Kembang di Atas Kain Sutra

Akana.T
Chapter #23

Nadome no Mamori - Perlindungan Tanpa Nama

Bab 22 — Nadome no Mamori


Malam telah turun sepenuhnya di lereng Kurama.


Aula samping kuil diselimuti cahaya lampu yang redup. Dari celah-celah lantai kayu, hawa dingin merayap perlahan, sementara kabut menggantung rendah di halaman, seolah masih mempertimbangkan apakah ia patut memasuki tempat yang telah lama dijaga oleh doa.


Kuil tidur seperti seseorang yang berpura-pura tidak mendengar.


Namun lantainya tahu—ada langkah yang tidak pernah datang tanpa sebab.


Di dalam aula, Bhiksu Jōmyō duduk menghadap sebuah meja rendah. Di hadapannya terbentang gulungan sutra, dengan beberapa baris aksara yang baru saja disalin. Kuas masih berada di antara jari-jarinya, tetapi ujungnya telah menggantung di udara.


Tangan yang terbiasa menyalin sutra mengenali saat huruf harus berhenti.


Bukan karena lelah. Melainkan karena angin telah menyela.


Pintu geser di sisi aula terbuka sedikit.

Tsukuyo berdiri di ambangnya.


Ia tidak mengetuk.


Penjaga ambang tidak meminta izin kepada pintu.


Kabut yang mengambang di luar seakan berhenti di belakangnya. Perempuan itu mengenakan jubah polos tanpa hiasan yang berlebihan, sebagaimana layaknya seseorang yang telah meninggalkan kemegahan dunia dan memilih hidup di bawah naungan gunung. Kainnya jatuh lurus hingga menyentuh lantai kayu, tanpa suara.


Jōmyō menundukkan kepala lebih dalam daripada biasanya.


Itu bukan sujud.


Bukan pula penghormatan sebagaimana yang diberikan kepada seseorang yang masih berdiri di hadapan tirai istana.


Ada orang yang tidak disambut bukan karena kedudukannya rendah, melainkan karena ia terlalu dekat dengan sebab dari sesuatu yang hendak disembunyikan.


Tsukuyo melangkah masuk.

Lima belas tahun tidak mengubah cara lantai menyambutnya.

Kayu mengingat siapa yang pernah berdiri di atasnya ketika hari hampir runtuh.

Lampu gantung di atas mereka bergoyang pelan.


Tidak ada angin.


Tsukuyo berhenti beberapa langkah dari Jōmyō. Ia tidak duduk, dan Jōmyō tidak bangkit. Jarak di antara keduanya dibiarkan tetap sebagaimana adanya, seperti batas yang telah disepakati jauh sebelum percakapan dimulai.


Mereka tidak berdiri sejajar.

Tidak pula berhadap-hadapan.

Beginilah cara dua penjaga memastikan dunia tidak salah memahami apa yang sedang berlangsung.


Untuk beberapa saat, hanya suara kayu yang mengerut oleh dingin terdengar di antara mereka.


Kemudian Tsukuyo berkata, “Api telah berhenti menerima minyak.”


Jōmyō mengangkat pandangan.

Matanya terbuka penuh, tetapi ia tidak bertanya.


Kata-kata yang tidak meminta jawaban adalah laporan, bukan percakapan.


Kabut di luar bergerak perlahan. Mula-mula hanya berupa lapisan tipis di atas tanah, lalu menyusup melewati ambang dan merayap ke lantai aula. Ujungnya menyentuh tikar tempat Jōmyō duduk, seakan sesuatu dari luar telah datang tanpa menunggu giliran hari.


Ketika kabut berani memasuki aula, berarti sesuatu telah melangkah tanpa meminta izin.


Tsukuyo menatap nyala lampu yang masih bergoyang.


“Ada seseorang,” lanjutnya, “yang melepaskan pasaknya sendiri.”


Ia tidak menyebut siapa.

Ada nama-nama yang justru harus tetap berada di luar percakapan.


Jōmyō meletakkan kuas di atas tatakan. Gerakannya tenang, hampir terlalu tenang bagi seseorang yang baru saja mendengar kabar semacam itu.


Ia telah mengetahui perubahan tersebut.


Bukan dari wajah.

Bukan dari jejak kaki.

Melainkan dari arah yang tiba-tiba terbuka.

Lihat selengkapnya