Kembang di Atas Kain Sutra

Akana.T
Chapter #19

Nama yang Disembunyikan Gunung

Bab 18 — Nama yang Disembunyikan Gunung



Sejak hari itu, jalan menuju Kurama menjadi lebih sering dilalui.

Pada mulanya Yukari datang dengan alasan yang tidak akan mengundang pertanyaan. Membawa persembahan, menziarahi kuil, memohon ketenangan hati—alasan-alasan semacam itu cukup lazim bagi seorang perempuan bangsawan, terlebih ketika musim mulai berganti dan kabut gunung turun lebih rendah daripada biasanya.


Namun semakin sering ia datang, semakin sulit membedakan apakah yang membawanya ke sana adalah kewajiban atau kerinduan.


Pagi itu, ia berjalan bersama Aya kecil.


Jubah luar Yukari berwarna merah kecokelatan, dengan motif bunga yang nyaris tersembunyi di bawah cahaya pucat pagi. Di bawahnya, lapisan-lapisan uchigi memperlihatkan tepi warna yang tersusun menurut selera musim. Ketika ia melangkah, ujung lengan panjangnya bergeser perlahan, memperlihatkan warna lapisan dalam yang lebih lembut. Rambut hitamnya jatuh panjang hingga melewati punggung, bergerak setiap kali angin gunung menyentuhnya.


Aya berjalan di sampingnya dalam pakaian seorang anak perempuan bangsawan. Uchigi berwarna hijau pucat dengan corak bunga kecil membungkus tubuhnya, sementara kain ungu pada pinggangnya tampak lebih cerah daripada warna-warna hutan di sekeliling mereka.


Jalan batu masih basah oleh embun.

Di kejauhan, gerbang merah berdiri di antara pepohonan, dan kabut yang menggantung di belakangnya membuat jalan itu tampak lebih panjang daripada sebenarnya.

Yukari menggenggam tangan Aya.

Sesekali ia menunduk untuk melihat putrinya, seakan memastikan bahwa anak itu masih berada di sisinya.


Tangannya menggenggam lembut jemari Aya, menuntunnya masuk ke sebuah ruang pemujaan yang teduh. Di hadapan mereka, arca Buddha duduk tenang di atas shumidan, dikelilingi ornamen sederhana dan cahaya yang masuk samar dari celah pintu kayu. Asap dupa naik perlahan di hadapan altar, membawa harum kayu harum yang telah lama terbakar hingga memenuhi ruang dengan keheningan yang nyaris dapat disentuh.


Ia berjongkok di hadapan Aya, hingga wajahnya sejajar dengannya.


“Tunggu ibu di sini.” ujarnya lembut nyaris menyerupai bisikan angin.


Aya memandangnya, kemudian mengangguk kecil.


Yukari tersenyum, lalu berbalik menghadap arca Buddha. Ia merapatkan kedua telapak tangannya di depan dada dan menundukkan kepala. Kedua matanya terpejam rapat, seluruh perhatiannya seakan telah diserahkan kepada doa yang hendak dipanjatkannya.


Aya kecil menoleh ke arah pintu yang terbuka. Senja yang jatuh pada perayaan Go-Ennichi mulai memeluk ingatannya. Bukan kenangan yang dapat dipanggil kembali, melainkan rasa ingin tahu yang samar, yang setiap kali disentuh angin gunung seakan terbangun dari tidurnya.


Di luar, lorong kayu memanjang di antara bayang-bayang pepohonan. Cahaya pagi jatuh tipis di lantainya, dan untuk sesaat Aya merasa bahwa jalan itu sedang menunggunya.

Ia menoleh sekali kepada ibunya.

Yukari masih khusyuk di hadapan arca Buddha, kedua telapak tangannya terkatup, tidak menyadari ketika langkah kecil putrinya mulai menjauh.


Aya pun berjalan keluar. Bukan karena gelisah—melainkan karena ia ingat arah.

Samar-samar suara langkah kecilnya terdengar di atas papan kayu.


Lorong itu masih sama.


Cahaya pagi jatuh di antara celah-celah bangunan, menyentuh lantai kayu yang telah menghitam karena usia. Bau cedar, tanah lembap, dan asap dupa bercampur menjadi satu, sementara dari kejauhan terdengar bunyi lonceng yang tidak cukup keras untuk mengusir kesunyian.

Aya terus berjalan.

Barangkali ada tempat-tempat yang tidak perlu dicari karena tubuh telah mengenalnya jauh sebelum pikiran sempat memberi nama. Batu-batu tua di Kurama menyimpan lebih banyak kenangan daripada suara.


Dan di antara kenangan yang tidak diketahui siapa pun itu, seorang anak duduk sendirian di dekat air yang jernih.

Ada rasa ingin tahu yang sejak perayaan Go-ennichi tinggal diam dalam hatinya. Ketika melihat bocah kuil itu, ia tahu ke mana rasa itu selama ini menuju.

Langkah kecil itu berhenti di hadapannya.

Anak laki-laki itu mengangkat wajah.


Cahaya yang menembus sela-sela dedaunan jatuh tidak merata di wajahnya. Sebagian pipinya berada dalam bayangan, sementara cahaya tipis menyentuh matanya. Ia tidak tampak terkejut melihat seorang anak perempuan berdiri di hadapannya; hanya ada kewaspadaan yang samar, seperti seseorang yang telah terbiasa membiarkan orang lain lewat tanpa perlu mengetahui siapa dirinya.


Aya memiringkan kepala.

Barangkali bagi seorang anak, keheningan semacam itu justru terasa sebagai sesuatu yang perlu diperbaiki.

Ia mengangkat satu jari kecilnya, lalu bertanya dengan suara yang begitu ringan hingga pertanyaan itu hampir lenyap bersama bunyi air.

Lihat selengkapnya