Bab 34 — Ikatan yang Menahan Takdir
Angin telah mereda, namun sesuatu masih terasa tertahan di antara rumpun-rumpun bambu Kurama.
Noe masih tak bergeming dari tempatnya berdiri.
Ia tidak sedang menjaga tanzaku itu. Hanya saja, sejak melihat apa yang dilakukan Himegimi-nya beberapa saat sebelumnya, kakinya seakan enggan membawanya pergi.
Gerakan Aya yang begitu tenang ketika melepaskan tali pengikat rambutnya dan menggunakannya untuk menahan tanzaku pada batang bambu. Tidak ada keraguan dalam gerakan itu. Tidak ada pula tatapan seseorang yang sedang bertindak karena dorongan sesaat. Seolah melepaskannya adalah hal biasa yang tak ada artinya bagi seorang putri bangsawan.
Suara langkah kemudian terdengar dari arah jalan setapak. Noe tidak perlu menoleh untuk mengetahui siapa yang datang. Langkah itu berhenti beberapa langkah di belakangnya, dan sesaat kemudian suara lelaki yang lebih tua terdengar dengan sopan.
“Noe-dono…”
Noe baru menjawab setelah beberapa saat.
“Eji-sama…”
Eji tidak segera melanjutkan percakapan. Setiap kali Noe menyebutnya ‘Eji-sama’ ada penekanan dalam nadanya dan kelanjutannya biasanya tak mudah.
Ia berdiri di belakang Noe dan membiarkan pandangannya mengikuti arah yang sama, menuju tanzaku yang terikat di antara batang-batang bambu. Hanya suara daun yang bergesekan perlahan terdengar di sekitar mereka.
Akhirnya Noe bertanya, “Apakah… engkau melihatnya tadi?”
“Jika yang engkau maksud adalah tindakan Himegimi…” Eji menjawab dengan suara rendah, “...aku melihatnya.”
Noe menundukkan pandangan. “Itu bukan sesuatu yang seharusnya dilakukan.”
Ia terdiam sejenak sebelum melanjutkan, kali ini dengan suara yang lebih berat.
“Namun… bukan itu yang membuatku takut.”
Tatapannya kembali kepada tanzaku.
“Ia tidak ragu. Seolah… ia telah memutuskan sesuatu jauh sebelum malam ini.”
Eji tidak mengatakan apa-apa. Matanya menyipit sedikit, bukan karena terkejut, melainkan seperti seseorang yang mendengar sesuatu yang telah lama tersimpan di dalam pikirannya sendiri.
Noe menarik napas perlahan.
“Eji-sama…”
“Hmm?”
“Perasaan ini… tidak tenang.” Ia memilih kata-katanya dengan hati-hati. “Seperti sesuatu yang tidak seharusnya diikat… telah dipaksa untuk tinggal.”
Untuk beberapa saat Eji hanya memandang kegelapan hutan di hadapan mereka. Ia tidak menyangkal perkataan Noe, tetapi tidak pula mencoba menenangkannya. Ketika akhirnya berbicara, suaranya tetap tenang.
“Hal-hal yang dipilih oleh Himegimi… jarang dapat dihentikan oleh orang lain.”
Noe terdiam.
Jawaban itu justru membuat hatinya semakin tidak tenang.
Ia menundukkan kepala sedikit, kemudian seperti seseorang yang telah terlalu lama menyimpan sebuah pertanyaan, berkata, “Eji-sama… ada satu hal… yang sejak lama ingin kutanyakan.”
Eji mengalihkan pandangan kepadanya.
“Jika itu dapat kujawab.”
Noe memandang wajah lelaki itu sejenak sebelum berkata, “Pada malam ketika kita tersesat di hutan… kita tidak dapat menemukan jalan keluar.”