Kembara Rasa

Amrullah Ibrahim
Chapter #3

Goyang Lidah Soto Medan

Pertemuan dua kutub di bawah terik Deli: Fathan, eksekutif kaku yang hidup dalam sangkar kontrol Jakarta, bertubrukan dengan Tiurma Siregar, nona Batak berlidah tajam yang mengajarkan bahwa di Medan, hidup harus dinikmati tanpa rem.

═━═━═━═ Kembara Rasa ═━═━═━═


=== Adegan 1: Dentum Klakson dan Sengatan Terik Stasiun Medan ===

Lokasi: Pelataran Pintu Keluar Stasiun Kereta Api Medan, Lapangan Merdeka. Waktu: Sore hari menjelang senja, pukul 16.45 WIB

🍜 🍲🍧

Panas Kota Medan tidak pernah meminta izin. Ia menyergap seketika dari sela uap lokomotif bandara Kualanamu yang baru berhenti, menghantam paru-paru Fathan Dirgantara bersama kepulan asap kretek, aroma tajam durian montong dari pedagang emperan, dan dengung ribuan klakson yang bersahut-sahutan di sekeliling Lapangan Merdeka.

Fathan menghentikan langkahnya tepat di bawah kanopi baja Stasiun Kereta Api Medan yang bernuansa kolonial. Tangan kanannya mencengkeram erat gagang koper berbahan polikarbonat abu-abu gelap—simbol keteraturan hidup yang dibawanya dari gedung pencakar langit Mega Kuningan. Jas kasualnya masih licin sempurna tanpa sehelai kerut pun, seolah kain itu sendiri menolak untuk berkompromi dengan kelembapan udara tropis Selat Malaka. 

Ia melirik arloji mekanik di pergelangan tangannya. Pukul 16.48. Sesuai dokumen rencana kerja lapangan proyek "Zamrud Pesisir Sumatera", tim penjemput dari kantor cabang Medan semestinya sudah bersiaga dengan kendaraan van ber-AC ganda sejak lima belas menit lalu. Fathan mendesah pelan, merapikan letak kacamata berbingkai titaniumnya. *Keterlambatan,* pikirnya dingin, *selalu menjadi tanda awal dari ketidakdisiplinan moral.*

"TET! TEEET! HOI! MINGGIR KELEN SEMUA! KERAJAAN MAU LEWAT!"

Suara klakson modifikasi berbahan pelat seng membelah kerumunan pejalan kaki seperti petir di siang bolong. Belum sempat Fathan mencerna kekacauan visual di depannya, sebuah moncong sepeda motor tua bercat hijau lumut dengan bak samping beroda tiga—benda yang di Jakarta hanya ia lihat di dokumenter sejarah jalanan—mengerem mendadak tepat tiga jengkal di depan ujung sepatu pantofel kulit anak sapinya.


Bau bensin campur dan oli terbakar membubung pekat.


"Horas, Bos Besar! Bah, tegap kali kulihat kau berdiri macam tugu Lapangan Merdeka! Masih hidup rupanya kau setelah diguncang kereta api cepat itu, hah?"


Seorang perempuan melompat turun dari jok belakang sang pengemudi dengan kelincahan seekor kucing liar. Ia mengenakan jaket denim pudar dengan emblem Ar Rimbai Creation yang dijahit miring di dada kiri, celana kargo loreng gelap, dan sepasang sepatu bot lapangan yang ujungnya berlumpur kering. Rambutnya yang bergelombang tebal diikat kuncir kuda tinggi, bergoyang seirama dengan langkahnya yang penuh dentum percaya diri. Di bibirnya yang dipulas lipstik merah bata tipis, terukir seringai yang entah mengapa membuat bulu kuduk Fathan meremang.

"Kau pasti Tiurma Siregar," ucap Fathan, memaksakan nada suara paling datar dan terkontrol yang bisa ia kerahkan dari rongga dadanya. "Koordinator Lapangan kita. Dan saya berasumsi... benda berasap pekat di depan saya ini bukan 'kendaraan dinas representatif' yang tercantum dalam anggaran operasional pasal empat?"

Tiurma tergelak renyah. Suaranya bukan sekadar tawa biasa, melainkan semburan nada alto yang sanggup meruntuhkan keangkuhan auditorium seminar manajemen.

"Aih, pasal empat katanya! Dengar itu, Bang Ucok!" Tiurma menepuk pundak sang supir bentor yang bertubuh liat dengan topi pet miring dan rokok terselip di telinga. "Tuan Sultan Jakarta kita menanyakan mobil kaleng berpendingin es batu! Bos, kalau kau mau naik mobil kaca di jam pulang kantor Medan ini, sampai jam sembilan malam pun pantatmu cuma bakal melengket di Jalan Raden Saleh! Ayo cepat naikkan pantat ningratmu itu ke bentor Bang Ucok. Hari ini kau kubawa mencicipi denyut jantung Tanah Deli yang asli, bukan udara palsu buatan kompresor!"

"Tiurma, saya membawa dokumen arsip proyek kurasi kuliner berharga ratusan juta rupiah," tolak Fathan kaku, melangkah mundur setengah depa. "Kita panggil taksi resmi. Atau setidaknya kendaraan beroda empat yang memiliki pintu penutup."

"Bah! Jangan banyak merepet kau di stasiun orang, Fathan!" Tiurma tanpa ragu menyambar koper mahal Fathan dengan satu sentakan bertenaga—membuat Fathan terperanjat—lalu melemparkannya santai ke celah sempit di depan dek bentor. "Di Medan ini, kalau kau bicaranya pelan-pelan kayak bisik-bisik tetangga, soto keburu dingin dan cinta keburu disambar orang! Cepat masuk, atau kutinggal kau jadi patung selamat datang di sini!"

═━═━═━═ Kembara Rasa ═━═━═━═


=== Adegan 2: Drag Race Bentor Medan dan Doa Selamat di Tikungan Kesawan ===

Lokasi: Lintasan Jalan Balai Kota menuju Jalan Perniagaan (Kesawan). Waktu: Sore hari, pukul 17.15 WIB

🍜 🍲🍧

Jika ada satu hal yang tidak pernah diajarkan di program magister manajemen bisnis Harvard tempat Fathan menimba ilmu, hal itu adalah: bagaimana cara mempertahankan martabat kemanusiaan saat kau duduk terombang-ambing di dalam bak besi terbuka beroda tiga dengan kecepatan enam puluh kilometer per jam, diapit oleh truk tangki minyak sawit di sisi kanan dan trotoar berlubang di sisi kiri.


"Bang Ucok! Awas itu angkot kuning mau belok patah!" teriak Fathan panik. Suaranya pecah, melesat hilang ditelan raungan knalpot mesin dua-tak yang menjerit seperti gergaji mesin membelah balok jati.

Bukannya menginjak rem, Bang Ucok justru memelintir selongsong gas motornya lebih dalam. Tubuh bentor berderit keras ketika roda samping kiri sempat terangkat dua inci dari aspal saat mereka bermanuver memotong jalur bus antar-kota. Angin sore yang pekat menerbangkan tatanan rambut klimis Fathan hingga berantakan liar menyerupai sarang tempua.

"Gas terus, Bang Ucok! Bos kita ini tahan banting! Jangan bikin malu marga Siregar di hadapan orang kencur Jakarta!" seru Tiurma yang berdiri setengah berpegangan pada tiang kanopi belakang motor, tertawa lepas menyongsong terpaan angin senja. Kemeja jinsnya berkibar, menampakkan leher jenjangnya yang berkilau oleh butir keringat halus.

"Remnya! Bang, remnya blong ya?!" pekik Fathan lagi. Kedua tangannya mencengkeram pipa besi pelindung bentor begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih pasi. Matanya terpejam rapat. Di dalam rongga dadanya, jantungnya berdegup kacau bagai genderang perang Karo. Tanpa sadar bibirnya mulai merapal doa sapujagad dan ayat kursi secara bergantian.

Lihat selengkapnya