Bab 16 - Nama yang Menahan Napas
Hal-hal yang tampak paling tenang sering kali menyimpan kegelisahan yang paling terlatih. Sebuah paviliun kecil di sisi dalam kediaman menutup tirainya lebih rapat dari biasanya, dan dalam tata kehidupan istana, kebiasaan semacam itu jarang dilakukan demi tidur siang semata. Tirai ditutup bukan untuk beristirahat, melainkan untuk menjaga sesuatu agar tidak dipinjamkan pada mata siapa pun...sesuatu yang bahkan cahaya pun tidak diizinkan menyentuhnya dengan bebas.
Burung adalah makhluk yang paling cepat menyadari keganjilan. Ia hidup dari perubahan halus yang sering kali luput dari perhatian manusia. Maka ketika seekor burung pun tampak ragu untuk hinggap, seolah udara di sekitarnya kehilangan bentuk yang biasa ia kenali, jelaslah bahwa pagi itu tidak sepenuhnya bersedia disebut sebagai pagi yang wajar.
Di dalam paviliun, selembar gulungan kertas putih terbentang, menerima cahaya siang yang tipis. Namun alih-alih tampak bersih, cahaya itu justru membuatnya seperti memantulkan sesuatu yang tidak ingin disebutkan...sebuah kekosongan yang terlalu terang untuk menjadi sekadar kosong.
Eji memegang kuas itu cukup lama hingga jemarinya mulai kehilangan rasa. Namun tidak satu pun goresan lahir dari ujungnya. Di dunia tempat kata-kata dipilih dengan kehati-hatian yang menyerupai doa, ketiadaan kata sering kali lebih berat daripada kesalahan.
Di sampingnya, Noe menarik napas perlahan. Ia menahan dirinya dengan disiplin yang diajarkan pada perempuan istana...bahwa emosi bukanlah sesuatu yang diperlihatkan, melainkan sesuatu yang dilipat rapi di dalam diri. Bahkan bagi seorang dayang, ketidakteraturan hati adalah hal yang harus disembunyikan, terlebih ketika tirai memisahkan mereka dari seseorang yang tidak boleh dibuat menunggu tanpa alasan.
“Tulislah sesuatu…” ujarnya akhirnya, suaranya ditahan agar tidak melampaui batas kesopanan. “Sesuatu yang terdengar seperti seorang wanita yang sedang melamun.”
Eji menoleh, kebingungan yang terlalu jujur untuk disembunyikan.
“Wanita… melamun… tentang apa…?” suaranya ragu. “Tentang bunga? Bulan? A...atau makanan?”
Sejenak, keheningan itu retak.
Kertas putih itu seolah menunggu suara hati seorang wanita...sesuatu yang halus, jauh, dan tidak sepenuhnya dimaksudkan untuk dipahami. Betapa malangnya bila yang diminta menuliskannya adalah seorang pria yang bahkan belum pernah mendengar suara hatinya sendiri tanpa terganggu oleh dunia.
“Tidak… bukan makanan, Eji-dono.” Noe membuka matanya, kesabarannya menipis dalam batas yang masih berusaha ia jaga. “Jangan pernah menulis tentang makanan kepada pangeran.”
Namun kata ‘makanan’ yang barusan terucap telah cukup untuk merusak keseimbangan yang rapuh itu. Tanpa sadar, Noe kehilangan kendali yang selama ini ia pertahankan. Tangannya yang kecil mengguncang tubuh Eji yang jauh lebih besar, seolah mencoba mengguncang kata-kata keluar dari dirinya.
Andai tirai itu tidak memisahkan mereka dari dunia luar, andai tidak ada seseorang yang berdiri dengan sabar di baliknya...maka mungkin ia telah berteriak tanpa sisa.
“Baiklah… baiklah…” Eji tergagap, menyerah pada keadaan yang tidak sepenuhnya ia pahami. “Aku akan mencoba. Tetapi jangan salahkan aku jika puisi ini membuat sejarah Heian tercoreng.”
Kuas itu akhirnya bergerak.
Di atas kertas, tulisan yang menyerupai tangan Putri Aya muncul dengan indah...terlalu indah untuk dibantah. Namun bait yang lahir darinya…
'Kerlip cahaya malam…
seperti nasi kukus yang mengepul…'
“EJI-DONO!! ITU MAKANAN!!”
Seruan itu tertahan, namun cukup untuk mengguncang udara di dalam paviliun.
“Aah! Aku...aku lupa! Tunggu! Biar kutulis ulang!”
Kepanikan membuatnya semakin ceroboh. Tinta mahal yang seharusnya digunakan dengan penuh pertimbangan kini terhapus oleh lengan jubahnya sendiri, meninggalkan noda yang lebih buruk dari kesalahan awal.
Noe menahan dirinya di ambang putus asa.
Namun ketika ia melihat ketakutan yang mulai tumbuh di wajah Eji...ketakutan seorang pria yang menyadari bahwa ia sedang berdiri di tempat yang bukan miliknya...rasa iba itu perlahan menggantikan kemarahannya.
Ia meraih tangan Eji, menghentikan gemetarnya.
“Dengarkan aku,” katanya lebih pelan. “Tulislah tentang sesuatu yang tidak bisa disentuh. Sesuatu yang tidak bisa dimiliki. Bulan… kabut… atau kenangan.”
Ia berhenti sejenak, membiarkan kata-katanya menemukan tempatnya sendiri.
“Kecantikan terbesar,” lanjutnya, “sering kali berada pada hal yang tak terjangkau. Dan puisi… hidup dari hal-hal seperti itu.”
Di luar, waktu tetap berjalan.
Dan di tempat lain, sesuatu yang tidak menunggu kata...mulai bergerak.
Jika bahkan seekor burung perlu menyeka peluhnya sendiri, maka jelas pagi itu terlalu berat untuk hanya disebut sebagai pagi yang biasa.
Eji menggertakkan giginya, tekad yang sederhana namun keras mulai tumbuh di dalam dirinya.
'Jika aku bisa melewati pagi ini, pikirnya, aku akan berlatih waka selama setahun.'
Puisi mengajari manusia menata kata.
Tempat ini… mengajari manusia menata kehilangan.
Dan di antara keduanya, sebuah jalan yang belum pernah disadari mulai menghitung bagian hidup yang belum dipinjamkan.
---
Jauh dari paviliun itu, di dalam gubuk kecil di hutan Kurama yang lebih akrab dengan kabut daripada cahaya, keheningan jatuh dengan cara yang berbeda.
Tidak ada jeritan.