Bab 29 - Utara yang Hilang
Pagi di lereng Kurama datang tanpa upacara.
Tidak ada suara lonceng kuil yang menandainya, tidak pula cahaya yang tiba-tiba menerangi hutan. Yang ada hanyalah perubahan perlahan pada warna kabut—dari kelabu pekat menjadi kelabu yang sedikit lebih ringan—seolah malam, setelah lama bertahan, akhirnya mengalah karena kelelahan sendiri.
Di antara batang-batang cedar yang tinggi, dua orang berjalan dengan langkah yang tidak lagi setergesa malam sebelumnya.
Noe masih berada di depan.
Namun kini langkahnya tidak lagi seperti seseorang yang berlari dari bayangan. Ujung lengan kimono pelayannya sudah basah oleh embun, dan rambut yang semalam tertata rapi kini terlepas beberapa helai di pelipisnya.
Eji berjalan beberapa langkah di belakang.
Usianya yang telah melewati empat puluh lima tahun biasanya tidak terlalu terasa dalam pekerjaan sehari-hari. Akan tetapi setelah berlari hampir sepanjang malam di jalan setapak yang tak jelas, bahkan seseorang yang telah lama bekerja di halaman kuil pun mulai merasakan keberatan pada lututnya.
Beberapa saat mereka berjalan tanpa berkata apa-apa.
Burung pertama di hutan itu mulai bersuara—suara kecil yang terdengar hampir ragu-ragu, seolah ia sendiri belum yakin pagi benar-benar telah datang.
Akhirnya Noe berhenti.
Ia menoleh sedikit ke arah belakang.
“Eji-dono.”
Eji juga berhenti. Ia meletakkan tangannya sebentar di batang cedar terdekat, bukan karena tidak mampu berdiri, melainkan karena pohon itu tampak cukup dapat dipercaya untuk dijadikan teman beristirahat sejenak.
“Ya.”
Noe menatap ke sekeliling.
Hutan tampak sama ke segala arah. Jalan setapak yang mereka ikuti sejak malam tidak lagi terlihat jelas; hanya tanah lembap dengan daun-daun yang telah mereka injak sendiri.
Ia ragu-ragu beberapa saat sebelum berkata,
“Sejak semalam… kita terus berjalan ke utara, bukan?”
Eji memandang ke depan.
Lalu ke samping.
Lalu ke arah yang entah mengapa terasa sedikit berbeda dari yang lain.
“Begitulah niat kita.”
Jawaban itu disampaikan dengan ketenangan yang sopan.
Noe menatapnya.
Ada sesuatu pada cara Eji berbicara yang selalu membuat kalimatnya terdengar benar, bahkan ketika arti sebenarnya masih agak kabur.
“Namun…” Noe melanjutkan dengan hati-hati, “apakah arah ini benar-benar utara?”
Eji mengangkat wajahnya sedikit, seolah-olah hendak memeriksa langit.
Kanopi cedar masih menutup sebagian besar cahaya, tetapi di sela-sela cabang, langit pagi mulai tampak pucat.
Ia mengangguk perlahan.
“Jika seseorang memutuskan berjalan ke utara,” katanya dengan penuh pertimbangan, “maka langkah pertama yang ia ambil tentu harus mengarah ke sana.”
Noe berkedip.
Kalimat itu terdengar sangat masuk akal, namun setelah dipikirkan sejenak, manfaatnya bagi keadaan mereka tidak segera terlihat.
Beberapa langkah kemudian ia bertanya lagi.
“Eji-dono… apakah Anda benar-benar tahu arah utara?”
Pertanyaan itu diucapkan dengan nada yang sangat sopan—nada yang biasanya dipakai ketika seseorang bertanya kepada pejabat istana apakah ia kebetulan mengetahui sesuatu yang sudah seharusnya ia ketahui.
Eji tidak langsung menjawab.
Ia memandang ke langit sekali lagi.
Cahaya pagi kini sedikit lebih terang. Kabut tipis bergerak di antara batang pohon, dan di kejauhan seekor burung lain menjawab panggilan burung pertama.
Setelah beberapa saat ia berkata,
“Dalam perjalanan yang panjang seperti ini, seseorang sering kali tidak terlalu memikirkan nama arah yang ia tempuh.”
Noe menatapnya tanpa berkedip.
Jawaban itu, sekali lagi, terdengar sangat bijaksana—dan sekali lagi tidak terlalu membantu.