Bab 33 — Ikatan yang Dipilih
Malam telah turun sepenuhnya di Kurama.
Kabut tipis bergerak perlahan di antara batang-batang bambu, menyentuh tanah yang lembap lalu terurai kembali ketika angin gunung datang dari sela pepohonan. Tidak ada suara manusia di halaman itu, hanya desir daun bambu yang sesekali saling bergesekan, seperti bisikan yang tidak pernah selesai.
Aya berdiri di hadapan rumpun bambu. Tubuhnya tampak kecil di bawah langit malam yang luas. Pakaian sederhananya bergerak pelan diterpa angin, sementara rambut hitam panjang yang jatuh melewati punggungnya ditahan oleh seutas tali pengikat yang sederhana.
Di tangannya, tanzaku itu masih belum dilepaskan.
Selembar kertas tipis dengan satu nama yang telah mengubah terlalu banyak hal.
Kaname.
Aya menatapnya beberapa saat sebelum perlahan menyelipkan tanzaku itu di antara batang-batang bambu. Gerakannya begitu hati-hati hingga seolah ia sedang meletakkan sesuatu yang rapuh di tempat yang tidak boleh membuatnya terluka. Kertas itu masuk di sela batang dan untuk sesaat tetap diam di sana, belum jatuh, tetapi juga belum benar-benar tertahan.
Aya masih menatapnya ketika angin datang.
Kabut bergerak melintas di antara bambu.
Srrr…
Tanzaku bergetar halus. Mula-mula hanya sedikit, lalu semakin jelas ketika salah satu ujungnya terangkat dari sela batang. Angin bertiup semakin kencang, seolah menguji keteguhan kertas kecil itu untuk tetap tinggal. Ketika tanzaku hampir terlepas, tangan Aya segera bergerak menahannya.
Jemarinya menggenggam kertas tersebut dengan tegas.
“Ia tidak boleh terlepas.”
Kata-kata itu nyaris hanya menjadi bisikan yang ditelan malam. Aya tetap menahannya sementara angin gunung kembali melewati rumpun bambu.
Pada saat itulah terdengar langkah pelan dari belakang.
Noe datang membawa sebuah uchigi. Ia mendekat tanpa banyak suara, lalu dengan gerakan yang telah begitu biasa dilakukannya, menyelimutkan uchigi itu ke tubuh Aya. Ia tahu malam di gunung dapat menjadi jauh lebih dingin daripada yang tampak, terlebih ketika angin mulai turun dari lereng.
“Angin malam terlalu dingin, himegimi…”
Aya tidak menoleh. Tangannya masih menahan tanzaku, sementara tatapannya tertuju pada nama yang tertulis di atas kertas itu.
“Go no Noroi tidak menghentikan kekuatan itu. Ia hanya memastikan bahwa setiap tulisan… memiliki harga.’ bisiknya pada dirinya sendiri.
Angin datang lagi. Rambut Aya bergerak perlahan, dan tali pengikat yang menahannya ikut bergeser mengikuti hembusan. Aya terdiam sejenak. Bersamaan dengan itu, jemarinya mulai kehilangan tenaga, hingga perlahan genggamannya pada tanzaku mengendur.
“Namun harga itu selalu ditanggung oleh satu orang.”
Seketika, mata Aya sedikit membesar.
Sebuah pemikiran melintas begitu tiba-tiba hingga untuk sesaat ia seakan baru saja melihat cahaya di ujung jalan yang selama ini tertutup kabut. Ia menatap lekat-lekat tanzaku di hadapannya, dan kali ini tatapannya telah berubah. Ada keyakinan yang perlahan tumbuh di sana.
“Berarti…”
Gumamannya begitu pelan hingga hampir tidak terdengar. Noe tanpa sadar mendekatkan wajahnya sedikit, berusaha menangkap kata yang mungkin terlewat, meskipun ia tahu Aya tidak akan mengulanginya.
Aya masih menatap tanzaku itu.