Kembang di Atas Kain Sutra

Akana.T
Chapter #10

Malam yang Menunggu Jawaban

Bab 9 - Malam yang Menunggu Jawaban



Sepeninggal Putri Aya menuju kamar sunyi di belakang aula, Bhiksu Jomyo tidak segera kembali ke ruang dalamnya.

Ia berdiri sejenak di serambi kayu, lentera kecil di sisinya bergetar pelan. Di atas langit Kurama, bulan menggantung bulat namun tidak sepenuhnya terang—tertutup selapis awan tipis seperti wajah yang enggan memperlihatkan maksudnya.


Sebuah pertanyaan yang telah lama ia simpan kini kembali mengusik.

Apakah waktunya sudah tiba?

Haruskah aku mengatakan yang sebenarnya kepada anak itu?


Di gunung, malam jarang benar-benar sunyi. Selalu ada desir dedaunan, bunyi serangga, atau hembusan angin yang turun dari punggung bukit.

Namun malam itu berbeda.

Ia jatuh begitu saja.

Tanpa angin.

Tanpa gema.


Jomyo melangkah perlahan ke ruang dalamnya. Tatami berderit halus di bawah telapak kakinya—bunyi kecil yang hanya didengar oleh mereka yang telah lama hidup bersama kayu tua.


Ia duduk bersila, merapikan jubahnya. Jubah itu telah lama dipakai—warnanya cokelat kemerahan, lengan dalamnya sedikit aus oleh waktu. Di sudut ruangan, tasbih kayu cendana tergantung; aroma halusnya menyatu dengan sisa dupa sore.

Ia mencoba menenangkan pikiran melalui napas yang diatur perlahan.


Namun malam tidak membiarkannya tinggal dalam ketenangan yang biasa.

Malam ini terasa seperti cermin.

Memantulkan sesuatu yang belum terjadi— namun telah dikenal oleh jiwanya sejak lama.


Tidur datang bukan sebagai pelarian,

melainkan sebagai utusan.

Dan dalam gelap yang tidak dibakar cahaya, ia bermimpi.



---


Dalam mimpi itu, ia berdiri di hutan Kurama.


Tetapi pohon-pohon kehilangan bayangan.


Langit merah senja tidak memiliki warna. Aneh—seperti lukisan yang hanya menyisakan garis, tanpa tinta. Tanah di bawah kakinya tidak terasa padat; akar-akar pepohonan tampak berdiri tanpa menyentuh bumi.


Seperti pertanyaan yang tak lagi tahu siapa yang menanyakannya.


Tidak ada arah.

Tidak ada jalan setapak.


Hutan itu bukan hutan yang ia kenal.

Dari langit merah itu, perlahan turun sehelai tanzaku.

Kertasnya panjang dan sempit, seperti yang biasa digantung pada cabang bambu saat perayaan doa. Namun tulisan di atasnya belum terbentuk. Ia kosong—namun basah oleh embun.


Bukan suara yang turun.

Melainkan tulisan yang belum ditulis.


Selembar puisi kosong.

Dan entah bagaimana, Jomyo tahu—

ini bukan kekosongan. Ini adalah undangan.


Kemudian bayangan lain muncul.

Di depan altar yang tidak memiliki patung, ia melihat siluet seorang pemuda berkelebat.

Ia tak melihat wajahnya.

Hanya garis bahu dan cara ia berdiri—

Lihat selengkapnya