Kembang di Atas Kain Sutra

Akana.T
Chapter #31

Harga yang Tidak Pernah Ditawar

Bab 31 - Harga yang Tidak Pernah Ditawar


Kaname masih duduk di tempatnya semula, tenang di hadapan irori yang apinya menyala kecil. Di hadapannya, mangkuk nasi masih mengepulkan uap tipis, dan Aya masih memegang sumpit di antara jari-jarinya. Segalanya tampak seperti beberapa saat sebelumnya, seolah waktu tidak bergerak dan percakapan mereka belum membawa apa pun ke tempat yang berbeda.


Tidak ada yang berubah di ruangan itu.


Hanya cara Aya melihatnya.


Ia telah melihat akhirnya.


Refleksi api yang bergetar di matanya kini tampak terlalu jelas. Tidak seperti bayangan yang datang dalam penglihatan dan menghilang sebelum sempat dipahami, apa yang dilihatnya kali ini justru menetap dengan ketenangan yang membuat dadanya terasa semakin sesak.


Tangannya berhenti.


Sumpit yang tadi hendak menyentuh nasi tertahan beberapa saat di udara. Jari-jarinya gemetar sangat halus, tetapi ia menahannya sedemikian rupa hingga hampir tak terlihat.


…tik…


Ujung sumpit nyaris menyentuh bibir mangkuk.


Untuk pertama kalinya, tangannya ragu untuk bergerak.


Aya perlahan menurunkan sumpit itu. Ia belum menyentuh makanannya. Setelah beberapa saat, ia mengangkat wajah kepada Kaname.


“Jika seseorang menuliskan sutra itu…”


Suaranya terdengar sangat lirih, gemetar, menahan rasa gugup yang bergejolak dalam dadanya.


Kaname tidak segera memandangnya. Matanya tetap tertuju kepada api di hadapan mereka.


…krek…


Sebuah ranting kecil di dalam irori patah, mengirimkan percikan merah yang segera lenyap di antara bara.


Aya menarik napas pelan.


“…apakah ia selalu mengetahui apa yang akan terjadi setelahnya?”


Tangan Kaname yang berada di dekat irori tetap diam.


Tidak gemetar.


Tidak berubah.


Api kembali berderak.


Krek… krek…


Api tidak pernah menjawab pertanyaan.


Ia hanya terus memakan apa yang diberikan kepadanya.


Aya menundukkan pandangan. Sumpit masih berada di tangannya, tetapi tidak lagi bergerak. Sejenak ia berharap Kaname akan mengatakan sesuatu—apa pun, bahkan sebuah jawaban yang membuatnya dapat menolak apa yang telah dilihatnya.


Namun ia tidak menjawab.


Baginya, diam pun… adalah sebuah jawaban.


Sesaat hening mengisi ruang di antara mereka.


Kaname akhirnya berdiri perlahan. Gerakannya tenang, sebagaimana seseorang yang telah mengambil keputusan jauh sebelum keputusan itu diucapkan. Ia masih tidak menatap Aya.


“Kembalilah ke istana.”


Ada jeda kecil sebelum suaranya terdengar lagi.


“Aku akan menuliskannya.”


Aya tidak terkejut.


Ia hanya terhenti.


Barangkali karena jauh di dalam dirinya, ia telah mengetahui bahwa jawaban itulah yang akan diberikan Kaname.


Keputusan yang tidak diminta.


Namun tetap terjadi.


---


Keesokan harinya, tidak ada yang mengantarnya ketika Aya meninggalkan gubuk itu.


Langit pagi mulai memucat di antara batang-batang sugi. Cahaya matahari yang baru naik perlahan menyusup ke lereng, sementara sisa kabut menggantung rendah di antara pepohonan, membuat jalan setapak tampak samar di balik warna putih yang tipis.


Pintu gubuk masih terbuka.


Aya berdiri beberapa saat di hadapannya.


Ia menoleh sedikit ke arah pintu, seolah menunggu sesuatu yang tidak benar-benar ia harapkan. Tidak ada suara langkah dari dalam. Tidak terdengar panggilan yang memintanya kembali. Ruang di balik pintu hanya tampak gelap dan tenang.


Ia pun tidak menunggu.


Aya melangkah turun.


Jalan yang sama yang beberapa waktu lalu ia lalui untuk mencapai gubuk itu kini terasa lebih panjang.


Ia berjalan di antara pepohonan sugi dengan langkah perlahan dan teratur. Kabut tipis masih menggantung rendah di lereng, sementara cahaya pagi yang pucat perlahan menyusup di antara batang-batang pohon.


Tangannya sesekali menggenggam lengan kimono sendiri, sebuah gerakan kecil yang hampir tidak disadarinya, seolah dengan demikian ia dapat menahan sesuatu agar tidak terlepas dari dalam dirinya.


Angin gunung tidak berubah.


Daun-daun sugi bergesekan di atas kepala, mengeluarkan suara panjang yang lembut dan tidak beraturan.


Saaa…


Suara itu menyusup di antara batang-batang pohon, sama seperti sebelumnya, ketika ia belum mengetahui apa yang kini diketahuinya.


Wajahnya tetap tenang, sebagaimana layaknya seorang hime yang telah dibesarkan untuk tidak memperlihatkan kegelisahan kepada dunia. Namun ketenangan itu tidak lagi memiliki ringan yang sama.


Apa yang dilihatnya di dalam gubuk itu terus mengikutinya, meskipun tidak ada satu pun bayangan yang berjalan di belakangnya.


Beberapa kali ia merasa seolah mendengar bunyi pintu gubuk bergeser, tetapi ketika menoleh, yang terlihat hanya jalan yang telah dilewatinya dan dahan-dahan sugi yang bergerak pelan diterpa angin.


Tanpa sadar, Aya mencengkeram lengan bajunya.


Ia telah melihat akhirnya.


Namun ia tidak melihat adanya jalan untuk kembali ke percakapan yang belum selesai.


Lihat selengkapnya