Bab 28 - Bayangan yang Datang Tanpa Pintu
Yasunari duduk kembali, menjaga pandangannya tetap rendah.
“Aku datang dengan maksud,” katanya pelan.
Ia membuka keranjang. Uap nasi mengepul lembut.
“Di kaki gunung ada seorang anak yang penglihatannya mendadak menghilang. Ibunya meminta dibuatkan salinan sutra. Katanya tulisan yang dikerjakan dengan tangan yang tekun akan lebih mudah sampai kepada para Buddha.”
Ia berhenti.
“Aku memikirkanmu.”
Keheningan mengikuti.
Lalu, dengan nada yang lebih ringan namun tak sepenuhnya santai, ia menambahkan:
“Namun setiap kali aku datang, selalu ada luka baru.”
Pandangannya jatuh pada balutan di lengan Kaname.
“Kau selalu berkata itu hanya kecelakaan kecil. Pisau kerja. Ranting. Batu.”
Ia tersenyum tipis.
“Tetapi luka-luka itu terlalu rapi untuk disebut kebetulan, dan terlalu sering untuk disebut nasib buruk.”
Di balik kain tipis, Aya mendengar semuanya.
Ia tidak bergerak.
Kain itu kini bukan lagi pelindung dari keterkejutan, melainkan batas antara dirinya dan kebenaran yang perlahan terungkap.
Setiap luka yang disebut Yasunari sebagai kebetulan.
Setiap balutan yang tak pernah dijelaskan.
Setiap permintaan sutra.
Dan untuk pertama kalinya, sebuah pikiran yang tidak ingin diakuinya tumbuh perlahan di dalam benaknya.
Mungkinkah doa-doa yang ditulis Kaname tidak pernah benar-benar berhenti pada sutra?
Mungkinkah setiap permintaan yang sampai kepadanya membawa sesuatu yang lain—sesuatu yang harus dibayar oleh tangan yang menuliskannya?
Aya segera menolak pikiran itu.
Tidak.
Barangkali ia hanya sedang mencari hubungan di antara hal-hal yang kebetulan terjadi bersamaan. Luka dapat berasal dari banyak perkara. Darah dapat jatuh karena banyak sebab. Bahkan seseorang yang hidup sendirian di gunung tentu tidak akan selalu luput dari kecelakaan.
Namun semakin ia mencoba menyingkirkannya, semakin jelas satu hal yang justru tidak dapat ia abaikan.
Luka-luka itu selalu datang setelah tinta mengering.
Ia teringat tangan Kaname yang gemetar ketika menulis, tanzaku yang lenyap setelah menerima darahnya, serta cahaya aneh yang sempat bergetar di antara aksara.
Di istana, seorang perempuan belajar bahwa banyak hal tidak perlu dilihat untuk dapat diketahui. Kadang-kadang cukup dengan memperhatikan apa yang berubah setelah sebuah pintu ditutup.
Dan setiap kali Kaname menulis untuk seseorang, sesuatu di dalam dirinya tampaknya ikut berkurang.
Aya menundukkan wajah lebih dalam.
Ia belum mengetahui apakah dugaan itu benar.
Namun pagi itu, untuk pertama kalinya, ia mulai takut bahwa mungkin selama ini ia tidak sedang melihat seorang penulis yang menolong orang lain melalui sutra.
Mungkin ia sedang melihat seseorang yang perlahan menyerahkan dirinya sendiri, sehelai demi sehelai, kepada doa orang-orang yang datang kepadanya.
Kabut di luar terangkat perlahan. Namun di dalam gubuk kecil itu, pagi belum benar-benar lahir.
Karena ada hal-hal yang tidak memerlukan cahaya untuk terlihat.
Dan ada doa-doa yang, sekali diberi makan, akan kembali menagih.
Di dalam gubuk itu, percakapan telah berhenti.
Yasunari duduk dengan tubuh agak condong ke depan, tangannya masih berada di dalam lengan jubahnya sebagaimana adat yang pantas ketika berada di hadapan seorang perempuan yang belum dikenalnya. Keranjang rotan di sampingnya terbuka sedikit, dan aroma nasi hangat yang dibungkus daun bambu menyebar perlahan ke udara dingin.
Kaname berdiri tidak jauh dari tempat Aya duduk.
Ia tampak tenang—mungkin terlalu tenang bagi seseorang yang jelas kehilangan banyak darah pada malam sebelumnya. Namun mereka yang mengenalnya tahu bahwa ketenangan seperti itu bukanlah tanda ketiadaan beban, melainkan cara seorang pria menata jarak antara dirinya dan dunia.
Yasunari berkata dengan nada ringan yang berusaha menjaga percakapan tetap sederhana.