Kembang di Atas Kain Sutra

Akana.T
Chapter #32

Nama yang Kembali

Bab 32 — Nama yang Kembali



Bahkan dalam ketidaksadaran, hatinya tidak berhenti menangis.


Entah berapa lama ia telah terbaring demikian.


Di dalam gelap yang pekat, tidak ada suara yang dapat dikenali, tidak pula cahaya yang cukup untuk memberitahunya apakah malam masih bertahan atau fajar telah lama tiba. Hanya sesekali bias lentera menyentuh kegelapan, begitu samar hingga nyaris tampak seperti cahaya yang lahir dari mimpi.


Di pipinya masih terdapat jejak air mata.


Sebagian telah mengering, meninggalkan garis tipis yang terasa dingin di kulit. Namun jejak itu tidak benar-benar terputus. Air mata yang baru perlahan menimpa bekas yang lama, seolah kesedihan yang satu belum sempat mengering sebelum kesedihan berikutnya datang.


Sejak meninggalkan tempat itu— tidak pernah benar-benar berhenti.


Napas Aya terdengar pelan.


“…hff…”


Kelopak matanya bergerak.


Perlahan, seakan harus menempuh jarak yang jauh untuk kembali kepada dunia, matanya terbuka.


Mula-mula yang terlihat hanyalah cahaya.

Kecil.

Lembut.


Berpendar di suatu tempat di hadapannya.


Pantulan lentera bergoyang samar di dalam pupilnya. Air mata yang sejak tadi memenuhi sudut matanya mengalir perlahan menuju pelipis, sementara pandangannya masih belum mampu membedakan bentuk dengan jelas.


Langit-langit kayu kuil muncul sedikit demi sedikit dari kegelapan.


Serat-serat kayu tampak seperti bayangan yang bergerak. Cahaya lentera di sisi ruangan berpendar pada permukaannya, sementara bayang-bayang pepohonan di luar bergerak perlahan pada celah shōji.


Dunia terasa jauh.

Begitu jauh hingga untuk sesaat Aya tidak yakin apakah ia benar-benar telah terbangun.


Kemudian ia melihat seseorang.


Di kejauhan, di sisi lain ruangan, seorang bhiksu duduk dengan tenang.


Jubahnya yang sederhana jatuh lurus menutupi tubuhnya. Cahaya lentera di sampingnya hanya menerangi sebagian wajah tua itu, membiarkan sisi lainnya tenggelam dalam bayangan.


Bhiksu Jōmyō.


Ia tidak bergerak.


Tidak bertanya apakah Aya telah sadar.


Tidak pula tergesa mendekatinya.


Seolah-olah ia telah menunggu sejak lama dan mengetahui bahwa ada hal-hal yang tidak dapat dibangunkan hanya dengan suara.


Aya menelan napas.


Ia mencoba mengangkat tubuhnya.


Gerakannya kecil, tetapi cukup untuk membuat kain sederhana yang dikenakannya bergeser di atas tatami. Tidak ada lagi lapisan-lapisan jūnihitoe yang biasa membungkus tubuhnya di istana. Di tempat ini, jauh dari tatapan para bangsawan, pakaian yang dikenakannya jauh lebih ringan dan sederhana—sebuah kosode putih pucat dengan obi berwarna lembut yang mengikatnya di pinggang.


Tangannya berhenti di pangkuan.


Jari-jarinya masih terasa lemah.


Beberapa saat ia hanya menundukkan wajah.


Kemudian, entah dari mana keberanian itu datang, bibirnya bergerak.


“Entah sejak kapan…”


Suaranya begitu lirih hingga hampir lenyap sebelum mencapai sisi ruangan.


Jōmyō tetap diam.


Aya menarik napas.


“Perasaan ini telah tinggal…”


Ia berhenti.


Seperti seseorang yang takut bahwa kata berikutnya akan membuka pintu yang selama ini sengaja ditutup oleh ingatan.


Tatapannya turun.


“Seolah… aku pernah mengenalnya…”


Malam tetap diam.


Hanya nyala lentera yang bergerak perlahan.


Aya mengangkat wajahnya sedikit.


Air mata kembali berkumpul di matanya.


Dan kali ini, sebuah nama keluar dari bibirnya dengan suara yang hampir tidak terdengar.


“…Kaname…”


Nama itu berdiri sendiri di antara mereka.

Kecil.

Rapuh.


Hampir tenggelam di dalam gelap.


Aya menarik napas pendek.


“Dan hati ini…”


Bibirnya bergetar sedikit.


“mengapa terasa demikian rapuh…”

Lihat selengkapnya