Mendarat di Banda Aceh dengan dua koper desainer dan arogansi metropolitan yang rapuh, Fathan Ar Rimbai berhadapan dengan Cut Meurah Zahrina—barista tangguh sekaligus pemandu berprinsip baja dari Ar Rimbai Creation. Merasa harga dirinya diuji, Fathan menantang nasib dengan memesan Mie Aceh Kepiting Rempah level 10 di kedai legendaris Ulee Kareng. Hasilnya adalah bencana rasa yang menggelikan sekaligus magis: sang pewaris konglomerat sujud di lantai kedai meminta belas kasihan rempah, sebelum diselamatkan oleh tarikan teko Kopi Sanger dingin dan usapan sapu tangan bersulam Pintu Aceh yang menyibak luka masa lalu.
═━═━═━═ Kembara Rasa ═━═━═━═
ADEGAN 1: DENTING MONOGRAM DI PINTU GERBANG SERAMBI
Ketika koper desainer beradu dengan ketajaman lidah barista Tanah Rencong. Lokasi: Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda, Blang Bintang | Waktu: Pukul 14.15 WIB — Siang Terik Berangin Pesisir
🍜 🍲🍧
Hawa panas Blang Bintang menyengat tanpa basa-basi begitu Fathan Malik menjejakkan kaki di pelataran kedatangan Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda. Angin pesisir yang bertiup kencang mempermainkan kerah kemeja linen berpotongan slim-fit miliknya, menebarkan wangi parfum bergamot mahal yang langsung kalah telak oleh aroma tanah basah dan desau rumput ilalang khas tanah Serambi Mekkah. Di belakangnya, dua koper monogram berlapis kanvas bermotif geometris beroda empat berderit pelan—aset bernilai puluhan juta rupiah yang ia seret dengan kewaspadaan setingkat prajurit mengawal kotak amunisi.
Di balik kacamata hitam berbingkai tanduk penyu, mata Fathan berdenyut tegang. Kunjungan ini bukan liburan berpelesir. Ini adalah vonis gantung bersyarat yang dijatuhkan ayahnya di ruang kerja berlantai marmer di kawasan Sudirman dua malam lalu: "Kalau dalam sepuluh hari ekspedisi Sumatera ini kamu tidak mampu memetakan rantai pasok kuliner otentik dari hulu ke hilir, jangan pernah bermimpi menyentuh divisi ekspansi nasional." Kalimat dingin itu berdengung seperti lebah parasit di telinganya, menuntut pembuktian dari seorang anak bungsu yang sepanjang hidupnya selalu dicap anak manja yang hanya pandai menghabiskan dividen.
"Bung Fathan Malik?"
Suara serak-basah bernada tegas itu memotong lamunan batinnya. Fathan menoleh dan mendapati sesosok perempuan berdiri bersandar santai di pilar beton bandara. Ia mengenakan jaket parka kanvas hijau zaitun dengan bordir kecil bertuliskan *Ar Rimbai Creation*, celana kargo pudar, dan sepatu bot kulit cokelat yang jelas telah kenyang menelan lumpur pegunungan. Rambutnya dikuncir ekor kuda tinggi di bawah bandana hitam, membingkai sepasang mata cokelat madu yang memancarkan ketajaman elang pemangsa.
"Cut Meurah Zahrina?" Fathan mencoba memasang senyum diplomatis terbaiknya sambil mengulurkan tangan. "Pemandu yang ditunjuk kantor pusat untuk mendampingi saya?"
Gadis itu tidak langsung menyambut uluran tangannya. Pandangannya justru turun perlahan, menyapu ujung sepatu pantofel Fathan yang berkilap tanpa noda, lalu berhenti tepat di dua koper raksasa bertumpuk yang tampak seperti menara gading berjalan.
Sudut bibir Cut Meurah terangkat, membentuk seringai tipis yang sarat cemoohan halus. "Dua koper seukuran lemari pakaian untuk survei tiga hari? Anda ini mau riset kuliner ke pelosok pedalaman, atau mau membuka butik peragaan busana di dermaga nelayan Ulee Lheue, Bung Fathan?"
Fathan tersedak udaranya sendiri, buru-buru menarik tangannya. "Ini perlengkapan kerja esensial. Perangkat analisis rasa portabel, busana representatif untuk audiensi dinas pariwisata, dan—"
"Dan parfum anti-nyamuk aroma vanila impor?" potong Cut Meurah tanpa ampun, seraya mengibaskan tangannya ke arah mobil Taft lawas 4x4 berpelat BL yang terparkir serong di bawah pohon ketapang. "Koper Anda tidak akan muat di bagasi belakang bersama drum minyak kelapa murni dan keranjang contoh biji kopi Gayo saya. Angkat sendiri ke kursi belakang. Di Aceh, Bung, kami tidak menyediakan pembantu untuk pemuda yang masih punya dua lengan utuh."
Fathan menggertakkan rahangnya. Egonya yang terbiasa dilayani pramutamu hotel berbintang lima kini melepuh di bawah tatapan gadis berpostur ramping namun berotot kawat itu. Dengan napas terengah dan punggung menegang, ia terpaksa mengangkat sendiri koper mahalnya ke kabin jip yang berbau campuran tembakau cengkeh dan bubuk kopi sangrai.
--- Dialog Kunci ---
Cut Meurah Zahrina: "Di tanah ini, martabat manusia diukur dari seberapa tegak punggungnya menatap badai, bukan dari berapa digit angka di kuitansi kopernya."
(Menanggapi keluhan Fathan tentang debu landasan yang menempel pada koper mahalnya.)
═━═━═━═ Kembara Rasa ═━═━═━═
ADEGAN 2: PERTARUHAN NYAWA DI KEDAI ULEE KARENG
Aroma sangrai arang, kepiting ungu mangrove, dan kobaran 16 rempah kari. Lokasi: Kedai Kopi Tradisional & Dapur Mie Aceh, Kawasan Ulee Kareng | Waktu: Pukul 16.30 WIB — Sore Riuh Berselimut Uap Mendidih
🍜 🍲🍧
Kedai kopi di simpang Ulee Kareng itu berdenyut bagai jantung purba yang tak pernah berhenti memompa kehidupan. Bunyi denting cangkir porselen tebal bercorak bunga melati beradu dengan sendok timah, ditingkahi deru riuh percakapan politik bapak-bapak berkopiah beludru hitam dalam bahasa Aceh yang meliuk-liuk cepat. Dari balik meja peracik, ketel tembaga berleher angsa raksasa mengepulkan uap putih harum, menari bersama aroma robusta sangrai mentega yang berakar pekat di setiap pori-pori dinding papan kedai.
Namun di sudut beratap seng tempat kuali besi raksasa bertahta, sebuah perangkap rasa sedang membara. Koki bertubuh tambun dengan lilitan handuk di leher tampak mengayunkan sutil besi dengan ketukan berirama. Di dalam kuali, minyak kelapa mendesis ganas saat enam belas bumbu kari giling basah diceburkan bersamaan: kapulaga India yang merekah wangi, bunga lawang, jintan manis, kas-kas, cengkeh hutan, ketumbar sangrai, kemiri giling, serta gundukan cabai merah keriting dan rawit giling yang warnanya semerah darah naga.
Seekor kepiting bakau segar berleher ungu kehitaman dari hutan mangrove Ulee Lheue dihempaskan ke kancah bumbu. Capitnya yang kekar merona oranye keemasan seketika terbungkus pasta kari pekat yang bergolak kental bagai lava kawah Seulawah Agam.
"Duduklah di bangku kayu itu kalau tidak mau tersiram minyak," ujar Cut Meurah santai sambil memesan dua cangkir kopi kepada pelayan tanpa memandang buku menu. "Untuk orang kota yang lambungnya terbiasa sereal oat dan susu almond manis, saya sarankan kamu pesan Mie Aceh goreng kuah basah level nol. Bumbunya cukup rempah biasa saja, jangan coba-coba bunuh diri."
Fathan yang duduk di hadapannya merasa seolah martabat kelelakiannya sedang diiris tipis-tipis di depan puluhan pasang mata pengunjung kedai. Di kantor ayahnya, ia terbiasa memimpin rapat dewan komisaris dengan bahasa Inggris yang fasih; bagaimana mungkin ia harus bertekuk lutut di hadapan sepiring mi kuning pedesaan?
"Level nol?" Fathan tertawa sumbang, melipat lengan kemejanya hingga ke siku untuk memperlihatkan jam tangan kronograf Swiss miliknya. "Cut, dengar baik-baik. Saya bukan anak mami yang alergi lada. Saya pernah mencicipi habanero di Cancun dan kari terpedas di distrik Brick Lane London. Koki! Buatkan saya Mie Aceh Kepiting Rempah level sepuluh! Ekstra bumbu kari, cabai rawit utuh dirajang dua kali lipat!"
Koki kedai menghentikan ayunan sutilnya sejenak. Matanya membulat menatap Fathan, lalu melirik Cut Meurah dengan tatapan bertanya apakah pemuda kota ini sedang waras atau kerasukan jin laut.