Kembang di Atas Kain Sutra

Akana.T
Chapter #11

Yang Diingat oleh Sunyi



Bab 10 - Yang Diingat oleh Sunyi


Di antara batu-batu halaman kuil, embun menempel bagai sisa mimpi dari malam yang belum selesai berdoa.


Batu-batu itu telah berada di sana lebih lama daripada nama para bhiksu yang tinggal di biara. Lumut menutup sebagian sisinya, lembut seperti kain yang dilupakan musim. Embun pagi berkumpul di celah-celahnya, memantulkan cahaya pucat fajar yang belum sepenuhnya berani menyentuh punggung gunung.

Pada saat seperti itu—ketika malam masih enggan melepaskan dunia—sebuah tangan bhiksu muda menarik tali lonceng Kurama.


Gōōōn…


Dentangnya rendah, panjang, dan bergema seperti suara yang berjalan perlahan menuruni lembah. Ia tidak memecah kesunyian; sebaliknya, ia menuntun kesunyian itu agar bangun dengan tertib.

Suara lonceng itu menjalar di antara kabut, memanggil pagi dengan gema yang nyaris seperti doa.

Tak lama kemudian, halaman kuil mulai dipenuhi gerakan kecil. Angin dari lereng gunung membawa dedaunan kering dari musim lalu. Daun-daun itu bergulir di antara batu dan kerikil seperti anak-anak yang tidak ingin pulang.


Di tengah halaman itu berdiri seorang perempuan muda dengan sapu bambu di tangannya.


Putri Aya.


Jūnihitoe yang dikenakannya hari itu lebih sederhana daripada pakaian yang biasa terlihat di aula Hakushinden. Lapisan luarnya berwarna hijau pucat, warna yang sering dipilih perempuan istana pada bulan-bulan awal musim semi—warna yang mengingatkan pada tunas yang belum sepenuhnya membuka diri.


Ia menyapu perlahan.


Gerakannya lembut, hampir terlalu hati-hati bagi pekerjaan yang sebenarnya sederhana. Namun setiap kali sapunya mengumpulkan daun-daun itu ke satu sisi halaman, angin gunung datang kembali, menebarkannya seperti permainan yang tak berkesudahan.

Namun, tatkala pandangannya jatuh pada lorong sempit di antara pinus-pinus tua di sisi kediaman, gerak tangannya terhenti. Teduh dahan yang merunduk, harum damar yang samar, serta cahaya pagi yang jatuh berselang-seling di atas papan kayu membangkitkan suatu rasa yang ganjil.

Ia tidak tahu pernahkah matanya melihat tempat itu, bahkan tiada satu wajah atau nama pun datang kepadanya. Namun entah mengapa, hatinya terasa mengenali jalan tersebut lebih dahulu daripada ingatannya sendiri.

Sesaat ia merasa, di ujung lorong itu, pernah ada seseorang yang menunggunya.


Tetapi ketika angin menggerakkan pucuk-pucuk pinus, perasaan itu pun surut perlahan, meninggalkan kesunyian yang tak dapat disebut dengan nama.


Ketika bunyi sehelai daun yang jatuh di atas papan membawanya kembali kepada halaman yang sunyi, Aya menundukkan pandangan. Tidak ada apa-apa di lorong itu selain bayang-bayang pinus dan cahaya pagi yang berubah perlahan. Ia pun kembali menggerakkan sapunya.

Daun-daun itu selalu kembali.

Sekali.

Dua kali.

Tiga kali.


Dan setiap kali itu pula, sapu bambu Putri Aya kembali bergerak.

Pada awalnya ia menyapu dengan kesabaran yang tenang, seperti seseorang yang menerima permainan alam. Namun seiring waktu, jemarinya mulai menggenggam gagang sapu sedikit lebih erat.

Angin gunung tidak mengenal belas kasihan.

Ia meniup dedaunan itu kembali, seolah ingin menguji ketekunan seseorang yang datang dari dunia istana.

Di tengah kegusaran kecil yang hampir tak terlihat itu, langkah seseorang mendekat dari serambi.


Langkahnya pelan. Tidak tergesa.

Seperti orang yang telah lama hidup bersama waktu.


Bhiksu Kepala Jōmyō.


Jubahnya yang cokelat kemerahan bergerak pelan setiap kali angin lewat. Ia berhenti beberapa langkah dari Putri Aya dan memperhatikan halaman yang setengah bersih, setengah berantakan.

Daun-daun masih menari.

Putri Aya menunduk sedikit sebagai salam.


“Guru.”


Jōmyō memandang sapu bambu di tangan sang putri, lalu memandang kembali dedaunan yang kembali berserakan.


Senyum tipis muncul di wajahnya—senyum yang lebih dekat pada pengertian daripada pada hiburan.


“Menyapu,” katanya perlahan, “bukan untuk membersihkan tanah.”


Ia menatap halaman yang dipenuhi daun itu.


“Melainkan untuk melihat apa yang tertinggal di bawah hati.”


Untuk sesaat, hanya suara pinus yang terdengar di atas kepala mereka.

Angin kembali lewat. Beberapa daun terangkat lagi dari tanah.

Namun kali ini, Putri Aya tidak segera menyapunya.

“Guru,” ujarnya pelan.

Jōmyō mengangkat pandangan.

Aya menunduk, jemarinya masih menggenggam gagang sapu.

“Adakah kiranya,” katanya setelah beberapa saat, “sesuatu yang telah dilupakan oleh ingatan, namun masih tinggal di dalam hati?”


Lihat selengkapnya