Kembang di Atas Kain Sutra

Akana.T
Chapter #27

Malam yang Menyimpan Rahasia

Bab 26 — Malam yang Menyimpan Rahasia


Malam di Kurama semakin dalam.


Udara yang turun dari lereng gunung membawa dingin yang meresap melalui celah-celah dinding kayu. Di lorong kuil, suara langkah Jōmyō terdengar lebih cepat daripada biasanya.


Tok—tok—tok—


Ia tidak berlari. Namun, ia tak lagi berjalan seperti seorang bhiksu.


Lengan jubahnya terangkat sedikit ketika ia melangkah melewati lorong kayu. Bayangan tubuhnya bergerak panjang di bawah cahaya lentera yang bergoyang. Wajahnya berada di antara terang dan gelap, dan cahaya kecil itu memantul di matanya.


Ekspresinya bukan marah.


Bukan pula takut.


Ia sedang menghitung.


Di hadapannya, pintu fusuma ruang Noe dan Eji tertutup rapat. Tidak ada cahaya yang menyelinap dari celahnya. Tidak terdengar suara percakapan, gerakan kain, atau bunyi langkah seseorang yang masih berada di dalam.


Jōmyō berhenti.


Lalu tangannya menggeser fusuma.


Ruangan itu kosong.


Tatami tersusun rapi. Futon telah dilipat dan diletakkan pada tempatnya. Tidak ada benda yang terjatuh, tidak ada bekas perlawanan, tidak ada suara yang tertinggal selain kesunyian.


Ruangan itu terlalu tertata bagi seseorang yang baru saja ditinggalkan secara paksa.


Pandangan Jōmyō turun ke lantai. Pada salah satu sudut tatami, terdapat lipatan kain yang tampak tergesa. Sebuah sudut tatami sedikit terangkat, dan di atasnya terlihat jejak debu tipis yang mengarah menuju pintu belakang.


Hanya tanda-tanda kecil.


Namun, terkadang hal-hal kecil lebih jujur daripada kesaksian manusia.


Rahang Jōmyō mengeras.


Bibirnya nyaris bergerak.


“…terlambat.”


Ia berbalik menuju lorong belakang.


Pintu di sana terbuka sedikit. Angin malam menyusup melalui celahnya, menggerakkan tirai bambu hingga berdesir pelan. Api lampu minyak di dekat ambang pintu bergetar, seolah nyalanya pun tidak ingin tinggal terlalu lama di tempat itu.


Di luar, halaman Kuil Kurama terbentang di bawah cahaya bulan. Tangga batu menurun menuju hutan yang diselimuti kabut tipis. Pepohonan cedar berdiri rapat, hitam dan tinggi, tanpa memperlihatkan siapa pun yang mungkin telah melewati jalan itu.


Jōmyō memandang jauh ke arah hutan.


Bukan kebetulan.


Bukan ketakutan.


Mereka tahu.


Refleksi lentera kecil bergetar di pupil matanya.


Untuk beberapa saat, ia berdiri seorang diri di ambang pintu belakang. Di hadapannya, kegelapan hutan tampak seperti mulut yang terbuka—diam, dalam, dan siap menelan segala sesuatu yang telah meninggalkan jejak.



---

Lihat selengkapnya