Amar membaca surat di tangannya sekali lagi. Seakan-akan jika dibaca berulang-ulang akan mengubah berita buruk yang disampaikan itu menjadi kabar baik. Isinya berupa surat pemberitahuan bahwa cerita pendek yang ia kirim untuk majalah Ceria ditolak. Ia tidak habis pikir apa yang salah dengan cerita yang ia tulis. Ini sudah ke tiga kalinya cerpennya dikembalikan. Penolakan ini membuatnya putus asa. Gadis itu merebahkan dirinya di kasur dan berusaha mengusir rasa kecewanya dengan mendengarkan lagu. Kemudian ia teringat bahwa Sarah dan Desia sebentar lagi datang.
Sudah setahun ini Amar membentuk band bersama Sarah, Desia dan Adis. Mereka membawakan lagu-lagu bergenre thrash metal. Musik dengan vokal berat seperti menggeram yang dinamakan growl, beat yang cepat dan raungan distorsi gitar. Setelah sering latihan, tapi mereka belum berani untuk unjuk gigi di atas panggung. Apalagi Amar, rasa kurang percaya dirinya selalu saja menghalangi untuk berbuat lebih maju. Sarah seringkali jengkel pada sahabatnya yang satu ini. Dia selalu bilang, kalau ga dicoba gimana mau maju.
Vicky sudah dipastikan akan membantu mereka agar dapat manggung bersama band The Crash bulan depan. Amarpun bergidik. Bagaimana ini? batinnya. Apakah aku sanggup melakukannya? Ia mengeluarkan suara growl. Dan ia terbatuk-batuk. Kata-kata Desia yang sering menyakitkan terngiang-ngiang.
“Masih kurang powerful suaranya. Kalo nyanyi dari perut dong, bukan dari tenggorokan. Lo latian ga sih?”
Padahal menurut Amar, suaranya sudah cukup oke. Ga ada yang protes kecuali Desia. Sahabatnya itu memang sangat berambisi untuk menjadi pemain band, dan menurutnya, supaya lebih mencuri perhatian, semua anggotanya harus perempuan. Tentu saja mereka memilih thrash metal karena mereka memang menyukai genre lagu itu. Selain itu, memainkan jenis musik ini akan tampak keren dan tidak biasa. Beda dengan lagu-lagu pop cengeng yang bikin sakit kuping.
Kemudian ia menyanyi sambil mematut-matut dirinya di depan kaca rias. Membayangkan dirinya bernyanyi diatas panggung dan dielu-elukan oleh penonton.
Pintu diketuk, membuyarkan lamunan Amar.
“Masuk,” ujar Amar.
Sarah dan Desia masuk sambil membawa gitar dan bass.
“Eh lo kok ga bilang ada nyokap lo sih?” kata Sarah berbisik.
“Iya, dia tadi nanya, ngapain tuh bawa-bawa gitar. Katanya mau belajar,” ujar Desia.
“Masa? Iya kan jadwal kerjanya dia ga tentu. Gua ga tau kapan dia di rumah, kapan dia ngurusin konveksinya.”
Sarah dan Desia saling pandang.
“Udah cuek ajalah. Kalo berisik paling pintu di gedor,” kata Amar terkekeh.
Desia mengeluarkan gitar ber merk “Prince” dari bungkusnya. Kemudian ia menyolokkan kabel gitar itu ke ampli kecil.
“Gua ada lagu baru nih,” ujarnya sambil menyetem gitarnya yang masih terdengar fals.
Setelah kuncinya terdengar tepat, Desia mulai memainkan riff-riff berdistorsi. Jari-jarinya yang lentik dan panjang menari-nari di antara fret gitar hitamnya. Amar mengagumi permainan Desia. Suara yang dihasilkan dari gitarnya terdengar begitu sempurna. Tapi Amar tidak pernah memujinya secara langsung karena Desia suka besar kepala.
“Gimana? Oke kan?” tanya Desia.