Kembang di Atas Kain Sutra

Akana.T
Chapter #22

Api yang Berhenti Menerima Minyak

Bab 21 — Api yang Berhenti Menerima Minyak


Malam di gunung selalu datang tanpa mengetuk.


Namun malam itu, ia seakan turun lebih awal, menyelusup di antara batang-batang cedar sebelum sisa cahaya senja benar-benar meninggalkan lereng Kurama. Atap kayu paviliun kecil di En-machi no Ya* berkilau lembap, sementara kabut mulai menggantung rendah di antara akar-akar pohon, menutupi jalan setapak yang mengarah ke kuil.


Hutan begitu diam.


Bukan diam yang lahir dari ketenangan, melainkan diam yang membuat seseorang merasa seolah segala sesuatu sedang menunggu.


Di dalam paviliun, Tsukuyo duduk di atas tikar jerami, dengan kedua kaki terlipat rapi di bawah jubahnya. Lampu minyak kecil menyala di sisi ruangan. Nyala apinya tenang, memantulkan cahaya kekuningan pada permukaan kayu dan ujung lengan jubah polos yang dikenakannya.


Tidak ada suara jam air.


Tidak ada pelayan yang datang membawa kabar.


Tidak ada hitungan waktu selain perubahan udara yang perlahan merayap melalui celah-celah dinding.


Di tempat semacam itu, tubuh belajar mengenali malam dengan caranya sendiri: dari dingin yang menyentuh tengkuk, dari kelembapan yang berkumpul di ujung lengan, atau dari suara serangga yang satu demi satu berhenti terdengar.


Tsukuyo menundukkan wajah sedikit.


Dahulu, orang-orang memanggilnya dengan nama yang disertai kedudukan tinggi. Ada masa ketika tirai-tirai istana dibuka untuk menyambutnya, ketika namanya disebut bersama nama seorang perempuan yang duduk di balik kemegahan singgasana.


Permaisuri Jōka.

Putrinya.


Namun setelah kejatuhan Jōka, nama-nama yang dahulu diucapkan dengan hormat berubah menjadi bisikan yang harus dihentikan ketika seseorang mendekat. Tsukuyo pun disingkirkan dari kehidupan istana, seolah kejatuhan seorang putri dapat meninggalkan bayangan yang terlalu panjang untuk ditanggung oleh ibunya.


Pada akhirnya, ia datang ke Kurama.


Di sana, nama lamanya perlahan ditinggalkan. Ia tidak lagi dikenal sebagai Kōtaigō*, janda kaisar terdahulu dan ibu dari Permaisuri Jōka, melainkan sebagai En-yobi no Miko*, perempuan yang menjaga pertanda dan menjalankan kewajiban suci di bawah naungan gunung.

Gelar itu tidak mengembalikan apa pun yang telah hilang.


Namun gunung tidak pernah menuntut seseorang untuk kembali menjadi dirinya yang dahulu.


Selama duapuluh empat tahun, Tsukuyo telah hidup di antara doa, kabut, dan keheningan. Ia belajar bahwa ada nama yang harus disimpan, ada masa lalu yang tidak boleh dipanggil kembali, dan ada perlindungan yang hanya dapat bertahan selama tidak seorang pun berusaha membukanya.


Tapi malam itu, perubahan tersebut muncul pada nyala lampu.

Api itu bergetar tipis.

Bukan karena angin.


Tsukuyo mengangkat mata.


Nyala api yang sehat tidak ragu. Ia menerima minyak, memakan sumbu, lalu berdiri dengan keteguhan yang sederhana. Namun nyala di hadapannya seakan mendengarkan sesuatu yang tidak dapat didengar telinga manusia.


Lihat selengkapnya