Fathan mencoba meniru pelayan Rumah Makan Padang dengan menumpuk belasan piring di sepanjang lengannya demi memikat Siti Rahmah. Tentu saja berakhir dengan atraksi akrobatik yang nyaris menghancurkan piring gulai tunjang, sebelum Rahmah mengajarinya makan pakai tangan dengan tiga jari.
═━═━═━═ Kembara Rasa ═━═━═━═
## Adegan I: Bayang Gonjong dan Sunyi Singkarak
Ketika Kecepatan Metropolitan Berbenturan dengan Keheningan Bukit Barisan. Lokasi: Puncak Silaiang melintasi Danau Singkarak menuju Padang | Waktu: Pagi menjelang siang berkabut tipis.
🍜 🍲 🍧
Angin basah dari lembah Bukit Barisan berhembus menampar kaca jendela mobil yang diturunkan dua jengkal. Di kejauhan, permukaan Danau Singkarak terbentang bagai cermin perak raksasa yang belum tersentuh riak—tenang, angkuh, dan menyimpan rahasia kedalaman yang tak terduga. Di tepi kelok jalan, atap-atap Rumah Gadang bergonjong runcing menjulang ke langit biru pucat, serupa tanduk kerbau pusaka yang merobek kabut tipis sisa fajar.
Fathan menggeser duduknya di kursi penumpang. Tangannya secara refleks mengecek layar ponsel pintarnya untuk kali kelima belas dalam setengah jam terakhir. Nihil sinyal. Kotak kaca persegi itu mati kutu, mengubah dirinya menjadi benda mati tanpa guna. Baginya, ketiadaan notifikasi adalah sebuah bentuk teror sunyi.
Selama lima tahun berkarier sebagai manajer strategi di bilangan SCBD Jakarta, ritme hidup Fathan dikurung oleh metrik kecepatan: kalender daring yang penuh warna merah, dering pesan mendesak dari direksi, dan secangkir espreso ganda yang ditenggak terburu-buru di sela rapat kuartal. Di kota beton itu, siapa yang melambat akan terlindas. Berhenti sejenak berarti mengakui ketertinggalan.
Namun di sampingnya kini, duduk Siti Rahmah dengan selendang berona hijau lumut yang jatuh anggun menutupi bahunya. Jemari gadis itu bertumpu santai di atas pangkuan, memangku sebuah buku catatan bersampul kain tenun Pandai Sikek. Rahmah tidak mengecek ponsel. Napasnya teratur dan matanya menatap lekuk bukit dengan keheningan yang begitu purba.
"Uda Fathan gelisah karena tak ada sinyal, atau cemas karena harus mendengar isi kepala sendiri?" suara Rahmah terdengar lembut, mengalun tanpa pretensi menghakimi, bagai petikan saluang di lereng gunung.
Fathan tersentak kecil, membenahi kerah kemeja linennya yang kusut. "Bukan begitu, Rahmah. Dunia di luar sana bergerak sepersekian detik. Klien-klien saya tak kenal istilah menikmati pemandangan. Menghilang dua jam bisa berarti kehilangan proyek miliaran."
Rahmah tersenyum tipis. Lesung pipit di pipi kirinya muncul sekilas. "Di Ranah Minang, Uda, pepatah kami berbisik: alun takilek lah takalam, bulan lah langkok tigo puluah. Belum berkilat sudah kelam, tahu maksud sebelum terucap. Orang yang terlalu sibuk mengejar kilat sering kali lupa bahwa bumi yang dipijaknya membutuhkan langkah yang berpijak tegak, bukan lompatan yang panik." Gadis itu menoleh, menatap tepat ke manik mata Fathan. "Simpanlah cemas itu sebentar. Perut yang lapar dan hati yang terburu-buru tak akan sanggup mengecap kemuliaan rempah kami."
Fathan menelan ludah. Ada rasa hangat yang aneh menjalari tengkuknya. Di hadapan ketenangan gadis arsiparis budaya ini, deretan pencapaian karier yang selama ini ia banggakan mendadak terasa seringan debu di atas aspal Silaiang.
═━═━═━═ Kembara Rasa ═━═━═━═
## Adegan II: Akrobat Manatiang Piriang dan Tragedi Sepatu Mewah
Uji Nyali Dua Belas Piring di Balik Senyum Sinis Mak Katik. *Lokasi: Rumah Makan Padang Legendaris 'Salero Rimbai', Padang | Waktu: Pukul 12.30 WIB, puncak jam makan siang
🍜 🍲 🍧
Aroma santan mendidih, sangrai kelapa pekat, dan tajamnya cabai hijau menyergap hidung begitu mereka melangkah melewati pintu kayu surian Rumah Makan Salero Rimbai. Suasana di dalam riuh rendah bagai pasar malam. Di balik etalase kaca bertingkat, puluhan piring lauk bertumpuk membentuk piramida kuliner yang menggiurkan. Namun daya pikat sesungguhnya berada di tengah ruangan.
Seorang pria paruh baya bertubuh gempal dengan destar melingkar di kepala—yang dipanggil Mak Katik—melangkah lincah di antara meja-meja pelanggan. Di sepanjang lengan kirinya, tersusun dua belas piring porselen tebal: gulai tunjang berkuah kuning keemasan, rendang hitam, ayam pop berminyak bening, hingga dendeng batokok berselimut cabai merah. Dua belas piring itu bertingkat dan mengunci satu sama lain bagai karya arsitektur tanpa perekat, seimbang sempurna di atas telapak tangan dan pergelangan kurusnya.
"Hebat sekali," gumam Fathan takjub, seraya merapikan ujung celana jin selvedge-nya agar tidak menyentuh lantai. Matanya melirik ke bawah, memastikan sneaker edisi terbatas berharga dua digit jutaan miliknya tetap bersih tanpa noda minyak setitik pun.
"Itu namanya manatiang piriang, Uda," bisik Rahmah seraya menarik kursi kayu jati beralas anyaman pandan. "Bukan sekadar atraksi sirkus pelayan. Itu latihan keseimbangan rohani. Kalau hatimu serakah atau ragu, piring itu tahu ke mana harus jatuh."
Harga diri Fathan terusik. Kata 'latihan keseimbangan' terdengar seperti tantangan baginya yang pernah menjuarai turnamen squash universitas. "Seimbang secara gravitasi saja kan? Pusat massanya tinggal diselaraskan dengan tumpuan lengan. Fisika sederhana."