’
‘Karena cinta seorang ibu memang tak harus bersih—
yang penting ia tetap mengalir kepadaku.’
‘Jika hatimu penuh racun,
aku akan menampungnya dalam cangkir emas…
dan meminumnya tanpa ragu.’
‘Asalkan cinta itu dapat menjauhkan Aya dari Pangeran Kagetoki.’
---
Demikianlah cinta yang keliru tumbuh.
‘Tidak ada yang lebih suci bagi seorang ibu
selain keyakinan bahwa dunia seharusnya berpihak kepada anak kandungnya.’
---
Tsukiko menutup kipasnya.
‘Seorang ibu bukan malaikat,’ pikirnya.
‘Bukan pula dewi belas kasih.’
‘Tapi aku akan menjadi iblis,
bila itu yang dibutuhkan untuk membuatmu duduk di sisi Pangeran.’
---
Reika menundukkan kepala sedikit, menahan gejolak yang tak boleh terlihat.
‘Ibu… aku tak membutuhkan langit, tak memerlukan upacara.
Aku hanya ingin… mata itu.
Sepasang mata Kagetoki melihatku sekali saja—
seperti ia melihat Aya hari ini.’
---
Di luar, satu per satu lentera mulai dipadamkan.