Kembang di Atas Kain Sutra

Akana.T
Chapter #13

Melepas Nama Menuju Bayangan



Episode 12 --- Melepas Nama Menuju Bayangan


Di pagi yang tidak sepenuhnya terang , ketika cahaya masih ragu untuk menyentuh lantai kayu, Noe berdiri di belakang Putri Aya. Tangannya terangkat, namun tidak segera bergerak, seperti seseorang yang tahu bahwa satu sentuhan kecil dapat mengubah seluruh hidup seseorang. Perlahan, hampir seperti tidak ingin didengar oleh dunia, ia melepaskan lapisan terluar dari jūnihitoe itu. Kain itu jatuh. Tidak ada suara selain gesekan halus sutra yang saling bersentuhan, suara yang begitu lembut, hingga lebih menyerupai ingatan daripada kenyataan.


Di istana, warna dan lapisan pakaian bukan sekadar keindahan. Ia adalah penanda kedudukan, musim, bahkan perasaan yang tidak diucapkan. Setiap lapisan adalah bahasa. Dan pagi itu, bahasa itu ditanggalkan. Tanpa tangisan. Tanpa saksi. Tanpa satu pun kata yang diucapkan untuk menandai perpisahan. Begitulah kekuasaan dilepaskan, bukan dengan gemuruh, melainkan dengan keheningan yang lebih dalam dari laut musim gugur.


Aya tidak bergerak. Ia berdiri seperti seseorang yang telah lama memahami bahwa kehilangan tidak selalu datang sebagai luka, kadang ia hadir sebagai keputusan. Di hadapannya, sebuah cermin diletakkan. Cermin perunggu itu tidak lagi berkilau seperti dahulu, namun masih menyimpan bayangan masa lalu di permukaannya yang redup. Pada cermin itulah, di tahun-tahun yang terasa seperti kehidupan lain, ibunya pernah menyisir rambutnya. Perlahan. Dengan kesabaran seorang perempuan istana yang mengerti bahwa waktu tidak pernah benar-benar dapat ditahan.


Aya memandang cermin itu. Namun tidak untuk melihat dirinya. Ia memandang sesuatu yang telah berlalu. Lalu, tanpa ragu, ia meletakkannya kembali. Bukan karena ia lupa, melainkan karena ia mengerti, bahwa cinta yang sempurna tidak membutuhkan bayangan untuk membuktikan dirinya.


Di biara, puasa bukan sekadar menahan lapar. Ia adalah cara untuk mengosongkan diri dari dunia. Dalam puasa, lidah belajar diam. Dan dalam diam, hati mulai berbicara, dengan suara yang tidak pernah dapat didengar di aula istana. Pagi itu tidak menyapa siapa pun. Namun di dalam keheningannya, seorang perempuan perlahan memisahkan dirinya dari dunia yang pernah mengenalnya.




---


Beberapa Hari Kemudian , Hutan Kurama


Dini hari di pegunungan Kurama selalu datang seperti mimpi yang belum selesai. Kabut tipis menggantung di antara batang-batang cedar tua, menyentuh tanah tanpa benar-benar turun, seolah menjaga rahasia yang bahkan angin pun tidak diizinkan membawanya pergi. Jalan setapak membentang tanpa janji. Tidak ada penanda. Tidak ada akhir yang dapat dilihat. Setiap langkah terasa seperti menyeberangi sesuatu yang tak kasatmata, seperti berjalan di atas sungai yang tidak memiliki air.


Aya berjalan. Jubah sederhananya kini jauh dari kemewahan istana, warna-warnanya ditahan, tanpa kilau, tanpa maksud untuk dilihat. Angin menyentuh pipinya. Dingin, namun tidak sepenuhnya kejam. Ia membawa suara. Bukan suara yang dapat ditangkap telinga, melainkan sesuatu yang hanya dapat dirasakan oleh hati yang telah terlalu lama berjalan sendirian.


Langkahnya melambat. Lalu berhenti. Tubuhnya goyah. Dan tanpa perlawanan, ia jatuh. Lututnya menyentuh tanah yang lembap. Tangannya berusaha menahan, namun kekuatan itu telah lama terkikis oleh perjalanan.


“Begitu jauh…” bisiknya, hampir tanpa suara. “Kakiku…”


Setiap langkah yang telah ia ambil terasa seperti membawa seluruh dunia di punggungnya. Namun yang lebih berat dari tubuhnya, adalah harapan yang tidak boleh padam. Hutan tidak menjawab. Aroma tanah basah dan kayu tua memenuhi udara, namun tidak memberi penghiburan. Dingin merayap tanpa bentuk. Lapar datang tanpa suara. Dan perlahan, dunia mulai larut.


Suara burung, gesekan daun, desir angin, semuanya menyatu menjadi satu napas panjang yang tidak memiliki awal maupun akhir. Tubuhnya akhirnya menyerah. Kesadarannya memudar di antara mimpi dan siang yang belum sepenuhnya lahir. Dan di celah itu, sesuatu terdengar. Langkah. Ringan. Namun cukup untuk memecah sunyi, seperti setetes air jatuh ke dalam sumur tua. “Okata… apakah engkau baik-baik saja?”




---


Di Ambang Kesadaran


Ketika ia membuka mata, dunia tidak lagi berupa kabut. Yang pertama menyentuhnya bukan sutra, melainkan aroma kayu bakar. Hangat. Jujur. Tanpa upaya untuk menyembunyikan dirinya. Suara air mendidih terdengar jelas, suara yang terlalu sederhana untuk pernah ada di dalam istana.


Ia berada di sebuah ruangan kecil. Lantainya bersih, meski sederhana. Dindingnya dari kayu yang telah lama menyerap musim. Di sudut ruangan, rak kayu tersusun rapi, dipenuhi gulungan kertas. Beberapa di antaranya diikat dengan benang merah tipis, cara yang sering digunakan untuk menandai tulisan yang belum selesai. Sebuah lentera minyak menyala pelan. Cahayanya tidak terang, namun cukup untuk membuat bayangan bergerak perlahan di dinding.


Di ambang pintu terbuka, seorang pemuda berdiri. Tubuhnya tidak besar, namun perawakannya tegap. Sikapnya tenang, terlalu tenang untuk seseorang yang hidup di dunia luar. Cahaya senja jatuh di belakangnya, membuat sosoknya tampak seperti bayangan yang berdiri di antara dua dunia.

Lihat selengkapnya