Kembang di Atas Kain Sutra

Akana.T
Chapter #14

Bayangan yang Duduk di Balik Tirai


Bab 13 — Bayangan yang Duduk di Balik Tirai


Pagi di pegunungan Kurama tidak datang sekaligus. Ia merayap perlahan dari sela-sela dedaunan cedar, menyentuh ujung atap jerami yang masih menyimpan embun, lalu jatuh tipis di ambang jendela kayu, seolah cahaya itu sendiri masih ragu apakah dunia memang layak dibangunkan. Di luar, kabut tetap bertahan seperti kain putih yang belum selesai dilipat para dewa malam. Namun di dalam gubuk kecil itu, kehangatan telah lebih dahulu tiba.


Aroma bubur yang dimasak perlahan memenuhi ruangan sempit itu, hangat dan sederhana, tidak mewah, tidak pula berusaha menjadi sesuatu yang lebih dari dirinya sendiri. Ada sesuatu yang menenteramkan dalam bau beras yang direbus lama di dalam periuk tanah, seakan-akan dunia, betapapun kejamnya, masih menyisakan sudut kecil tempat seseorang boleh bernapas tanpa takut dihakimi.


Aya membuka mata sepenuhnya.


Selimut kasar namun bersih masih melingkari tubuhnya. Bukan sutra tipis berlapis-lapis seperti yang biasa menyentuh kulit perempuan istana, melainkan kain sederhana yang justru memberi kehangatan dengan kejujurannya. Ia bangkit perlahan, menarik selimut itu lebih rapat ke sekitar bahunya. Di dalam keheningan pagi yang belum selesai menjadi siang, ingatan malam sebelumnya datang kembali, satu demi satu, seperti daun kering yang disapu angin lembut melintasi beranda.


“Apakah… engkau yang disebut Pena Hujan? Tsukimi no Koe...?”


Ia masih dapat mendengar suaranya sendiri dari malam itu, suara yang nyaris tenggelam di bawah cahaya lampu minyak yang goyah. Saat itu, waktu seakan berhenti bergerak. Hanya nyala api kecil di dalam lentera yang sesekali bergetar, memantulkan cahaya redup pada mata Aya yang menunggu jawaban, dengan kesabaran yang hampir tampak seperti doa.


Hening yang mengikuti pertanyaannya terasa begitu tipis, seperti sehelai benang sutra yang dipintal terlalu halus, indah namun rawan putus hanya oleh desir napas.


“Bukan.”


Jawaban itu datang singkat, tanpa kemarahan, tanpa juga kelembutan yang hendak menenangkan. Ia jatuh begitu saja, seperti setetes hujan dingin di atas permukaan batu.


“Lalu… Tuan… siapakah nama yang patut hamba ketahui?”


Namun pemuda itu hanya memandangnya sejenak, dengan sorot mata yang tidak kasar, meskipun jelas tidak mengundang seseorang untuk melangkah lebih dekat.


“Sebuah pertemuan singkat tak memerlukan nama.”


Kalimat itu, andai diucapkan di istana dengan suara yang lebih manis dan ditemani lambaian kipas, mungkin akan terdengar seperti kecerdasan yang menawan. Namun di mulutnya, tanpa hiasan, tanpa sedikit pun niat untuk memesona, kata-kata itu menjadi dingin, telanjang, dan jujur dengan cara yang hampir kejam.


“Istirahatlah. Esok, jika kondisi Anda membaik, kita bisa mencari jalan turun.”


Begitulah ia mengucapkannya malam itu. dengan suara selembut gesekan lengan sutra, namun membawa hawa penolakan yang begitu jelas, seakan bunga plum yang tampak putih dan lembut ternyata menampung embun beku di ujung kelopaknya.


Dan pagi ini, Aya memahami maknanya sebagaimana dedaunan memahami musim gugur bahkan sebelum angin sempat menyentuh dahan. Ada kata-kata yang tak perlu dikeraskan untuk melukai; justru yang dibungkus kehalusanlah sering kali paling lihai menyusup ke dalam hati, seperti jarum halus yang disembunyikan di balik kelopak bunga.


Ia mencoba mengubah posisi duduknya.


Namun baru saja kakinya bergerak sedikit, rasa sakit yang tajam menyambar dari pergelangan hingga ke betis, datang begitu mendadak hingga ia tak sempat menyembunyikan reaksinya.


“Agh...!”


Seruan itu lolos tanpa sempat ditahan.


Pemuda yang tadi berada di dekat tungku segera menoleh.


Sejak mula wajahnya memang seperti permukaan cermin perunggu di musim dingin—tenang, dingin, dan tidak memberi pantulan lebih daripada yang diperlukan. Namun tubuhnya bergerak lebih cepat daripada pertimbangan mana pun. Ia menoleh secepat kilat, seolah rintih itu merambat langsung ke nadinya sebelum sempat sampai ke telinganya.


Sesaat kemudian ia menundukkan pandang, memeriksa kaki Aya dengan kesungguhan diam seseorang yang terbiasa meneliti goresan tinta pada gulungan kertas. Dari dekat, tampak bengkak samar di pergelangan itu, jejak perjalanan yang terlalu berat bagi tubuh yang sejak kecil lebih mengenal lantai kayu halus dan tatami harum iris ketimbang jalan pegunungan yang kasar dan lembap.


“Kakimu…” katanya pelan. “Sepertinya terkilir.”

Lihat selengkapnya