Bab 19 - Bulan, Kabut, dan Matahari
Di balik tirai shitomi yang diturunkan setengah, cahaya pagi telah berubah menjadi warna keemasan yang lembut, menyusup di antara helaian tirai sudare dan jatuh di atas lapisan jubah yang dikenakan Eji dengan susah payah.
Setelah berulang kali dibetulkan Noe, setiap lipatan akhirnya berada pada tempatnya, tetapi ketenangan yang hendak diciptakan oleh pakaian itu sama sekali tidak berhasil menetap di wajah Eji. Dengan pandangan tertuju pada shikishi di hadapannya, ia akhirnya menyerah pada nasib yang menurutnya sudah tidak mungkin dihindari.
Eji menjatuhkan wajahnya ke atas kedua lengan yang terlipat di meja rendah.
“Selamat tinggal, dunia indah dengan nasi kukus dan dango... Malam ini aku mati.”
Noe, yang berdiri di sisinya, berhenti membenarkan lipatan lengan jubahnya dan memandangnya sejenak. Ia kemudian mengambil shikishi tersebut, merapikan ujung kertasnya, dan berkata dengan ketenangan seorang dayang yang telah menerima nasib buruk sebagai bagian dari pekerjaannya,
“Hamba akan menyampaikannya. Kuatkan hatimu, Eji-dono. Dengan keberuntungan, Yang Mulia tak akan mengerti isinya… hanya kehalusan tulisannya.”
Noe mengikat kembali shikishi itu dengan seutas pita tipis, lalu menggulungnya perlahan agar ujung kertas tidak tertekuk.
Ia bahkan mengatur pita itu sedemikian rupa hingga simpulnya jatuh tepat di tengah, lalu merapikan gulungannya dengan perhatian yang hampir berlebihan.
Jika sebuah puisi tidak cukup indah untuk membuat seseorang terkesan, setidaknya pembungkusnya haruslah indah untuk membuat orang itu lupa bertanya apa yang ada di dalamnya.
Setelah memastikan tidak ada noda tinta yang tampak pada permukaannya, ia menyelipkannya di antara kedua telapak tangan.
Di luar sudare, bayangan seseorang masih terlihat samar pada lantai kayu yang diterpa cahaya pagi. Pangeran Kagetoki belum pergi.
Noe menarik napas pelan. Kemudian, dengan langkah kecil yang nyaris tidak menimbulkan suara pada papan lantai, ia mulai mendekati tirai.
Gadis itu berhenti sejenak di hadapan sudare. Dengan satu tangan ia mengangkat sedikit tirai bambu itu, cukup untuk memberi jalan tanpa mengusik batas kesopanan yang biasa dijaga antara perempuan di balik tirai dan seorang pangeran yang menunggu di luarnya. Cahaya pagi jatuh di atas lengan jubahnya yang berwarna kuchinashi, sementara bayang-bayang daun dari taman bergerak perlahan di lantai kayu.
Di luar, Pangeran Kagetoki berdiri dalam balutan noshi berwarna hijau tua, lapisan shitagasane yang tampak samar di bawahnya, dan rambut panjangnya terurai rapi di punggung sebagaimana layaknya seorang pangeran yang belum mengenakan busana resmi untuk menghadap di istana. Noe menundukkan kepala, lalu mengulurkan gulungan shikishi dengan kedua tangan. Ia berusaha sekuat tenaga agar jemarinya tidak gemetar. Namun ada kalanya benda yang paling ringan sekalipun terasa seolah memikul seluruh dosa dunia.
“Yang Mulia… ini balasan dari Putri. Beliau masih merasa malu… namun memohon Anda berkenan membacanya,” ujarnya kemudian.
Pangeran Kagetoki menerima gulungan itu dengan kedua tangan. Senyum tipis terbit di wajahnya, begitu tenang dan penuh keyakinan hingga seolah-olah ia telah menerima sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sekadar selembar puisi. Matanya turun kepada ikatan pita yang rapi sebelum ia mengangkat pandangan sejenak ke arah tirai.
“Bila ditulis oleh beliau… pastilah seindah bisikan angin malam.”
Noe menundukkan wajah lebih dalam, menyembunyikan sesuatu yang nyaris menyerupai senyum. Betapa lucu bila seorang pria terlalu yakin akan keindahan sebelum membacanya.
Eji, yang masih berada di balik tirai, segera merundukkan tubuhnya dalam-dalam. Gerakannya begitu berlebihan hingga helaian rambut yang dipasangkan Noe menyentuh lantai. Dari tempatnya, ia hanya dapat melihat bayangan Pangeran Kagetoki yang memanjang di atas papan kayu, sementara tangan bangsawan itu perlahan membuka gulungan yang dibungkus begitu indah—seolah-olah di dalamnya tersimpan sebuah waka yang pantas dikenang sepanjang musim, bukan beberapa baris puisi yang membuat penulisnya sendiri merasa ajal telah menunggu di ujung pagi.
Untuk sesaat, segala sesuatu tampak begitu sempurna: pagi yang bening, taman yang tenang, pita yang terikat rapi, dan seorang pangeran yang bersiap membaca puisi dari seorang putri. Hanya Eji yang mengetahui bahwa di balik semua keindahan itu tersembunyi sebuah bencana kecil yang ditulis dengan tangannya sendiri.
Kain sutra tipis pembungkus puisi digerakkan pelan. Kertas merentang lembut, dan cahaya pagi menyentuh setiap goresan kaligrafi yang ditiru Eji dengan ketelitian yang nyaris sempurna. Tulisan itu memang cantik—halus seperti aliran sungai yang mengalir di bawah cahaya bulan—namun bahkan sungai yang paling jernih pun dapat menyembunyikan arus yang membawa seseorang ke tempat yang tidak diduganya.
Mata Kagetoki menyusuri baris pertama. Senyum tipis muncul di bibirnya. Untuk sesaat, ia tampak sungguh-sungguh terpesona.
Lalu dahinya berkerut.
Hanya sedikit, tetapi cukup untuk membuat Noe yang berdiri di sisinya menahan napas.