Suasana di belakang panggung Café de Pub tampak semrawut. Banyak orang berseliweran. Amar memilih duduk di pojok ruangan sambil pura-pura membaca buku. Padahal ini dilakukannya untuk menutupi kegugupannya yang tidak hilang juga sejak tadi. Mana bisa ia konsentrasi membaca pada saat-saat genting seperti ini. Memandangi sepatu all-star bututnya terus menerus juga tidak membuatnya jadi nyaman. Mereka akan tampil setelah dua band lagi. Ia tidak mempedulikan Desia yang tampak sibuk memakai bedak.
Dandanan Desia tampak berbeda dari biasanya. Memakai tank top hitam ketat, dipadu dengan flanel kotak-kotak merah hitam. Celana jeansnya pun lebih ketat dari biasanya. Ia menghampiri Amar.
“Eh sisiran dulu dong, masa rambut berantakan amat,” kata Desia sambil menyerahkan sisir pada Amar. Amar menolak.
“Lo ga ganti baju?” tanya Desia lagi.
“Emang kenapa sih? Gua ga mau pake baju kaya elo, udelnya keliatan. Yang bener aja,” Amar sewot.
“Masa pake kaos Iron Maiden doang? Pake flanel lo yang merah item gih.”
“Ga bawa.”
“Ya ampun.”
Desia buru-buru mengambil flanel kotak-kotak hitam putih didalam tasnya.
“Lo pake punya gua nih.”
“Udah pake ajalah. Keren tuh flanelnya,” kata Sarah
.
Sarah hanya memakai kaos putih dan celana jeans yang robek di kedua lututnya. Desia tidak begitu mempedulikan gaya Sarah karena didandani seperti apapun ia akan tetap terlihat cantik.
“Eh Adis mana? Kayanya dari tadi dia menghindar terus ya,” gerutu Desia.
Kemudian dia meninggalkan Amar dan Sarah.
“Nyari korban lagi tuh,” kata Amar tertawa.
“Eh gua males deh sama si Vicky itu, sok akrab,” bisik Sarah. “Tadi aja dia nyetem bass gua tanpa diminta. Emangnya gua ga bisa?”
“Yah dia kan temennya Desia. Emang dia bermaksud nolong kali ah, ” kata Amar.
Padahal dalam hati ia memang melihat bahwa Vicky mencoba mencari perhatian Sarah. Amar langsung kasian pada Vicky. Jika memang ia mau mendekati Sarah, mungkin nasibnya akan sama dengan laki-laki lain, ditolak. Amar menggelenggelengkan kepalanya.
Tak lama Desia muncul bersama Adis.
“Adis didandanin apa, Des?” goda Amar.
“Gua kan maen drum. Panas kali pake flanel. Aku pake lipstick aja ya?” kata Adis pada Desia yang cemberut.
Vicky menghampiri mereka.
“Eh siap-siap kata panityanya. Kalian abis ini kan,” ujarnya. Tangan Amar langsung gemetar. Keringat dingin mengucur.
“Aduh..gua sakit perut nih,” ujarnya.
“Aku juga takut nih. Tapi yah coba dibikin santai aja,” kata Adis menenangkan. Ia mengetuk-ngetukkan stik drum di kedua pahanya.