Kembang di Atas Kain Sutra

Akana.T
Chapter #18

Go-Ennichi


Bab 17 - Go-Ennichi


Ada nama-nama yang, meskipun telah lama dilupakan oleh lidah, tidak pernah benar-benar meninggalkan hati. Nama itu adalah salah satunya.

Untuk sesaat pemuda itu hanya diam. Tatapannya melewati wajah Aya, seolah di balik wajah yang kini dikenalnya terdapat bayang-bayang seseorang yang pernah ditemuinya pada masa ketika musim-musim belum memiliki arti selain datang dan pergi.


Tetapi kenangan, rupanya, tidak selalu kembali dengan kelembutan.

Warna merah yang sejak tadi samar di bawah kulit pemuda itu perlahan naik hingga ke leher. Ia menundukkan kepala, sementara napasnya menjadi berat dan teratur, seperti seseorang yang telah lama mengenal saat ketika rasa sakit tidak lagi dapat ditolak.

Sepasang mata Aya terbuka lebar. Ketakutan merenggut napasnya begitu cepat hingga dadanya terasa terkunci. Jemarinya mencengkeram semakin erat jubah di depan dada, sementara seluruh tubuhnya membeku di tempat, seolah sedikit saja ia bergerak, sesuatu yang lebih buruk akan keluar dari kegelapan di hadapannya.

Ia ingin memalingkan wajah.

Namun matanya tidak mampu berpaling.


Ada sesuatu pada warna merah yang bergerak di bawah kulit pemuda itu yang membuat tubuhnya mengenali bahaya lebih dahulu daripada pikirannya sendiri.

Pemuda kemudian meraih pisau kecil yang terletak di sisinya. Dengan gerakan yang begitu terbiasa hingga hampir tidak tampak sebagai tindakan yang dipikirkan, ia membuat sayatan pada lengannya. Darah segera muncul, mengalir perlahan di sepanjang kulit sebelum ditahannya dengan ujung jari.


Pada saat itulah angin dari luar berembus ke dalam.


Puluhan kertas Tanzaku di atas meja mulai terangkat satu demi satu dan berputar di udara. Kertas-kertas kecil itu seolah mengenal arah, melewati sisi Aya, kemudian bergerak ke arah pemuda seakan ditiup oleh angin yang hanya mengenal satu tujuan.

Ia mengangkat tangannya dan menangkap salah satunya.


Tanzaku itu masih bergerak di antara jarinya ketika ia menyentuhkan darahnya pada permukaannya. Dengan ujung jarinya, ia mulai menuliskan aksara yang tidak dikenali Aya. Goresan-goresan merah itu tampak seperti tulisan sutra yang dilihat dari kejauhan, meskipun bentuknya terlalu asing untuk dibaca.


Setelah baris terakhir selesai, Pemuda menjepit tanzaku tersebut di antara telunjuk dan jari tengahnya.

Di sela rasa sakit luar biasa yang mengoyak sekujur tubuhnya, Ia mulai merapal.

Suara bacaannya rendah dan hampir tenggelam oleh suara serangga malam, tetapi tidak pernah terputus. Sementara itu, warna merah di tubuhnya semakin pekat, merambat dari dada menuju bahu dan leher, seolah sesuatu di bawah kulitnya sedang berusaha menemukan jalan keluar.


Namun tangan yang memegang tanzaku tetap tidak berubah.


Hingga pada aksara terakhir, kertas itu tiba-tiba menghitam dari tengah. Tidak ada nyala yang terlihat; permukaannya hanya mengerut, menghitam, lalu luruh menjadi abu yang jatuh perlahan dari sela-sela jarinya.


Pada saat yang sama, warna merah di tubuh pemuda berhenti.

Kemudian menghilang.

Ruangan kembali seperti semula, meskipun puluhan tanzaku masih beterbangan sebelum akhirnya jatuh satu demi satu ke lantai.


Pemuda menurunkan tangannya, seluruh tenaganya luruh seketika. Wajahnya pucat, sementara darah dari sayatan di lengannya masih mengalirkan darah.

Aya memandangnya tanpa mengerti sedikitpun apa yang sedang dilihatnya.

Selain satu hal.

Setiap kali warna merah itu merambat semakin tinggi, pemuda itu menyayat dirinya sendiri. Seolah darah yang keluar dari tubuhnya dapat membeli waktu dari sesuatu yang sedang berusaha mengambilnya.

Pemuda itu menatapnya dengan pandangan yang semakin kabur. Kata itu kembali bergema di telinganya—suara Aya bercampur dengan suara kecil dari masa lalu, suara pertama yang pernah menyebutnya ‘mono no ke’. Sesudahnya, begitu banyak suara lain menyusul, hingga kata itu terdengar lebih akrab daripada namanya sendiri.

Saat itu juga sebuah kesadaran, datang tanpa peringatan, perlahan membuka kembali ingatan yang seharusnya telah lama tertutup oleh waktu... sebuah pagi di masa lalu, ketika dunia masih tampak sederhana, dan segala sesuatu belum belajar menyembunyikan maksudnya.




---

Lihat selengkapnya