Kembang di Atas Kain Sutra

Akana.T
Chapter #15

Pagi yang Terlalu Keras untuk Disebut Biasa

Bab 14 - Pagi yang Terlalu Keras untuk Disebut Biasa


Ada pagi-pagi tertentu di pegunungan Kurama yang tidak benar-benar dimulai dengan cahaya, melainkan dengan kegaduhan kecil yang terselip di antara etiket.

Pagi itu adalah salah satunya.


“Ya Tuhan!”


Seruan itu pecah begitu saja, tanpa sempat disaring oleh kehormatan ataupun tata krama. Ia jatuh berat, seperti benda yang terlalu besar untuk ditahan oleh satu tubuh saja.

Noe memekik tertahan.

Di luar tirai, Pangeran Kagetoki-no-miya sempat terdiam.

Dalam batinnya, ia mengernyit, tidak sepenuhnya memahami apa yang baru saja didengarnya.


‘Mengapa suara itu terdengar seperti binatang gunung yang baru saja diinjak ekornya?’


Namun seorang pangeran yang dibesarkan di antara selimut sutra dan aturan yang tak tertulis belajar sejak dini bahwa tidak semua hal perlu dipahami sepenuhnya untuk tetap bisa ditanggapi dengan sopan.

Beberapa saat kemudian, setelah menata kembali wajah dan suaranya,

“Ah… Himegimi*… apakah Anda baik-baik saja…? Suaranya… agak… kuat,” tanyanya, sedikit kikuk, seolah ia sendiri ragu apakah yang didengarnya memang layak disebut “suara seorang putri”.


Jawaban tidak segera datang.

Dan keheningan, yang seharusnya menjadi pelindung bagi tata krama, justru mulai berubah menjadi sesuatu yang mencurigakan.

Noe tidak memberi kesempatan pada keheningan itu untuk tumbuh lebih jauh.

Dengan gerakan cepat yang tetap berusaha tampak anggun, ia membungkuk dalam.


“Yang Mulia… bila berkenan… izinkan hamba memeriksa keadaan Putri terlebih dahulu.”


Tanpa menunggu persetujuan, ia sudah menghilang di balik tirai.


“A...” Kagetoki bahkan belum sempat menyelesaikan satu suku kata.

Ia menatap tirai yang kini bergoyang pelan, seolah baru saja dilalui oleh sesuatu yang lebih tergesa daripada yang diizinkan oleh etiket.


“Ah… apakah tidak seharusnya aku… mengizinkannya dulu…?”


Kalimat itu terucap pelan, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada siapa pun.

Dan seperti banyak hal lain di pagi itu, tidak ada yang menjawabnya.



---


Di balik tirai, dunia berubah bentuk.

Noe bersandar pada kain sutra itu, punggungnya menempel, seolah tirai tipis itu adalah satu-satunya hal yang masih memisahkannya dari bencana yang tak terbantahkan.


“Fiuh…”

Ia mengusap keringat di dahinya, sesuatu yang terasa terlalu manusiawi untuk dilakukan di tempat yang seharusnya dipenuhi keanggunan.


Hampir saja…

“Eji-dono… Pangeran… meminta sesuatu… yang sangat tidak boleh terjadi…”

Kalimat itu jatuh pelan.

Tidak dijawab.

Keheningan menjawabnya lebih dulu.

“Eji-dono…?”


Tidak.

Itu bukan keheningan.

Itu ketiadaan jawaban.


“Eji-dono…?” ulangnya, kali ini lebih pelan, lebih hati-hati,seperti seseorang yang mulai takut pada apa yang mungkin ditemukannya.


Lalu, ia menoleh.

Dan dunia, untuk sesaat, kehilangan bentuknya.


“Kya...!!”


Pekik itu tertahan, terpotong di tengah, seperti kain yang disobek namun tidak sepenuhnya putus.


Di hadapannya,


Eji.

Lihat selengkapnya