Bab 23 — Go no Noroi
Malam mengendap di antara paviliun dan pepohonan.
Namun dada Noe tidak ikut hening.
Di luar paviliun, lampu-lampu minyak bergoyang kecil di bawah atap kayu. Kabut tipis merayap di antara batang-batang cedar, menyusuri jalan setapak yang mulai kehilangan warna. Udara gunung menjadi semakin dingin, membawa aroma tanah basah dan dedaunan yang telah lama jatuh.
Di dalam ruangan, Noe duduk dengan kedua tangan terlipat di pangkuan.
Punggungnya tegak. Wajahnya tenang.
Hanya matanya yang tidak benar-benar berada di hadapannya.
Ia telah menunggu kabar dari Bhiksu Kepala Jōmyō.
Namun kabar itu tidak kunjung datang.
Pada mulanya, ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa keterlambatan tersebut tidak berarti apa-apa. Jōmyō mungkin sedang menyelesaikan doa malam, menerima laporan dari para bhiksu, atau berbicara dengan seseorang yang datang dari bagian lain kuil.
Tetapi semakin lama keheningan bertahan, semakin sulit alasan-alasan itu berdiri.
Di sisi ruangan, lampu minyak bergetar pelan.
Setiap geraknya terdengar seperti jawaban yang tertunda.
Noe mengangkat pandangan kepada nyala api itu.
Lalu, tanpa dikehendakinya, pikirannya kembali kepada Pangeran Kagetoki.
Ia masih mengingat bagaimana pangeran itu berdiri di hadapan sudare. Wajahnya tidak menunjukkan kemarahan ketika Noe menghalangi langkahnya. Ia bahkan segera meminta maaf, seolah memahami bahwa batas yang dijaga Noe bukanlah sesuatu yang patut diperdebatkan.
Ia tidak tersenyum.
Ia tidak marah.
Ia hanya pergi begitu saja.
Justru itulah yang membuatnya sulit ditebak.
Seandainya Kagetoki menunjukkan rasa tersinggung, Noe mungkin dapat menyiapkan jawaban. Seandainya ia memaksa, Noe dapat memanggil alasan etiket, keadaan Putri Aya, atau bahkan nama para bhiksu yang berada di sekitar paviliun.
Namun pangeran itu tidak melakukan semua itu.
Ia menerima waka yang ganjil tersebut dengan kesungguhan yang hampir membuat Noe merasa bersalah.
Lalu ia pergi, meninggalkan keheningan yang tidak memberikan petunjuk apa pun.
Noe menundukkan wajah.
Tirai di belakangnya bergerak lembut, disentuh angin malam yang masuk melalui celah dinding.
Tidak ada isyarat untuk ditafsirkan.
Dan itu lebih menakutkan daripada penolakan.
Bagaimana jika Kagetoki telah mengetahui sesuatu?
Tentang Eji.
Tentang nama Putri Aya.
Tentang penyamaran yang sejak awal terlalu rapuh.
Bagaimana jika ia telah melihat sesuatu di balik tirai?
Rambut palsu yang bergeser.
Gerakan tangan yang terlalu kasar.
Suara yang tidak sepenuhnya menyerupai suara seorang perempuan.
Atau mungkin, sesuatu yang jauh lebih berbahaya: cara Eji menahan napas ketika ketakutan.
Jari-jari Noe perlahan mengepal di atas kain kimono.
Ia segera melonggarkannya kembali.
Tidak pantas bagi seorang dayang memperlihatkan kegelisahan dengan cara demikian. Terlebih, kegelisahan yang tidak memiliki bukti hanya akan melahirkan dugaan baru.
Namun tidak ada kabar sering kali lebih kejam daripada kabar buruk.
Akhirnya, Noe bangkit.
Lampu minyak di belakangnya melemparkan bayangan panjang ke lantai. Ia merapikan lengan kimono, memastikan ujung kainnya tidak tersangkut pada tiang atau sudut tatami, lalu melangkah keluar dari ruangan.
Ia hendak menuju tempat Bhiksu Kepala Jōmyō.
Koridor kayu membentang panjang di bawah atap yang gelap. Cahaya dari beberapa lampu minyak jatuh dalam jarak-jarak yang tidak teratur, meninggalkan bagian-bagian lantai lainnya dalam bayangan.
Noe berjalan perlahan.
Langkahnya hampir tidak menimbulkan suara.
Seolah lantai kayu pun tidak boleh mengetahui kegelisahan yang dibawanya.
Di lingkungan istana, seorang perempuan belajar bahwa suara langkah dapat menjadi pertanda. Terlalu cepat, ia dianggap tergesa-gesa. Terlalu lambat, ia tampak menyembunyikan sesuatu. Terlalu ringan, ia dapat dianggap menguping. Terlalu berat, ia akan menarik perhatian.
Namun malam itu, Noe tidak sedang memikirkan penilaian siapa pun.
Ia hanya ingin mengetahui mengapa Jōmyō belum mengirimkan kabar.
Koridor berbelok sedikit.
Cahaya dari ruang di ujungnya tampak lebih terang daripada bagian lain. Noe memperlambat langkah, lalu berhenti sebelum mencapai pintu.
Ia nyaris tiba.
Namun ada sesuatu di dalam ruangan itu.
Seseorang.
Noe menahan napas.