Kembang-kembang Distorsi

Cetra Aditya
Chapter #3

Musik Cadas Sebagai Pelarian #3

Sudah setengah jam Amar duduk bersandar di tempat tidurnya sambil memegang buku pelajaran sejarah. Tetapi matanya sebentar-sebentar melirik jam dinding bergambar Hello Kitty, kemudian poster di sebelahnya. Poster berukuran A2 bergambar tengkorak sedang memegang pistol, bertuliskan “ Iron Maiden. Somewhere In Time”. Tembok kamarnya memang dipenuhi poster dan foto-foto musisi metal favoritnya. Di balik pintu terpampang poster Jon Bon Jovi berukuran pintu itu sendiri. Selain itu, pernak pernik berupa Hello Kitty ikut menghiasi peraduannya yang berantakan.

 

Amar membuka pintu kamar pelan-pelan. Kepalanya mendongak keluar. Matanya menuju jendela kamar Ibu yang ternyata sudah gelap. Kemudian ia mengambil tas, mencium poster Bon Jovinya dan keluar dari kamar sambil berjingkat-jingkat.

 

Biarpun ini malam minggu, Amar sedang kena hukuman tidak boleh pergi karena minggu lalu pulang lewat tengah malam. Tapi berhubung ia ingin sekali menonton band The Crash, band thrash metal yang cukup disegani di kalangan band underground, ia nekat.

 

Ruang tamu tampak gelap. Amar melihat sekeliling. Setelah ia yakin ibunya memang sedang tidur, Amar berjingkat-jingkat lagi menuju dapur bagai pencuri yang hendak beraksi. Tiba-tiba ia dikagetkan oleh suara Pak Parto yang hendak ke kamar kecil.

 

“Lho, mau kemana, Neng?”

 

“Sttt, jangan berisik, Pak. Ibu ntar bangun. Aku mau pergi sebentar sama Sarah. Ada buku saya yang ketinggalan di rumahnya,” bisik Amar.

 

“Oh..begitu. Baiklah, Neng.”

 

Kemudian Amar keluar dari pintu gerbang. Di luar sebuah mobil sedan sudah menunggunya. Sarah dan Desia yang berada di dalam mobil itu.

 

“Untung aja, kalo 10 menit lagi lo ga keluar juga, kita udah pergi duluan,” kata Sarah.

 

“Untung banget ibu gua tidur cepet.”

 

Kemudian Sarah langsung menginjak gas.

 

 

Xxx

 

Café de Pub yang tidak terlalu luas dipadati oleh anak-anak muda yang bergaya hampir seragam, memakai kaos sablon band-band metal luar negri, seperti Anthrax, Iron maiden, Metallica dan lain-lain. Jeans ketat yang robek di bagian lutut serta sepatu kets setumit seakan menjadi perpaduan yang sempurna untuk fashion mereka. Beberapa diantara anak-anak itu ada juga yang memakai kemeja flannel kotak-kotak. Banyak juga lelaki berambut berambut gondrong, seperti tidak mau kalah dengan yang perempuan.

 

The Crash sedang beraksi di atas panggung. Penonton yang berdesak-desakan ber- headbanging, gerakan mengangguk-anggukkan kepala, mengikuti irama musik yang bertempo sangat cepat. Kerumunan itu lama-lama bergerak seperti arus yang deras dan Amar ikut terombang-ambing di dalamnya. Ia terbatuk-batuk oleh asap rokok yang sudah berbaur dengan bau keringat. Sebenarnya nyali gadis itu mulai ciut. Amar berusaha keluar dari kerumunan tapi Sarah menariknya kembali.

 

“Ayo nonton di barisan depan,” seru Sarah.

 

“Ga mau ah, gua ke belakang aja,” Amar melepas genggaman Sarah dan berusaha menerobos kerumunan penonton.

 

Sebelum Amar sempat mencari tempat yang agak lowong, tiba-tiba beberapa penonton saling menabrakkan diri mereka sambil berputar putar. Salah satu dari mereka menabrak Amar dan gadis itu terjatuh. Beberapa perempuan yang ada didekat situ bukannya membantu malah tertawa cekikikan. Amar memandang mereka kesal. Biarpun lampu penerangan di dalam café hanya remang-remang, ia mengenali wajah mereka, yang sering juga menonton acara-acara musik metal.

 

Amar berjalan ke pojok ruangan sambil matanya mencari Desia, yang sejak tadi menghilang entah kemana. Tetap tidak kelihatan. Padahal dia yang mengajak Amar dan Sarah kesini.

 

Amar memperhatikan aksi vokalis The Crash diatas panggung. Berwajah indo dan berbadan tegap. Namanya Vicky, teman les Inggris Desia. Desia berniat mengenalkannya pada Amar dan Sarah. Desia memang sering menceritakan tentang Vicky, bagaimana keren dan asiknya dia. Tetapi mata Amar lebih tertarik pada pemain gitarnya. Mukanya putih bersih, berhidung mancung, rambut hitamnya bergelombang sebahu, memakai flannel abu-abu hitam. Ia memainkan gitarnya dengan tidak banyak bergerak. Ganteng juga, batin Amar.

 

“Thank you, good night,” seru Vicky sambil tersenyum kepada penonton.

 

Oh, sudah selesai? Padahal masih ingin menikmati wajah si gitaris.

 

Desia menepuk pundak Amar dari belakang, membuyarkan lamunan gadis itu.

 

“Dari mana lo?”tanya Amar.

 

“Ketemu temen. Yuk, kita ke backstage aja,” ujar Desia. Amar mengangguk dan mengikuti Desia. Sesampainya di pintu backstage, ternyata Sarah sudah berdiri disitu. Tiba-tiba suara berat mengagetkan mereka.

 

“Desia, ngapain lo di luar? Masuk ,” teriak Vicky.

 

Desia pun memasuki ruangan diikuti oleh Amar dan Sarah. Amar yang memang pemalu merasa risih berada di antara orang-orang yang masih asing. Ia berdiri sedikit menjauh.

 

“Dateng juga lo,” kata Vicky pada Desia. Kemudian matanya tertuju pada Sarah. Cantik amat ni cewe, katanya dalam hati.

 

“Kenalin kenalin. Ini Sarah, bassit gua,” ujar Desia. Sarah mengulurkan tangannya tanpa mengulas senyum. Hatinya yang sekeras batu memang cepat mencium gelagat genit dari pria di hadapannya. Alih-alih gede rasa, Sarah malah sebal dipandang seperti itu.

 

“Yang ini, vokalis gua, eh Mar sini dong lo,” kata Desia. Amar mendekat sambil mengulurkan tangannya.

 

“Amar,” ujarnya.

 

“Gua Vicky. Duduk aja. Mau bir?”

 

Ketiga gadis itu langsung menggeleng cepat. Akhirnya Vicky memberikan air mineral

Lihat selengkapnya