Bab 30 - Apa Kita Pernah Bertemu?
Ketika Yasunari akhirnya meninggalkan gubuk itu, matahari telah condong jauh ke barat. Bayang-bayang pohon cedar memanjang di lereng, sementara langkahnya perlahan lenyap di antara batang-batang pohon yang diselimuti cahaya pucat senja. Setelah itu, Kurama kembali kepada kesunyiannya, seolah kedatangan seorang tamu tadi hanyalah sesuatu yang sebentar singgah di antara kabut dan kemudian dibawa pergi olehnya.
Di depan gubuk, Kaname sedang membelah kayu.
Bunyi kapak jatuh berulang dengan irama yang tetap.
Tok.
Tok.
Gerakannya tidak tergesa-gesa. Seolah tubuh yang semalam kehilangan begitu banyak darah tidak pernah mengenal kelemahan, atau mungkin ia hanya telah terlalu lama hidup bersama rasa sakit sehingga tidak lagi menganggapnya sebagai sesuatu yang patut diperhatikan.
Aya duduk di dekat ambang pintu.
Ia tidak menawarkan bantuan, juga tidak bertanya mengapa Kaname masih melakukan pekerjaan itu setelah apa yang terjadi malam sebelumnya. Ia hanya memandang, dengan ketenangan seseorang yang mulai menyadari bahwa ada banyak hal pada diri lelaki itu yang tidak dapat dipahami hanya dengan bertanya.
Setelah kayu yang dibelahnya terkumpul cukup banyak, Kaname membawanya masuk. Ia menaruh beberapa batang di dekat irori, lalu meletakkan sebuah wadah berisi air di atasnya.
Gerakannya sederhana dan teratur, seperti seseorang yang telah bertahun-tahun melakukan segala sesuatu tanpa mengharapkan tangan lain datang membantunya.
Keheningan pun tinggal di antara mereka.
Hanya sesekali terdengar bunyi kayu yang retak, dan dari luar dinding, suara angin yang melewati lereng membawa bau tanah serta dedaunan yang mulai lembap oleh sore.
Aya akhirnya berkata,
“Semalam...”
Kaname masih membilas beras di dalam mangkuk kayu.
Air yang disentuh jemarinya beriak perlahan.
“Tadi malam, ketika kau belum sadar sepenuhnya,” lanjut Aya, “kau memanggil namaku.”
Tangan Kaname berhenti sejenak.
Namun ia tidak mengangkat wajah.
“Aku tidak merasa pernah memperkenalkannya.”
Aya menatapnya.
“Bagaimana kau bisa mengetahuinya?”
Kaname mengangkat mangkuk itu dan menuangkan airnya keluar melalui celah jendela.
“Mungkin hanya kebetulan.”
Ia kembali menunduk kepada beras yang tersisa.
“Nama adalah sesuatu yang mudah terbawa angin.”
Aya tidak segera menjawab.
Ada jawaban yang, meskipun terdengar sederhana, justru membuat seseorang semakin ingin mengetahui apa yang sengaja disembunyikan di baliknya.
Ia memandang wajah Kaname dari samping.
“Entah ini hanya perasaanku...” katanya setelah beberapa saat, “tetapi sikapmu terasa seperti seseorang yang telah lama mengenalku.”
Kaname tetap diam.
Aya menurunkan pandangan.
“Apakah kita pernah berjumpa sebelumnya?”
Untuk beberapa saat, tidak ada jawaban.
Tangan Kaname masih berada di atas mangkuk kayu, tetapi gerakannya telah berhenti.
Pertanyaan itu datang lima belas tahun terlambat.
Dalam ingatannya, sebuah malam Tanabata masih tersimpan seperti selembar tanzaku yang tidak pernah jatuh dari ranting bambu—kecil, ringan, namun tidak pernah benar-benar hilang dari pandangan.
Seorang gadis kecil pernah berdiri di hadapannya.
Dengan tangan yang belum mengenal ragu, gadis itu telah memberinya sebuah nama.
Untuk pertama kalinya.
Dan pada saat itu, sesuatu yang selama ini tidak pernah ia miliki terasa begitu dekat, seolah hanya dengan dipanggil, seseorang dapat memperoleh tempat di dunia.
Namun gadis kecil itu kini duduk beberapa langkah darinya.
Wajahnya telah berubah oleh tahun-tahun yang telah berlalu.
Suara yang dahulu begitu ringan kini membawa kesopanan seorang perempuan dewasa.
Dan yang paling menyakitkan, ia menatap Kaname seperti seseorang yang belum pernah mengenalnya.
Kaname akhirnya berkata,
“Kita mungkin pernah berada di tempat yang sama.”
Ia meletakkan mangkuk itu di sisi irori.
“Namun waktu sering kali menghapus hal-hal kecil seperti itu.”
Aya memandangnya cukup lama.