Kembang di Atas Kain Sutra

Akana.T
Chapter #25

Mono no Ke

Bab 24 — Mono no Ke


Kuil Kurama, 15 tahun yang lalu...


Pada mulanya, langkah-langkah kecil itu selalu datang lebih dahulu.


Pagi di Kurama turun perlahan dari lereng gunung, menyentuh ujung-ujung atap dengan cahaya yang pucat. Kabut masih menggantung di antara batang-batang cedar, sementara tangga batu yang menuju bangunan utama kuil menyimpan basah malam di celah-celahnya.

Dari serambi bangunan samping, suara air menetes terdengar satu demi satu.


Aya berlari kecil melewati koridor. Seperti angin pagi yang mencari loncengnya. Ia memanggil meski tak selalu dengan suara.

Dan anak kuil itu selalu ada di sana — menunggu, seperti batu tua yang tahu ke mana air akan mengalir.

Namun entah sejak kapan — tanpa tanda, tanpa lonceng, arah itu berbalik.

Kini langkah kecil bocah kuil itu yang selalu menunggu suara itu kembali, menunggu ocehan yang memecah sunyi.

Ia belum tahu nama dari perasaan itu, hanya tahu bahwa kuil terasa lebih luas, ketika Aya belum datang.


Lalu datanglah malam ketika harapan ditulis untuk langit.

Tanabata...

Hari ketika nama-nama digantungkan agar bintang mendengarnya.


---


Di halaman samping kuil, beberapa batang bambu muda telah ditancapkan ke dalam wadah tanah. Lembaran-lembaran kertas berwarna digantungkan pada rantingnya, bergerak perlahan ketika angin melewati halaman. Lentera-lentera minyak dinyalakan di sepanjang serambi. Cahayanya tidak terang, tetapi cukup untuk membuat halaman kuil tampak seolah terpisah dari gunung yang gelap di sekelilingnya.


Aya datang membawa sesuatu. Bukan mainan, bukan manisan, melainkan kejutan kecil yang ia genggam erat.

Sebuah Tanzaku.

Dan di atas kertas tipis itu, tertulis satu nama — jelas, polos, tanpa ragu:

‘Kaname’

Kaname menatapnya cukup lama.


Barangkali, pada usia ketika seseorang belum mengenal betapa mudahnya dunia merenggut sesuatu yang baru saja diberikannya, sebuah nama terasa seperti rumah yang dapat dibawa ke mana-mana.


Kaname menatap tulisan itu sekali lagi. Ia mungkin ingin mengucapkan terima kasih, atau mungkin hendak bertanya mengapa Aya memilih nama tersebut untuknya. Namun ada perasaan yang terlalu bening untuk segera dijadikan kata. Ia hanya berdiri dalam cahaya lentera, membiarkan kegembiraan kecil itu menetap di dalam dada, sebagaimana embun menetap di ujung daun sebelum matahari sempat menyentuhnya.


Di hadapan tanzaku yang bergoyang perlahan, ia tampak seperti seseorang yang baru saja menerima seluruh dunia—tanpa mengetahui bahwa dunia pun dapat mendengar ketika sebuah nama dipanggil. Aya tersenyum cerah saat melihat sepasang mata bocah kuil itu mendadak berbinar

“Mulai sekarang,” katanya, “semua orang bisa memanggil namamu.”

Ia berhenti sesaat, lalu berkata,

“Kaname.”

Nama itu keluar dari bibirnya seperti sebuah panggilan yang hendak menetap.


Kaname mengangkat wajah.


Aya telah berbalik menuju bambu.

Ia mengangkat kedua tangannya, menjinjit sedikit, lalu menggantungkan tanzaku itu pada salah satu ranting yang paling rendah.


Kertas tersebut bergerak pelan.


Nama itu pun dilepaskan ke dunia.


Kaname masih berdiri di tempatnya, memandang tanzaku yang baru saja digantungkan Aya. Ia tampak hendak mengatakan sesuatu, tetapi kata-kata itu tidak segera keluar.

Lalu api lentera di dekat serambi bergetar.

Bukan karena angin.

Daun-daun bambu yang sebelumnya bergerak perlahan mendadak diam, seolah seluruh halaman menahan napas. Api lentera merunduk, dan akhirnya padam.

Perlindungan tanpa nama itu runtuh bersama dengan sirnanya cahaya.

Sebuah bunyi tajam membelah halaman.


Aya dan Kaname serempak menoleh.

Tanzaku-tanzaku yang tergantung pada bambu mulai bergoyang.

Mula-mula hanya satu.

Kemudian dua.

Lalu seluruhnya bergerak bersamaan.

Tidak seperti tertiup angin, melainkan seperti ditarik dari arah yang tidak terlihat.

Kertas-kertas itu terangkat dari ranting.

Beberapa terlepas dan jatuh ke tanah.

Yang lain berputar di udara, saling bertumbukan, lalu melayang melewati halaman. Harapan-harapan yang ditulis dengan hati-hati turun dari bambu seperti daun-daun kering yang kehilangan tempat untuk berpijak.


Mendadak Kaname tertunduk. Kedua tangannya mencengkeram pakaiannya. Wajahnya kehilangan warna. Ia mencoba menarik napas, tetapi setiap tarikan seolah berhenti di tenggorokan. Lalu tubuh kecil itu bergetar hebat.


Malam itu.. nama bukan lagi panggilan, ia menjadi pintu.

Kutukan segel darah itu tidak lagi mencari arah. Ia hanya meraih — seperti sesuatu yang telah lama menunggu untuk dipanggil.


Sebuah garis berwarna merah muncul dari balik tulang selangka Kaname. Ia tidak mengalir ke bawah, melainkan menyebar dan bercabang.

Garis-garis merah di bawah tulang selangka itu semakin jelas, membentuk pola yang tidak dikenali Aya. Cahaya lentera memantul pada kulitnya, tetapi tidak mampu membuat tanda itu tampak lebih manusiawi.

“A.. aya..”

Kaname meringkuk sambil memegangi lehernya.

Bukan angin yang mencekiknya. Bukan pula tali, melainkan nama — yang telah dipanggil terlalu keras.

Aya melangkah mundur.

Ketakutan datang tanpa suara, mula-mula hanya berupa kekosongan di dalam dada, lalu menjalar ke tenggorokan dan membuat lidahnya kelu.

Sesuatu yang pernah didengarnya muncul tanpa bentuk yang jelas—bisikan para pelayan, percakapan yang terputus ketika ia mendekat, dan kisah-kisah tentang sesuatu yang tidak seharusnya disebut di dalam rumah bangsawan.

Sesuatu yang tidak memiliki tempat di antara manusia.

Sesuatu yang datang dari kegelapan.

Sesuatu yang disebut dengan suara rendah, seolah menyebutnya saja dapat mengundangnya masuk.

Bibir Aya bergerak sebelum pikirannya sempat mencegah.

“…mono no ke…”


Kata itu jatuh dari bibir Aya kecil dengan kepolosan yang belum mengenal akibat. Namun beberapa kata, sekali dilahirkan, tidak selalu tinggal di tempat pertama kali ia diucapkan. Ada yang menunggu bertahun-tahun di dalam kabut, lalu kembali ketika seseorang telah cukup tua untuk mengingatnya sebagai dosa.




Lihat selengkapnya