Bab 35 — Sumpah di Bawah Bambu
Untuk sesaat, Eji terdiam, seakan kata-kata yang hendak diucapkannya telah sampai di bibir, tetapi memilih untuk kembali disimpan di dalam dada. Ia kemudian menata kembali sikapnya dengan gerakan kecil yang nyaris tidak berarti, seolah percakapan yang baru saja berlangsung bukanlah sesuatu yang perlu dibawa lebih jauh.
Angin malam bergerak perlahan di antara rumpun bambu. Tanzaku yang terselip di antara batang bergoyang lembut, kemudian kembali diam.
“Ada satu perkara… yang barangkali luput dari ingatan hamba,” ujar Eji akhirnya, dengan nada yang dibuat seringan mungkin. “Tentang kedatangan seorang tamu terhormat.”
Noe tidak menyela. Perhatiannya tetap tertuju kepadanya.
“Apakah kiranya engkau telah berkenan menyampaikan kepada Himegimi…” Eji berhenti sejenak sebelum melanjutkan, “…bahwa Pangeran Kagetoki telah datang hingga ke Kurama dengan maksud menziarahinya?”
Noe menggeleng perlahan. “Perkara itu… belum sempat hamba sampaikan. Sejak Himegimi kembali dari rimba…”
Kalimatnya terhenti. Pandangan Noe turun sesaat, seakan ia sedang mencari kata yang cukup halus untuk sesuatu yang bahkan belum sepenuhnya dapat dipahaminya sendiri.
“…ada sesuatu yang berubah pada dirinya.”
Ia menarik napas pelan.
“Seolah-olah… hati dan jiwanya tidak lagi menetap sepenuhnya di tempat ini.”
Untuk pertama kalinya sejak percakapan itu dimulai, Eji tidak segera menjawab. Namun ia pun tidak menunjukkan keterkejutan. Justru ketenangan itulah yang membuat wajahnya tampak seolah menyimpan sesuatu yang lebih dalam daripada yang hendak diperlihatkannya.
Noe memandang ke arah rumpun bambu.
“Dan hamba merasa…” katanya lagi, lalu berhenti sejenak sebelum meneruskan, “esok hari, Himegimi akan kembali menapaki jalan itu.”
Tatapan Eji berubah, meskipun hanya sesaat.
“Ke dalam rimba Kurama,” lanjut Noe. “Untuk berjumpa dengan pemuda itu… sekali lagi.”
Sesudahnya, tidak ada jawaban.
Angin melewati rumpun bambu, membawa suara dedaunan yang saling bergesekan di kejauhan. Tanzaku yang terikat pada batangnya bergerak perlahan, seakan hendak terlepas, tetapi ikatan yang menahannya tetap bertahan.
Eji hanya menundukkan wajah sedikit. Rautnya tetap tenang, nyaris tanpa perubahan, seakan perkataan Noe tadi tidak membawa arti yang perlu diperlihatkan melalui wajahnya.
“Demikiankah kiranya…”
Ia berhenti sebentar.
“Jika demikian… bukankah sebaiknya engkau mempersiapkan apa yang kiranya diperlukan Himegimi untuk perjalanan esok?”
Noe tidak bertanya lagi. Ia merapikan ujung pakaiannya dan menundukkan kepala dengan hormat.
“Kalau begitu, hamba akan mengundurkan diri lebih dahulu. Esok pagi Himegimi akan berangkat kembali, dan masih ada beberapa barang yang harus dipersiapkan serta dibawa bersama beliau.”