Kembang di Atas Kain Sutra

Akana.T
Chapter #26

Sutra yang Hidup

Bab 25 — Sutra yang Hidup


Tidak semua kebenaran diucapkan agar didengar.

Ada kebenaran yang hanya berdiam di antara napas, di sela gerak tirai, atau pada setetes darah yang jatuh tanpa suara. Namun malam, betapapun tenangnya, selalu memiliki caranya sendiri untuk menyampaikan sesuatu yang hendak disembunyikan manusia.


Di Kuil Kurama, kata-kata digunakan untuk menahan takdir. Namun di dalam gubuk kecil yang tersembunyi di antara pepohonan cedar, takdir tidak lagi menunggu untuk dibicarakan.

Ia datang.

Tiba-tiba.

Tanpa peringatan.


---


Tanzaku itu lenyap seolah tidak pernah ada.


Sesaat sebelumnya, lembar tipis itu masih tergantung di udara, bergetar dalam cahaya lampu minyak yang pucat. Ujungnya telah menerima darah Kaname, dan tulisan yang sempat berpendar di permukaannya perlahan surut, seperti cahaya bulan yang ditelan kabut.


Lalu, tanpa suara, tanpa sisa robekan atau abu, tanzaku itu menghilang.


Yang tertinggal hanyalah udara kosong.



Kaname mencoba mengangkat tubuhnya lebih tegak. Gerakan itu sederhana, tetapi tampak seperti usaha seseorang yang sedang menarik dirinya keluar dari dasar air. Jari-jarinya mengepal di sisi tubuh. Ia tidak ingin memperlihatkan kelemahannya, namun tubuh selalu lebih jujur daripada tekad.


Ada saat ketika kemauan masih berdiri, sementara daging dan tulang telah lebih dahulu menyerah.


Pandangan Kaname mulai menggelap di tepinya. Cahaya lampu minyak yang menggantung rendah tampak memanjang, lalu terpecah menjadi bayangan-bayangan yang tidak beraturan. Sosok Aya di hadapannya menjadi samar, seolah berada di balik tirai sutra yang digerakkan angin.


Darah yang diberikan tidak pernah kembali.


Setiap pembayaran meninggalkan kekosongan yang lebih dalam daripada sebelumnya.


Lututnya bergeser sedikit. Telapak kakinya kehilangan pijakan yang mantap. Tubuhnya condong ke depan, dan Aya, yang sejak tadi berdiri dalam kebingungan, segera mengulurkan tangan.


Ia meraih bahu Kaname dengan ragu.


Jari-jarinya berhenti sejenak sebelum menyentuh kain jubah itu, seolah bahkan dalam keadaan demikian ia masih mengingat bahwa menyentuh seorang laki-laki yang bukan kerabat dekat bukanlah perkara yang dapat dilakukan tanpa alasan. Tetapi keadaan di hadapannya telah melampaui batas-batas kesopanan yang biasa dijaga di ruang-ruang kediaman.


Kain jubah Kaname terasa berat dalam genggamannya. Ada kehangatan tubuh, tetapi juga ketegangan yang aneh, seperti seseorang yang sedang menahan retak pada dirinya sendiri.


“Wakamono-dono... apakah engkau baik-baik saja?”

Suara Aya terdengar pelan. Ia berusaha menjaganya tetap tenang, sebagaimana seorang perempuan dari keluarga baik-baik seharusnya berbicara ketika berada di tempat asing. Namun ujung suaranya bergetar, dan ketakutan yang tidak berhasil disembunyikannya justru membuat pertanyaan itu terdengar lebih jujur.


Kaname tidak segera menjawab.


Kesadarannya mulai surut, tetapi bibirnya masih bergerak seperti seseorang yang belum selesai menjalankan kewajiban.

“Aya … Katakan padaku… sutra apa yang harus kutulis…?”

Ia bertanya seolah setiap luka adalah jawaban atas namanya.


Aya membeku tak sanggup menjawab. Dan sebelum ia menemukan kata, airmatanya jatuh terlebih dahulu. Tanpa alasan yang bisa ia pahami.


Satu tetes.


Lalu satu lagi.


Ia tidak tahu dari mana kesedihan itu berasal.



Ia datang ke hutan Kurama untuk mencari seseorang yang dikenal dengan nama Tsukimi no Koe, sosok yang selama ini hanya dikenalnya melalui bisikan dan kabar yang tidak pernah disampaikan secara terang.

Namun malam itu, sebuah perasaan asing yang tak bisa ia jelaskan, telah mengenalinya lebih dahulu.


Di bawah nyala lampu minyak yang hampir padam, Kaname menahan jatuhnya sendiri dengan sisa tenaga yang dimilikinya. Seolah tubuhnya adalah beban yang tidak boleh disentuhkan kepada Aya. Seolah keselamatan perempuan itu lebih penting daripada hidupnya sendiri.

Lalu kekuatannya habis.

Tubuh yang selama ini menjadi pengganti doa—tubuh yang menanggung sesuatu yang tidak dapat ditanggung oleh siapa pun—akhirnya menyerah pada sunyi.


Kaname runtuh ke dalam pelukan Aya.


Kain jubahnya bergeser, dan rambut panjangnya terurai sedikit dari ikatan. Aya bergegas menopangnya. Lengan bajunya sendiri terseret ke dalam noda darah, sementara napasnya menjadi tidak teratur.

Untuk beberapa saat, tidak ada yang bergerak.


Hanya suara angin yang menyusup melalui celah dinding kayu.


Kemudian, di lantai dekat tangan Kaname, setitik darah meresap ke dalam kayu. Mula-mula ia tampak seperti noda biasa. Namun perlahan, garis tipis menjalar dari pusatnya, membentuk lengkungan dan patahan yang menyerupai aksara segel.

Lihat selengkapnya