Kembang-kembang Distorsi

Cetra Aditya
Chapter #2

Masa-masa Sekolah #2

Jakarta, tahun 1992

 

Di sudut ruang kelas yang panas, gadis berseragam putih abu-abu itu duduk sambil bertopang dagu. Alih-alih menyimak pelajaran matematika yang sedang diterangkan Bu Tuti , matanya sibuk memandang kesibukan di luar gedung sekolah. Beruntung kelasnya terletak di lantai dua dan ia duduk dekat jendela, jadi ia bisa melihat aktivitas orang-orang yang lalu lalang. Sesekali ia menguap dan melirik jam dinding. Duh lama amat ya? batinnya kesal.

 

Mata gadis itu menyapu ruang kelas. Ia menangkap basah dua perempuan teman kelasnya yang duduk di baris tengah sedang bisik-bisik melihat ke arahnya. Mereka tampak kaget dan buru-buru mencatat.

 

Dasar tukang gosip. Kecentilan, gerutunya dalam hati.

 

“Amar? Sudah selesai melamunnya?” suara keras Bu Tuti membuat Amar hampir tersedak.

 

“Ibu harap kamu mencatat ya. Biar ulangan kamu ga jeblok lagi. Kalau mau pinter, ya harus rajin. Emangnya pinter datang dari langit?”

 

Amar mengangguk dan tersenyum kecut. Dari sudut matanya, ia melihat dua teman kelasnya tadi tersenyum mengejek. Bu Tuti memang terkenal paling galak di sekolah Amar, SMA 4. Kemudian Bu Tuti membagikan hasil ulangan minggu lalu.

 

Amar tampak kecewa melihat angka 5,0 di kertas ulangannya. Ia langsung

membayangkan wajah ibunya yang menyeringai galak.

 

Tak lama bel pun berbunyi. Gadis itu membereskan buku-buku yang

berserakan dimeja dan bergegas keluar kelas.

 

***

 

Mendung mulai menggelayut hari yang masih siang. Langit yang kelabu sepertinya mengikuti perasaan Amar yang sedang gundah gulana. Gadis itu berjalan pelan menuju kantin sekolah. Angin menerpa rambut panjangnya yang memang selalu acak-acakan.

 

Biarpun jam pulang sekolah, kantin masih saja ramai. Amar memandang sekeliling. Yang dicarinya belum muncul.Ia mengambil tempat di bangku panjang paling ujung. Beberapa kakak perempuan kelas tiga memandangnya dari ujung rambut sampai ujung kaki. Mereka berbisik-bisik kemudian cekikikan ketika mata mereka tertuju pada kaos kaki warna hitam dan sepatu all-star hitam Amar.Yang dipandang pura-pura cuek dan memesan soto ayam. Sebetulnya ia merasa tidak nyaman saat ini. Kenapa sih di sekolah ini banyak yang suka memandangnya kemudian tertawa sinis? Memangnya aku ini mahluk luar angkasa? Ga bisa deh liat orang seneng, gerutunya dalam hati.

 

Seorang gadis cantik berambut panjang, berkulit putih dan tinggi semampai menghampiri Amar. Akhirnya yang ditunggu-tunggu pun muncul juga. Sarah, sahabat Amar. Mereka pertama kali bertemu waktu duduk di kelas satu. Mereka duduk sebangku waktu itu. Sekarang mereka tidak satu kelas lagi.

 

“Sar, kok tumben lama amat. Gua pikir lo dah pulang duluan,” ujar Amar.

 

“Sialan, gua dipanggil ama guru BP. Gua ketauan nyontek,” jawab Sarah.

 

“Lagian…”

 

“Sekali lagi ketauan, gua bisa di skors.”

 

“Ya ampun.”

Lihat selengkapnya