Kembang di Atas Kain Sutra

Akana.T
Chapter #21

Waka yang Membawa Angin Pergi

Bab 20 - Waka yang Membawa Angin Pergi


Kabut yang menggantung di antara batang-batang cedar kini merayap lebih dekat ke paviliun, seolah gunung hendak menyembunyikan segala sesuatu yang tidak patut dilihat oleh mata manusia. Di bawah atap berujung melengkung, lentera-lentera kecil bergoyang ditiup angin. Cahaya minyaknya jatuh terputus-putus pada lantai beranda, pada tiang kayu yang mulai menghitam dimakan usia, dan pada ujung lengan jubah seorang pangeran yang berdiri di hadapan tirai.


Kagetoki telah membaca waka yang disampaikan dari balik sudare.


Waka itu singkat. Terlalu singkat, mungkin, untuk disebut percakapan. Namun bagi seseorang yang datang membawa harapan, beberapa suku kata dapat menjadi lebih berharga daripada percakapan panjang yang dipenuhi basa-basi.


Ia menundukkan kepala sedikit, seakan masih menghormati suara yang telah lenyap di balik tirai.


“Jika demikian,” katanya lembut, “izinkan aku menyampaikan salam secara langsung. Hanya sekejap saja.”


Lalu ia melangkah.


Hanya setengah tapak.


Bagi seorang pria, langkah itu mungkin tidak berarti apa-apa. Namun bagi seseorang yang bersembunyi di balik tirai—atau bagi seorang pria yang menyamar sebagai perempuan—setengah tapak saja dapat membuka jurang yang sulit ditutup kembali.


Ujung lengan sokutai Kagetoki hampir menyentuh sudare.


Pada saat itulah Noe bergerak.


Gerakannya begitu cepat sehingga hampir menyerupai hembusan angin yang tiba-tiba menyibakkan tirai bambu. Ia maju ke depan, merentangkan kedua tangan, dan berdiri tepat di antara Kagetoki dan tirai. Lengan kimono yang dikenakannya mengembang di sisi tubuh, lapisan kainnya bergerak seperti sayap bangau yang menutup jalan menuju sarang.


Namun, bahkan dalam keadaan demikian, tubuhnya tetap membungkuk dengan hormat.


“Yang Mulia—mohon ampun,” katanya, cepat tetapi tidak meninggikan suara. “Etiket malam tidak mengizinkan tirai dibuka, terlebih ketika Putri belum bersiap.”


Kata-kata itu keluar dengan susunan yang begitu sempurna, seolah telah lama disiapkan untuk menghadapi keadaan semacam ini. Hanya napasnya yang sedikit lebih pendek, mengkhianati betapa dekatnya bencana.


Ada saat-saat ketika sopan santun harus bergerak lebih cepat daripada pikiran.


Dan Noe, yang sepanjang hidupnya telah belajar bahwa satu gerakan yang keliru dapat menimbulkan gosip lebih panjang daripada satu musim, tampaknya mengetahui hal itu dengan sangat baik.


Di balik sudare, Eji membeku.


Ia tidak lagi mengingat bagaimana harus duduk, bagaimana menundukkan kepala, atau bagaimana seharusnya seorang putri menerima salam seorang pangeran. Semua pelajaran yang selama ini hanya ia dengar dengan setengah hati mendadak berubah menjadi sesuatu yang mengancam nyawanya.


Rambut palsu yang dikenakannya terasa terlalu berat.


Salah satu helainya telah bergeser sedikit dari tempatnya. Ia dapat merasakan ujungnya menyentuh pipi dengan cara yang tidak semestinya. Seandainya Kagetoki melihatnya dari dekat, seandainya cahaya lentera jatuh sedikit lebih terang, seandainya tirai itu bergerak selebar telapak tangan—


Eji tidak berani menyelesaikan pikirannya sendiri.


Tangannya terangkat setengah, lalu berhenti di udara. Ia bahkan tidak berani menarik napas terlalu dalam, seolah udara yang keluar dari dadanya dapat menggoyangkan sudare dan menyingkap seluruh kebohongan yang telah mereka susun sejak pagi.


Untuk sesaat, ia merasa dirinya bukan lagi Eji.


Ia adalah sebuah kesalahan yang kebetulan mengenakan jubah perempuan.


Kagetoki menghentikan langkahnya.


Mata pangeran itu sedikit melebar, bukan karena marah, melainkan karena baru menyadari bahwa ketegasan Noe bukan sekadar keberanian seorang dayang yang hendak menghalangi. Ia adalah batas yang tidak boleh dilanggar.


“Ah—maafkan aku,” katanya segera. “Aku telah terlalu lancang.”


Ia menundukkan kepala kembali dan mundur dengan sikap yang terjaga.


Pria yang benar-benar terhormat, barangkali, bukanlah mereka yang selalu tahu bagaimana mendekat, melainkan mereka yang memahami kapan harus berhenti sebelum kedekatan berubah menjadi penghinaan.


Noe menurunkan kedua tangannya perlahan.


Namun ia tidak bergeser dari tempatnya.


Ia tetap berdiri di depan tirai, seperti dinding tipis yang terbuat dari kain dan kesetiaan. Wajahnya kembali tenang, meskipun setitik keringat telah muncul di dekat pelipisnya.


“Putri berterima kasih atas perhatian Yang Mulia,” ujarnya. “Waka tadi… telah menguras keberaniannya malam ini.”


Kalimat itu begitu lembut, tetapi menutup segala kemungkinan dengan sempurna.


Kagetoki tidak dapat menuntut lebih banyak tanpa tampak tidak menghormati seorang perempuan yang sedang tidak sehat. Terlebih, mereka berada di lingkungan kuil, di bawah tatapan para bhiksu dan bayang-bayang gunung yang lebih tua daripada segala urusan manusia.


“Begitu rupanya,” jawabnya.


Ia kembali menatap sudare.


Di balik tirai, Eji akhirnya menurunkan tubuhnya perlahan. Punggungnya menyentuh tiang kayu. Mulutnya terbuka, tetapi tidak ada suara yang keluar. Napas yang sejak tadi ditahannya terlepas sedikit demi sedikit, begitu pelan sehingga bahkan dirinya sendiri hampir tidak mendengarnya.


Ia tidak tahu apakah ia baru saja selamat atau hanya menunda kehancuran.


Mungkin keduanya.


Tidak ada kemenangan yang lebih sunyi daripada selamat tanpa seorang pun menyadarinya.

Lihat selengkapnya