Episode 8 - Tempat untuk Sunyi Bertanya
Pada bulan kedua di Kurama—ketika sisa salju telah menghilang namun hawa dingin masih enggan pergi—sebuah kereta lembu berhenti perlahan di bawah cemara yang menjulang seperti penjaga lama gunung.
Roda kayunya berderit panjang.
Krrrk—
Suara itu tidak keras, tetapi cukup untuk mengusik kabut pagi yang menggantung rendah di antara akar dan batu. Uap napas lembu putih membaur dengan kabut, menjadikan pagi tampak seperti lukisan yang belum selesai disentuh warna.
Di bulan kedua, angin timur masih membawa sisa dingin dari lembah. Daun-daun yang belum sepenuhnya gugur bergerak pelan, bukan karena badai, melainkan karena napas hutan sendiri.
Tak ada suara selain burung hutan yang enggan berkicau terlalu nyaring.
Tirai tipis kereta—kain anyaman halus yang biasa melindungi perempuan bangsawan dari pandangan langsung—tersibak perlahan.
Noe-lah yang membuka lebih dulu, jemarinya ragu seperti embun yang belum yakin akan jatuh.
Di baliknya, Putri Aya mengintip.
Wajahnya tidak sepenuhnya terlihat, hanya bayang mata yang menatap keluar, seperti seseorang yang hendak menilai apakah dunia di luar cukup sunyi untuk dimasuki.
“Tak seorang pun,” ucapnya pelan, “seharusnya tiba di altar sambil duduk tinggi.”
Itulah kebiasaan lama istana—bahwa seseorang yang hendak memohon atau bertanya kepada yang tak terlihat sebaiknya menurunkan diri, bukan hanya secara lahir, melainkan juga dalam cara melangkah.
Ada kesunyian yang hanya dikenal oleh tanah yang diinjak perempuan yang telah kehilangan ibunya.
Dengan gerakan yang selama bertahun-tahun dilatih dalam aula berlantai tatami dan koridor beratap hinoki, Aya turun dari keretanya. Namun pagi itu, langkahnya tidak lagi memantulkan gemuruh istana. Ia melangkah seperti pejalan yang berdiri di antara dua musim—tak sepenuhnya milik musim semi, namun juga tak lagi berada dalam dingin musim lalu.
Jūnihitoe yang dikenakannya tidak terlalu mencolok—lapisan luar berwarna hijau pucat, menyerupai tunas yang baru muncul; di bawahnya terselip ungu lembut, warna yang di bulan kedua sering dipilih perempuan istana untuk menyambut mekarnya plum terakhir.
Noe menunduk sedikit, mencium udara.
“Angin dari timur… membawa wangi cemara, tuanku.”
Aya tidak menjawab. Tetapi matanya terangkat sedikit, seolah menyimpan kalimat itu di tempat yang lebih dalam daripada ingatan.
---
Jalan menuju kuil tidak ramai.
Tak ada rombongan peziarah, tak ada bunyi kereta lain. Hanya kabut yang berjalan lebih dulu, daun gugur yang tertinggal dari musim lalu, dan gagak hitam yang hinggap tanpa suara pada cabang tinggi.
Namun langkah seorang putri membuat tanah mengingat.
Orang-orang sering berkata bahwa bumi tak menyimpan jejak siapa pun. Tetapi bagi mereka yang peka, ada perbedaan antara langkah yang berjalan dan langkah yang mencari.
Gerbang kuil akhirnya terlihat.
Kayunya telah menghitam dimakan hujan dan waktu. Lumut menutupi kaki pilar, seperti kain hijau tua yang dililitkan tanpa niat untuk dibersihkan. Di bawah atapnya tergantung beberapa tanzaku—kertas doa yang telah memudar tintanya, bergerak pelan disentuh angin.
Di tangga batu berdiri seorang bhiksu tua.
Tangannya terlipat di dalam lengan jubah cokelat kemerahan. Wajahnya penuh garis waktu, namun matanya bening seperti seseorang yang lebih sering memandang ke dalam daripada ke luar.
Bhiksu Jomyo.
Aya mendekat, lalu membungkuk dalam. Bukan sekadar anggukan sopan istana, melainkan ojigi yang tulus—punggungnya menunduk cukup lama untuk menunjukkan bahwa ia datang bukan sebagai tuan rumah dunia, melainkan sebagai tamu sunyi.
“Maafkan keberanian hamba,” katanya lirih.
“Saya datang sebagai putri dari mendiang Lady Yukari… mencari jejak Pena Hujan Tanpa Wajah.”
Jomyo membalas dengan membungkuk lebih dalam daripada yang lazim diberikan kepada bangsawan.
Namun di balik kelopak matanya yang setengah tertutup, ada sesuatu yang bergerak.
‘Putri Yukari mencari Tsukimi no Koe…?’
Nama itu tidak ia ucapkan. Tetapi dalam batinnya, ia seperti mendengar kembali gema lama yang belum sepenuhnya padam.
---