Kembang di Atas Kain Sutra

Akana.T
Chapter #12

Nama yang Disembunyikan Kabut

Bab 11 — Nama yang Disembunyikan Kabut


Di ambang pintu kamar kecil itu, Bhiksu Kepala Jōmyō berdiri tanpa suara.

Lentera di lorong hampir padam. Cahaya kecilnya bergetar seperti napas seseorang yang telah terlalu lama berjaga.

Pertanyaan Fukushō masih menggantung di udara—lebih berat daripada bau tinta yang memenuhi ruangan.


‘Apakah benar Guru tidak tahu siapa Tsukimi no Koe itu sebenarnya?’


Jōmyō tidak menjawabnya saat itu.

Namun ketika ia berdiri di sana, memandang ke dalam kamar tempat Putri Aya menyalin sutra, pertanyaan itu kembali mengetuk pintu hatinya.


‘Apakah aku sungguh tidak tahu… siapa Tsukimi no Koe?’


Kerutan di dahinya semakin dalam, seperti garis pada batang pohon tua yang telah melihat terlalu banyak musim. Pikirannya berkelindan.

Kenangan.

Janji.

Dosa yang mungkin tidak pernah sepenuhnya selesai ditebus.


Namun sebelum pikirannya sempat tenggelam lebih jauh, sebuah suara kecil terdengar.


Hhh…


Suara dengkuran yang sangat halus. Jōmyō berhenti.

Ia memiringkan kepalanya sedikit.

Suara itu datang dari meja rendah tempat sutra terbentang.

Putri Aya tertidur.

Kepalanya terbaring di atas gulungan sutra. Rambut hitamnya terurai di atas meja seperti bayangan malam yang jatuh terlalu awal. Kuas masih berada di tangannya, ujungnya mengering oleh tinta yang belum sempat kembali ke batu tinta.

Di era itu, menyalin sutra adalah salah satu bentuk doa yang paling tenang.

Huruf demi huruf ditulis perlahan, bukan sekadar untuk dibaca, melainkan untuk membentuk ketenangan dalam hati penyalinnya.

Namun malam panjang sering kali membuat doa dan tidur berjalan berdampingan.


Jōmyō melangkah mendekat.

Tatami tidak berbunyi di bawah langkahnya.

Ia berhenti di sisi meja.

Di sana, huruf terakhir yang ditulis Putri Aya masih basah oleh tinta.


光明無量 - Cahaya tanpa batas.


Jōmyō memandang huruf itu lama sekali.

Seolah cahaya yang disebut dalam tulisan itu tidak hanya menerangi sutra—tetapi juga membuka pintu ingatan yang telah lama terkunci.


“Cahaya tanpa batas…” gumamnya pelan.


Dan di dalam cahaya itu, masa dua puluh empat tahun silam kembali berdenyut.


---


Dua Puluh Empat Tahun yang Lalu




Malam itu, istana tenggelam dalam kesunyian yang dalam.

Di balik tirai sudare yang diturunkan rendah, lentera minyak menggantung pada kait kayu, nyalanya hampir padam. Cahaya kecilnya bergoyang pelan, seperti napas seseorang yang terlalu lama menahan tangis.

Di ruangan yang jauh dari aula utama itu, Renko berdiri dengan seorang bayi di dalam pelukannya.

Kain murasaki yang membungkus tubuh mungil itu memantulkan cahaya lentera dengan warna yang dalam—warna yang, di lingkungan istana, tidak pernah dikenakan tanpa makna. Ungu itu adalah lambang garis darah yang dekat dengan takhta, warna yang biasanya hanya terlihat di balik tirai perempuan istana atau di lengan jubah para bangsawan tinggi.

Namun malam itu, warna itu tidak memancarkan kehormatan. Ia menjadi penutup bagi sebuah rahasia.

Renko menundukkan wajahnya.

Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh juga, satu demi satu, menyusuri pipinya yang tegang oleh usaha menahan diri.

Untuk pertama kalinya—dan mungkin juga yang terakhir—bibirnya menyentuh lembut dahi bayi itu.

Sentuhan itu begitu pelan hingga hampir seperti bayangan yang lewat di atas air.

Dalam sekejap, segala doa yang tak pernah ia ucapkan mengalir melalui air matanya—jatuh, dan menyatu dengan napas kecil sang darah daging yang tertidur tanpa mengetahui dunia yang sedang berubah di sekelilingnya.


Ada saat-saat dalam hidup seseorang ketika ia berharap waktu berhenti bergerak.

Lihat selengkapnya