Kembang di Atas Kain Sutra

Akana.T
Chapter #16

Embun yang Menunggu Nama

Episode 15 - Embun yang Menunggu Nama


Malam itu turun tanpa suara, sebagaimana hal-hal yang paling penting dalam hidup sering kali memilih datang tanpa pengumuman. Ibu kota menahan napasnya, tidak ada angin yang menggerakkan tirai-tirai panjang di kediaman para bangsawan, bahkan dedaunan pinus pun tampak enggan saling bersentuhan, seolah takut menciptakan suara yang mungkin ditafsirkan sebagai pertanda.

Bulan menggantung tinggi, namun cahayanya tertahan seperti wajah seorang wanita yang ditutupi lapisan tipis sutra...hadir, tetapi tidak sepenuhnya bersedia dilihat.


Di kediaman seorang Daijō Daijin, lentera-lentera dipadamkan lebih awal dari biasanya. Hal itu bukanlah kebiasaan yang dilakukan tanpa alasan, sebab dalam rumah-rumah besar, cahaya sering kali tidak dipadamkan untuk menerangi, melainkan untuk menunjukkan bahwa tidak ada sesuatu yang perlu disembunyikan. Maka ketika cahaya dipadamkan, itu berarti sebaliknya.


Hanya satu nyala kecil yang dibiarkan hidup...sebuah lampu minyak rendah yang tidak diletakkan di tengah ruangan, melainkan agak menjauh, seperti doa yang tidak ingin terdengar oleh siapa pun selain langit.


Lady Tsukiko


Di balik tirai, seorang wanita duduk tanpa bergerak, tanpa gelisah, sebab perempuan yang terbiasa hidup di tengah kekuasaan tidak pernah menunjukkan kegelisahan pada malam yang panjang... ia hanya menunda keputusan. Dialah yang dalam rumah itu dipanggil dengan kehormatan tanpa nama, Okugata-sama*.


Di serambi luar, seorang bhiksu dari Gunung Kurama menunggu, duduk lebih rendah dari ambang lantai dalam sebagaimana aturan mengharuskan seseorang dari luar untuk tidak menyamai ketinggian ruang perempuan bangsawan. Tubuhnya diam seperti bayangan pinus yang jatuh di tanah beku, dan di antara mereka tidak ada nama disebut maupun sapaan dibuka, sebab hal-hal yang paling penting tidak pernah dimulai dengan kata.


Bhiksu mata-mata Lady Tsukiko


Perlahan, dari balik tirai, sebuah lengan terjulur...putih, halus, dan tidak sepenuhnya tampak, seperti sesuatu yang hanya setengah memilih untuk hadir di dunia ini. Bhiksu itu menunduk dan menyentuh pergelangan tangan itu dengan ujung jarinya, tidak segera berbicara, seolah membaca sesuatu yang tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata. Dalam adat tertentu yang jarang diketahui oleh mereka yang tidak hidup dekat dengan kuil-kuil gunung, denyut nadi bukan hanya tanda kehidupan, melainkan cara membaca sesuatu yang belum memiliki bentuk.


Detaknya tenang...terlalu tenang, dan justru karena itu tidak menenangkan.


“Malam ini,” ujar sang Bhiksu pada akhirnya dengan suara rendah seperti kabut yang turun dari lereng Kurama, “bulan berjalan tanpa cermin.”


Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan, seakan memberi ruang bagi kata-katanya untuk tumbuh sendiri dalam keheningan.

“Seperti seseorang yang mengejar suara… yang hanya terdengar ketika pinus saling bersentuhan.”


Jari Lady Tsukiko yang semula terletak tenang di atas kain mengencang sesaat.

Seseorang telah keluar dari tempat yang seharusnya menahannya.

Bukan dengan kereta. Bukan dengan rombongan. Bukan pula dengan nama yang diumumkan kepada penjaga gerbang. Sendirian.

Aya.

Nama itu tidak perlu diucapkan.


Tsukiko menurunkan pandangan kepada bayangan lampu minyak yang bergetar kecil di lantai.

Putri Yukari telah meninggalkan kuil tanpa seorang pun menyadarinya.

Menarik.

Seorang gadis yang memilih berjalan sendirian di gunung pasti sedang menuju sesuatu... atau seseorang.


Sang Bhiksu menunduk.

Keheningan tidak menolak kata-kata itu; ia menerimanya, lalu memperpanjangnya.


“Ketika langkah berhenti,” lanjutnya, “gema tidak turut diam.”

Dan kemudian, dengan nada yang hampir tidak berubah namun cukup untuk membuat maknanya bergeser, ia berkata,


“Pinus… menghitung lebih dari dua.”


Di balik tirai, wanita itu tidak bergerak, namun di dalam dirinya sesuatu yang selama ini tertata rapi bergeser setengah langkah. Lebih dari dua...maka ada pihak lain, dan dalam dunia di mana sesuatu yang tidak disebut sering kali lebih berbahaya daripada yang dinyatakan dengan jelas, kabar itu tidak dapat diabaikan.


Dahinya sedikit berkerut, namun bibirnya tetap menyimpan garis ketenangan yang sama...senyum tipis yang tidak pernah benar-benar dimaksudkan sebagai senyum. Bayangan yang belum memilih, pikirnya, dan justru karena itu… ia paling berbahaya.


“Pinus mengingat,” ujarnya pelan akhirnya, “aku menunggu,” dan ia tidak pernah terburu-buru. “Yang belum memilih… belum boleh disentuh.”


Kalimat itu jatuh seperti perintah yang disamarkan sebagai perenungan, lalu dengan nada yang seolah berpindah ke hal lain...meski sebenarnya tidak...ia bertanya,


“Bagaimana angin di jalan selatan?”

Jalan selatan.

Tidak ada seorang pun di rumah itu yang perlu ditanya siapa yang sedang datang dari sana.

Sejak pagi, kabar tentang perjalanan seorang pangeran telah bergerak lebih cepat daripada kereta yang membawanya. Pangeran Kagetoki-no-miya telah meninggalkan ibu kota dengan alasan yang cukup sopan untuk tidak dicurigai—ziarah, doa, pergantian musim.

Alasan yang terlalu indah untuk dipercaya sepenuhnya.

Lihat selengkapnya