
Angin semilir Jakarta Pusat menyambut langkah Fathan Ar Rimbai yang masih mengenakan sepatu sneakers edisi terbatasnya. Di sampingnya, Sarah Amanda—gadis pemandu dari Ar Rimbai Creation yang sejak pagi tak berhenti menggelengkan kepala melihat kepolosan sang anak konglomerat—berjalan dengan langkah sigap.
═━═━═━═ Kembar Rasa ═━═━═━═
Adegan I: Kristal yang Tercekik di Langit Lantai Enam Puluh Delapan
(Jumat Malam, Pukul 23.15 WIB — Penthouse Menara Ar Rimbai, Thamrin, Jakarta Pusat)
🍜 🍲🍧
Di ketinggian dua ratus lima puluh meter di atas aspal basah Jalan M.H. Thamrin, udara tidak berbau asap knalpot metro mini atau gorengan gerobak trotoar. Udara di lantai enam puluh delapan ini berbau parfum ambergris sintetis seharga tiga puluh juta sebotol, bercampur desis pendingin ruangan sentral yang terlalu steril hingga membekukan pori-pori.
Lampu kristal Baccarat raksasa menggantung bagai sarang laba-laba raksasa dari langit-langit marmer Carrara, membiaskan cahaya ke ratusan gelas sampanye non-alkohol bersertifikat halal Belgia yang berkilauan hampa. Di sekeliling ruangan, tawa para komisaris, menteri purnawirawan, dan selebritas kurator saham berdengung seragam—sebuah paduan suara kemunafikan yang terlatih sempurna.
Dan tepat di episentrum kemewahan yang mencekik itu, berdirilah Fathan Ar Rimbai.
Tuksedo sutra Italia rancangan penjahit Savile Row membungkus tubuh atletis pemuda dua puluh lima tahun itu bagai baju zirah abad pertengahan yang sempit. Di tangan kanannya, ia memegang cangkir porselen Limoges berisi Kopi Emas 24 Karat. Biji kopi Geisha Panama terbaik yang diseduh presisi dengan metode siphon, lalu ditaburi serpihan emas murni edible yang berkilau di bawah lampu sorot.
Fathan menyesapnya perlahan. Matanya menyipit bukan karena takjub, melainkan karena rasa muak yang telah membusuk di dasar lambungnya selama bertahun-tahun.
"Bagaimana rasanya, Fathan? Eksklusif, bukan? Itu kopi yang diminum para syekh di Dubai," bisik Tuan Brata Ar Rimbai, ayahnya, yang melangkah mendekat dengan langkah berat seorang pria yang terbiasa membeli regulasi dan memecat ribuan buruh hanya dengan goresan pena Montblanc.
Fathan menatap pantulan wajahnya sendiri di genangan hitam kopi bermahkota serbuk emas itu. "Kopi ini dibanderol dua setengah juta rupiah secangkir, Pa. Tapi di tenggorokan rasanya persis seperti mengisap lempengan baterai arloji karatan. Pahitnya dingin, serpihan emasnya terselip di sela gigi geraham seperti kawat jemuran, dan aroma kopinya mati diinjak pretensi."
Tuan Brata mendengus dingin, memutar cincin zamrud Colombia di kelingkingnya dengan gerak mekanis. "Jangan bersikap seperti seniman kelaparan di pesta ulang tahunmu sendiri. Dua ratus orang terkuat di republik ini hadir untuk melihat calon pewaris Ar Rimbai Group, bukan pelawak kedai kopi yang merengek soal rasa!"
Retrospeksi menikam dada Fathan tanpa ampun. Sepuluh tahun silam, di rumah kontrakan beratap seng di pinggiran Palmerah sebelum Ar Rimbai Group menjadi raksasa real estat dan pangan, ibunya selalu menyeduh kopi tubruk dalam cangkir blirik kaleng sompel. Kopi itu hanya diberi pemanis gula aren kelapa yang dipotong kasar, disajikan bersama pisang tanduk goreng panas. Tak ada emas di sana, tapi ada kehangatan yang membuat seorang bocah merasa dunia adalah tempat yang aman untuk dihuni. Sejak ibunya tiada dan ayahnya menumpuk triliunan rupiah, rasa hangat itu tak pernah kembali. Rumah mereka kini hanyalah museum marmer yang beku.
═━═━═━═ Kembar Rasa ═━═━═━═
Adegan II: Sandiwara Mutiara, Taruhan Gila, dan Saklar Gelap
(Pukul 23.45 WIB — Ruang Jamuan Utama Menuju Lorong Servis Barat Penthouse)
🍜 🍲🍧
Di meja prasmanan perak murni, seorang koki bintang dua Michelin asal Lyon sedang menata hidangan penutup pesanan khusus Tuan Brata: Aloe Vera Gel Glacée en Feuille d'Or—gel lidah buaya organik Selandia Baru berlumur jeli madu manuka dan lembaran emas murni.
Fathan meletakkan cangkirnya dengan dentang kristal yang cukup keras untuk membelah obrolan tentang merger telekomunikasi di meja sebelah.