Bandung, September 2001
Di sebuah stasiun radio, seorang wanita berperawakan mungil tampak duduk berhadap-hadapan dengan seorang penyiar wanita yang tampak semangat memberikan pertanyaan-pertanyaan kepada lawan bicaranya. Biarpun udara yang dihasilkan mesin pendingin cukup membuat badan sedikit menggigil, suasana tampak santai. Sesekali ia membetulkan letak kaca matanya yang tampak kebesaran.
“Kabarnya sudah ada rumah produksi yang tertarik untuk membuatkan film dari novel Mba Amar ini ya?” tanya sang penyiar.
“Iya betul,” jawab Amar menggangguk-angguk.
“Wah, novel Mba Amar sebelumnya kan jadi best seller dan dibuatkan film juga. Apa sih rahasia suksesnya?”
“Mmm..terus berusaha ya. Jika gagal jangan putus asa. Tentu saja banyak berdoa.”
“Oke. Sebelum kita cerita lebih lanjut soal filmnya, ada penelpon lagi nih, Mba Amar.”
“Ya halo?”
“Halo..?” suara disebrang sana menjawab.
“Rina dari Jakarta.”
“Apa pertanyaannya, Mbak Rina?”
Belum sempat si penelpon menjawab, Amar tertegun, berusaha menyembunyikan ekspresi terkejut di wajahnya. Ia kenal betul suara itu. Penyiar mengulang pertanyaannya.
“Ya Mbak Rina?”
“Mmm, saya udah baca novelnya. Saya suka sekali. Karakter Lusia itu berdasarkan kisah nyata atau fiksi?”
Amar terdiam. Ia tahu betul siapa si penelpon. Bayangan wajahnya langsung muncul dalam benaknya.
“Bagaimana Mba Amar? Apakah karakter Lusia dalam novel anda ini berdasarkan karakter nyata?” ulang sang penyiar.
Amar tersadar dan menggeleng. Tampak gugup, ia mengacak-acak rambut pendeknya.
“Bukan. Itu hanya fiktif. Beruntung saya tidak punya teman seperti itu.”
Belum sempat berkomentar, si penelpon sudah menutup telponnya.
“Halo? Wah terputus. Oke mba, sekarang bisa ceritain gimana tuh mulanya ketemu produser film?”
Amar berusaha mengulas senyum walau kejadian tadi masih membuatnya terkejut. Ia ingin wawancara di stasiun radio ini cepat berakhir. Tapi sayang, ia masih harus menunggu beberapa menit lagi. Rasa dingin yang tadi menjalari tubuhnya berubah cepat menjadi rasa panas. Dendam yang dulu sudah dibuangnya tiba-tiba muncul kembali. Peluh sudah membasahi dahinya yang putih mulus. Selanjutnya, ia menjawab pertanyaan demi pertanyaan dengan jawaban sesingkat mungkin.
Xxx
Amar duduk termenung di lobi menunggu jemputan yang tak kunjung datang. Seorang gadis mendekatinya dan Amar cepat-cepat beranjak.
“Pak Komar dah sampe?” tanyanya pada gadis itu.
Yang ditanya menggeleng.
“Belum Mbak, tadi saya nelpon katanya bannya kempes. Jadi ditambal dulu. Eh Mbak, ada yang mau ketemu.”
“Aduh aku lagi males ngobrol nih. Kamu bukannya bilang saya udah pulang aja.”
“Katanya temen lama Mba Amar.”
“Siapa?”
“Namanya Radit.”
Amar yang sedang meneguk teh hangatnya tersedak.
“Kok kaget gitu Mba?”
Radit? Raditya Dwijantoro?
“Radit siapa?” tanya Amar sambil mengibas-ngibaskan noda teh yang menempel di bajunya.
“Ya Nira ga nanyalah nama panjangnya, Mba. Eh tapi mukanya mirip sama gitaris band itu, cakep.”
Jantung Amar berdegup lebih kencang. Ternyata benar si Radit, batinnya.
“Mbak?”
“Iya iya..mmm, tolong bilang ke dia tunggu sebentar,” jawab Amar buru-buru pergi ke toilet. Amar berusaha menenangkan diri. Ia memandang wajahnya di cermin.
Kenapa tiba-tiba ada orang ini ? Mau apa dia kesini? Ya ya ya, baru ingat, bandnya manggung tadi pagi di Lapangan Gasibu, entah acara apa. Amar sudah bertahun-tahun melupakannya. Tapi sejak ia menjadi pemain band terkenal, bayangan Radit mulai mengganggunya lagi. Kenapa dia bisa tahu aku ada wawancara disini? Oh Tuhan, sudah berapa tahun aku tidak bertemu dengannya, apakah aku sanggup? batinnya.
“Mba..temennya udah duduk di lobi tuh,” tiba-tiba Nira muncul dari balik pintu.
“Iya iya bentar..,” ujar Amar sedikit kesal.
Amar mengumpulkan keberanian dan berjalan cepat menuju lobi. Detak jantungnya yang sudah normal kembali bergerak cepat ketika ia melihat Radit sedang berdiri membelakanginya sambil memandang keluar jendela.
Radit tentu saja sudah banyak berubah sejak terakhir Amar bertemu dengannya belasan tahun yang lalu. Memang Amar terkadang melihatnya di tv, tapi penampilannya jauh berbeda. Rambutnya tidak gondrong lagi. Memakai kaos hitam dan jeans ketat dengan sepatu converse, Radit tampak lebih muda dari umurnya. Tiba-tiba Radit berbalik, menangkap basah Amar yang terpaku memperhatikannya. Amar buru-buru menyapa Radit.
“Hai Dit…”
Radit tersenyum sambil mengulurkan tangannya. Wajahnya masih saja putih mulus seperti anak- anak. Amar membalas uluran tangan Radit dan mempersilahkannya duduk.